"Nurita bangun, sudah mau subuh." Aku merasakan pipiku ada yang menepuk-nepuk. Suara itu juga seperti suara Rivan, tapi mana mungkin? Apa saking rindunya aku jadi berhalusinasi? "Emph.. Dingin..." gumamku, aku semakin mengeratkan pelukan pada guling di sampingku. Rasanya benar-benar nyaman. "Nurita sayang, hey bangun." Aku mencoba membuka mataku, meski berat. Dan yang pertama kali aku lihat adalah wajahnya Rivan. "Ya ampun lama-lama gue bisa gila ini. Masa ngeliat dia di depan mata sih," gumamku. Kemudian kedua mataku terpejam lagi. "Hahaha, aku beneran di depan mata kamu kok. Buka dong matanya." Eh tunggu dulu. Kok bayangan bisa ngomong sih? Seketika mataku terbuka, dan benar saja wajah Rivan yang kulihat sedang tersenyum lebar. "Lah kok mas udah pulang? Katanya lusa baru pulang."

