Rivan bergelung ke sampingku. Ia masih mengatur napasnya yang tersengal-sengal, sama sepertiku. Pandangannya menghadap ke langit-langit kamar dengan kedua sudut bibirnya terangkat. Yang ku tahu kegiatan yang baru saja kami lakukan ini memang mengeluarkan hormon endorfin yang membuat orang merasa senang. Tapi apa rasanya memang semenyenangkan itu? “makasih, udah menjaganya untuk aku.” Tubuh Rivan kembali beringsut ke atasku, ia mencium keningku yang masih mengeluarkan keringat. “Aku menjaganya untuk suami aku.” “tapi aku yang jadi suami kamu.” Ya ya ya terserah deh. Sekarang yang ingin kulakukan adalah tidur, karena seluruh energiku sudah terkuras akibat ‘kegiatan' kami malam ini. Aku harap Rivan tidak meminta sesi berlebih. “kayaknya kamu capek banget, ya sudah langsung tidur.” Iya ak

