Harandita menatap dirinya di pantulan cermin, gadis baru selesai merias wajahnya, tinggal mengaplikasikan lipstick dan memakai kebaya yang menjadi seragam untuk pernikahan Abrisam dan Handini. Setelah sibuk mempersipkan semuanya, akhirnya hari yang di tunggu-tunggu datang juga. Harandita mengembangkan senyumnya. Dia tidak sabar menyaksikan moment bahagia Abrisam dan Handini. Dua orang yang dulu selalu bertengkar kini benar-benar akan berbagi hidup selamanya. Harandita membenarkan sanggulnya, gadis itu kembali menatap pantulan dirinya di cermin saat dia akan memoleskan lipstick ke bibirnya seorang menahan tangannya. Harandita menoleh, dia tersenyum tipis. “Kenapa?” tanya Harandita, dia menatap Agra yang kini duduk di pinggiran meja riasnya, pria itu masih menggenggam tangan Harandita yang

