Harandita merapatkan dirinya ke Agra, matanya terpaku pada rumah di hadapannya, rumah keluarga memiliki konsep yang sangat unik, hampir seluruh bangunan itu terbuat dari ukiran kayu yang memberikan kesan menawan dan estetik, jarak gerbang ke pintu utama rumah itu cukup jauh, Harandita yakin, jika dia berjalan kaki dia pasti akan merasa lelah. Udara alang lebih bersahabat di bandingkan Surabaya. Harandita yakin saat dia terbangun di pagi hari, rasa nyaman dan sejuk akan penyambutnya, matanya akan di majakan oleh pepohonan yang terlihat samar di dalam kegelapan. “Kita kemaleman nggak sih?” bisik Harandita, bagaimana tidak, rumah Agra sangat sepi, pintu rumah itu juga tertutup rapat. “Ini waktu yang pas untuk makan malam, Ra, kita nggak kemaleman sama sekali,” jawab Agra sambil mendorong pi

