Suasana pemakaman Alena sangat menyayat hati semua orang. Seluruh keluarga besar sangat terpukul atas kepulangan Alena. Mereka menangis histeris, mengantarkan wanita berparas elok itu ke peristirahatan terakhirnya. Hati Rehan begitu hancur, ia sudah kehilangan satu putrinya. Lelaki itu merasa semua ini salahnya. Dirinya sebagai papa tidak bisa mendidik anak-anaknya dengan adil. Melodi menangis di atas pusara bernama Alena, wanita itu meraung-raung menggenggam tanah yang masih basah. Penyesalan yang dia rasakan seakan mampu membunuhnya detik itu juga. Kesalahan yang sangat fatal. Mengapa ia tidak bisa berlaku adil dengan Alena dan Aileen? Tanpa sadar sikapnya telah membuat kedua putrinya saling membenci dan berakhir dengan kematian salah satunya. "Alena ... putri Mama, kembali, Nak,"

