One Step Closer

2628 Kata
"Nurita?" Rivan terkejut saat melihatku yang bersama dengan pacarnya. "Lo ngapain disini?" Pertanyaan macam apa itu. "Main ice skating lah." Jawabku malas. "Lo ngikutin gue ya? Tadi kan lo yang modus biar kita ketemu?" Tadi memang benar sih aku modus, agar ada teman untuk main. Tapi kalau aku ketemu dia disini sih, bukan dari rencana aku. Mungkin Tuhan mempertemukan kita agar aku tak sendiri lagi. Haha. "Ngapain gue ngikutin lo kalik?" Aku melirik perempuan disamping Rivan, "oh, yang lo bilang sibuk ini ya?" Ada apa denganku? Rasanya seperti habis memergoki pacar sendiri yang ketahuan selingkuh. Yang sebenarnya kan justru mereka yang pacaran. Duuuh hati, tolong ya di kontrol. "Eh Van bentar ya, ada telpon." Kata perempuan itu, dan menjauhkan diri dari kami. "Iya, si Mai minta gue ajarin ice skating." Kata Rivan lagi. "Van sorry ya, aku harus pergi sekarang. Ada rapat BEM mendadak." Perempuan itu melihat ke arahku. "Hai," sambil tersenyum manis. "Rumaisha, nama kamu siapa?" Dia mengulurkan tangannya ke arahku. Oh, namanya Rumaisha bukan Maimunah atau Maisaroh. "Nurita, panggil aja Rita." Aku mengulurkan tangan juga. "Nurita, aku titip Rivan ya. Aku ada urusan mendadak," kata perempuan itu dan langsung berlalu pergi. "Mai tunggu Mai!" Panggil Rivan. Namun perempuan itu tak berbalik arah. Perempuan aneh! Masa dia biarkan pacarnya jalan dengan cewek lain. Apa dia tidak takut kalau aku akan menikung Rivan? Atau ia malah berfikir kalau Rivan tak akan pernah bisa aku tikung mengingat wajahku yang jauh sekali jika dibandingkan dengannya. Aish. "Ya lo harus terima kenyataan lah kalo dia udah ninggalin lo sendiri." Ujarku padanya. Dari raut wajah Rivan sepertinya ia sedang menahan amarah. "Diem lo!" Tuhkan bener. Lagi ngga marah aja dia judesnya minta ampun, apalagi sekarang. Aku langsung melangkahkan kakiku untuk pergi darinya, males saja kan lihat orang yang sedang ribut dengan pacarnya. Nanti aku yang jadi bahan pelampiasan kemarahan dia lagi. Ih serem. "Mau kemana lo?" Rivan menarik pergelangan tanganku yang tertutup jaket tebal. "Ya mau main lah, ngapain gue kesini diem doang." Jawabku. "Tolong ya tangannya dikondisikan, situ sendirikan yang bilang kalau kita bukan muhrim." Aku melirik tangannya yang masih berada dipergelangan tanganku. Namun ia tidak kunjung melepasnya. Ini anak kenapa sih? Aku tidak bisa menebak jalan pikirannya. Dia malah menarikku lebih kencang dan aku langsung menubruk tubuhnya. Beruntung aku tidak terjatuh karena langsung bertumpu pada lengannya. Masya Allah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Dari jarak sedekat ini ternyata ia sangat tampan. Bahkan aku bisa mencium parfumnya lagi karena begitu dekatnya. Matanya yang hitam menatapku tajam. Badanku terasa lemas ditatap seperti itu olehnya. Aku tidak tahu penyebab pastinya karena apa. Dia itu manusia atau malaikat? Jangan-jangan dia itu seperti yang kulihat di drakor 49 days dan goblin? Malaikat pencabut nyawa yang super ganteng. "Jangan deket-deket lo!" Rivan menjauhkan tubuhku darinya dan, "aduuuh!" Bokongku langsung mencium lantai es yang dingin. Aku meringis kesakitan, sumpah ya laki-laki ini tidak punya rasa kemanusiaan sedikitpun. Bukannya menolong, dia malah membiarkan aku yang masih terduduk di lantai es. "Parah lo! Kasar banget sama cewek." Aku berusaha bangun, namun tidak bisa. Lantainya sangat licin sekali. "Sorry.. Gue nggak sengaja. Lo juga sih yang nempel-nempel di badan gue. Jadinya gue refleks dorong lo." Rivan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku menyambutnya dengan menggenggam telapak tangannya yang tertutup sarung tangan tebal. "Gila! Badan lo berat banget." Katanya setelah aku berhasil bangun. Jadi, secara tidak langsung dia mengatakan kalau aku itu gendut? Enak saja, badan aku itu tidak gendut juga tidak kurus. Kalau kata Mama Qila sih, montok. Alias berisi. "Gue montok tauk, bukan gendut." Tukasku sebal. "Siapa yang bilang lo gendut?" Iya juga sih, dia tidak bilang kalau aku gendut. Tapi dia bilang kalau badanku itu berat. "Tadi lo bilang kalau badan gue itu berat." "Banyak dosa kali lo. Aww.." Rivan meringis kesakitan akibat cubitan tanganku di lengan atasnya. Rasain! "Rivaaannn p****t gue basah!" Pekikku saat memegang jeans yang ku pakai basah. Pasti ini karena mencium si lantai es licin tadi deh. "Lah terus apa urusannya sama gue?" "Ini semua gara-gara lo! Gue nggak mau tau lo harus tanggung jawab!" "Gue harus tanggung jawab apa? Gue kan ngga ngehamilin lo." "Dodol!" Aku menoyor kepalanya. "Ini otak m***m aja sih isinya. Tanggung jawab lo gantiin celana gue." "Kita impas dong, waktu itu lo buat baju gue basah karena iler lo." Betewe, dia bahas masalah iler lagi. Kan jadi malu, huaaaaaa. "Kan gue udah tanggung jawab cuciin kemeja lo." "Yaudah sini gue cuciin juga celana lo." Katanya. Aku langsung menyilangkan kedua tanganku ke kaki. Gila nih orang! Kalau dia ingin mencuci celanaku, berarti aku harus melepasnya. Sedangkan di dalam jeans ini aku hanya memakai celana pendek sebatas paha saja. Dasar m***m! "Beliin celana baru, gue nggak mau tau." Aku merengut kesal. **** Dalam hati aku harus meminta maaf dengan pacarnya Rivan. Karena ia harus merelakan pacarnya sendiri jalan denganku, si jones. Ada ya cewek kayak gitu, rela kalau pacarnya yang ganteng ini jalan dengan cewek lain. Aku tidak salah kan tadi menyebut Rivan ganteng. Ish. "Cepet pilih celana yang lo mau. Bengong terus sih kerjaan lo." Rivan mengagetkanku. Aku dan dia saat ini memang sedang ada di Matahari untuk membeli celana baru. "Yaudah gue pilih ini aja satu." Aku mengambil jeans berwarna hitam. Dan kami membayarnya di kasir. Setelah itu aku langsung pergi ke toilet untuk memakainya. Kalau aku hitung-hitung, Rivan itu beberapa kali bilang kalau aku suka bengong. Tapi aku tidak merasa seperti itu. Apa mungkin aku tidak sadar ya? Karena terlalu fokus dengan pesonanya. Dia jangan sampai tahu kalau aku benar-benar terpesona olehnya, bisa besar kepala dia nantinya. Setelah aku keluar dari toilet, aku melihatnya sedang berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding. Kepalanya ia tadahkan ke atas, seperti sedang berpikir keras. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Karena aku tidak pernah bisa menebak jalan pikirannya itu. "Van lo laper ngga? Kita makan dulu yuk." Ajakku. Cacing diperutku sudah berdemo minta jatah rupanya. "Gue mau pulang!" "Bentar aja Van." Aku merajuk. "Gue traktir lo deh." Yaaa hitung-hitung berterima kasih lah, karena ia sudah membelikan aku celana baru. "Tapi jangan yang mahal-mahal ya. Hehe." Aku menyengir. Yes!! Akhirnya dia mengangguk setuju. Dan kami langsung menuju ke salah satu tempat makan yang ada di mall ini. Setelah berputar seisi mall, akhirnya aku menemukan restoran yang sesuai dengan isi kantong. Kami langsung memasuki Platinum&Gokana. Sepertinya tempat ini dua restoran dijadikan satu. Karena aku pernah ke mall lain, dan tempatnya berbeda. Kami memilih duduk di sofa. Kasihan bokongku, masih terasa sakit karena lantai es tadi. Aku tidak mau semakin parah kalau harus duduk di kursi kayu. Waitress datang dan memberikan kami buku menu. Aku bingung sebenarnya ingin makan apa. Akhirnya aku memilih menu ramen untuk mengisi perutku yang keroncongan. Sedangkan Rivan memilih menu Steak, dan asal kalian tahu kalau menu yang dipilihnya itu harganya paling mahal di restoran ini. Dia mau balas dendam kayaknya deh. "Nih Mas.." Aku memberikan buku menu pada Mas waitress, sambil tersenyum. Mas-masnya lumayan ganteng juga. "Kenapa lo senyum-senyum gitu. Gue ngga mau ya disangka jalan sama orang gila." Kata Rivan dengan suara judesnya. "Lo tuh Van, cowok mulutnya pedes banget sih kayak cabe! Gue senyum tuh sama Masnya." Aku menunjuk waitress yang sedang berjalan menjauh dari meja kami. Rivan mendecih, "gantengan juga gue kalik." Aku tak mempedulikan ucapannya barusan dan lebih memilih untuk mengirim pesan kepada Mama Qila. Nurita: Maaaa aku jalan sama Ji Chang Wook :D Send. Mama Qila: Waaah.. Coba fotoin dong Mama penasaran Gimana minta fotonya dong? Aku yakin kalau Rivan akan menolak ajakanku untuk foto bersama. Akhirnya aku berhasil mengambil gambarnya saat Mas waitress datang, dan sepertinya ia tidak sadar aku mengambil fotonya. Nurita: Send a picture. Mama Qila: Dia beneran temen kamu? Itusih mirip banget sama Ji Chang Wook. Ajak kerumah dong What? Mama Qila minta aku ajak Rivan main ke rumah? Gimana caranya? Nurita: Plis deh mah jangan genit. Aku bilangin Papa sih :P Mama Qila: Ampun deh ampun.. Papa kamu mah nomer satu dong di hati Mama "Lo mau makan atau mau ngeliatin handphone?" Rivan menginterupsiku. Matanya menatapku tajam. "Iyak gue makan." Akhirnya aku menyerah. "Tadi gue ngabarin nyokap pulang telat." Bohongku. Aku hanya bisa memandangi handphoneku yang tergeletak di meja tanpa membalas pesan dari Mama Qila. Maafin ya Maaa, dari pada aku kena amukan si Ji Chang Wook ini. Nanti kalau aku ditembak dia kan bahaya. Kalau ditembak yang itusih dengan senang hati. Hehe. Akhirnya aku menyelesaikan makananku. Selama makan kami hanya diam-diaman saja, tidak ada pembicaraan sama sekali. Sedangkan mulutku sudah gatal ingin bicara. "Mas billnya." Aku memanggil salah satu pelayan. Kemudian Masnya langsung memberikan sebuah benda persegi panjang berwarna hitam. Aku membukanya dan langsung melihat nominal yang harus ku bayar. Namun Rivan langsung merebutnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetnya. "Nih Mas.." Rivan memberikan benda itu. "Van kan gue yang mau traktir lo." "Biarin, gue aja yang bayar." "Tapi gue ngga biasa ditraktir cowok." Protesku lagi. Rivan malah menatapku tajam. Kapan sih dia tidak menatapku seperti itu? Atau matanya memang seperti itu dari lahir ya? "Lo nggak biasa ditraktir cowok, tapi lo mau traktir cowok." Lah memangnya kenapa? "Itukan sebagai terima kasih gue ke lo. Karena udah beliin gue celana." "Nggak usah." Rivan melihat jam tangannya, "udah maghrib, gue mau shalat dulu." Rivan berjalan di depanku saat kami keluar dari restoran, kemudian ia berbalik. Untungnya aku refleks mengerem tubuhku, kalau tidak aku sudah menabrak tubuhnya. "Kalo lo udah selesai haid, shalat. Sebelum di shalatkan." Ia berbalik lagi. Yailah, kalau itu aku tahu. Meskipun aku tidak alim-alim banget seperti Dinda tapi aku tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Tidak sulit menemukan tempat shalat di mall ini, tinggal datang ke parkiran saja. Karena memang biasanya musholla di mall berada di tempat parkir dan terpojok. Seakan memang benar-benar dijauhkan dari penegak agama. "Gue titip handphone," katanya sebelum kami berpisah di tempat wudhu. Aku langsung memasukkan benda itu ke dalam tas kecilku. Dan kami langsung ke tempat wudhu yang memang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Sebelum keluar dari tempat shalat, aku memastikan dahulu jilbabku sudah rapi. Karena tak ingin Rivan menunggu lama, akhirnya aku segera keluar. Dan benar saja, Rivan sudah berdiri di tempat kami berpisah. "Handphone gue." Kata Rivan sambil menengadahkan tangannya ke arahku. Aku langsung membuka tasku dan merogohnya. Ku berikan benda persegi itu yang memang miliknya. Drrt drrt.. Papa's calling... "Bentar Van, Papa gue nelpon." Kataku pada Rivan. Aku segera memencet ikon telpon yang ada dilayar. "Halo Pa..." "Rita kamu kemana aja! Jam segini belum pulang." Aku menjauhkan handphone dari telinga saat mendengar suara Papa yang menggelegar. "Aku lagi di TA Pa, ini juga mau pulang." "Udah sih Pa ngga papa dia lagi maen." Itu suara Mama Qila. "Kamu pulang sama siapa?" Tanya Papa. Aku melirik Rivan, dia mana mau mengantarkan aku pulang. "Gojek Pa." "Yasudah hati-hati." Tut.. Tutt.. Dan sambungan terputus. Susah memang mempunyai Papa yang overprotect. "Lo pulang sama gue!" "Eh?" Sepertinya aku salah dengar kalau Rivan mengajak aku pulang dengannya. "Lo mau diem aja disini sampe mall tutup?" Rivan langsung berjalan di depanku. Aku mengekorinya dari belakang. "Lo tadi ngajak gue pulang bareng Van?" "Hmm." Kedua sudut bibirku terangkat sempurna. Membentuk senyuman. Yes! Pulang bareng Ji Chang Wook. Mama aku pulang bawa mantu. Hihi. Kami berhenti di depan motor matic milik Rivan. Dia memberikan aku helm bergambar kartun Jepang, mungkin helm itu milik pacarnya. Astaga, aku lupa kalau aku sedang bersama dengan pacar orang. "Cepet naik." Tukas Rivan. Aku langsung memakai helm dan duduk dibelakangnya. Astaga jantungku berdegup sangat cepat, seperti ingin keluar dari tempatnya. Aku menghela napas panjang berusaha menetralkan jantungku. Motor Rivan sudah keluar dari mall, banyak kendaraan yang melintas di jalan depan mall ini. Karena bersamaan dengan orang pulang kerja, dijam-jam sibuk Jakarta. Bahkan mobil hanya bisa merayap. Beruntung kami pulang naik motor, jadi bisa menyalip. Aku melihatnya dari pantulan kaca spion, yang terlihat hanya sebatas hidung, bibir hingga dagu. Pandanganku tertuju kearah dagunya yang ditumbuhi rambut tipis yang tidak begitu panjang dan hanya beberapa helai saja. Aku kira ia lupa untuk bercukur, tapi jujur itu membuatnya sangat lucu. "Kenapa lo—" "Hah apa? Ngga kedengeran. Suara lo kebawa angin." Aku mencondongkan tubuhku kedepan, kemudian mendekatkan wajahku ke samping kepalanya. "Lo ngomong apa Van?" "Lo kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanyanya. Sepertinya ia sadar kalau aku sedang memperhatikannya. "Ngga papa, seneng aja bisa pulang bareng lo." Aku menepuk mulutku sendiri yang kelewat jujur. Rivan terkekeh sampai punggungnya bergetar. "Arahin jalannya, gue kurang tau daerah sini." Aku mengangguk, meskipun ia tidak melihatnya. "Nurita?" "Hm?" "Lo ngga tidur kan?" "Ngga kok, kenapa?" "Nggak.. aneh aja, biasanya kan lo bawel banget." "Jadi lo maunya gue bawelin." Lagi-lagi dia terkekeh. "Waktu itu lo manggil gue Ji.. ji—" "Ji Chang Wook?" "Nah iya itu." Kami sudah sampai dikawasan Pantai Indah Kapuk. Disini jalannya tidak sepadat saat kita melewati daan mogot, jadi suara Rivan dapat terdengar. "Karena lo mirip dia." Kataku. Dia terdiam, mungkin bingung harus bicara apa lagi. "Pacar lo?" "Hahaha iya pacar." Aku tertawa, "iya kita LDR gitu, dia di Korea sedangkan gue di Indo." Rivan terdiam, hening lagi sejenak. "Van?" Aku memanggilnya. "Hm." "Lo percaya sama omongan gue tadi?" Rivan mengangguk. Dan seketika aku tertawa sampai perutku terasa sakit. Ternyata dia tidak tahu siapa itu Ji Chang Wook. Duh gemes deh. "Dia itu aktor Korea Rivan, mana mungkin kenal gue. Hahaha." "Oh," "Van, gue suka sama lo." "Karena gue mirip artis Korea?" "Iyak." "Kalo suatu hari nanti gue punya pacar gimana?" "Ya ngga Papa itu hak lo. Lagi juga gue percaya, jika sesuatu ditakdirkan untuk kita, selamanya tidak akan pernah menjadi milik orang lain." "Bahasa lo tuh Rit, mirip Mario Teguh." Rivan kembali terkekeh. "Berapa banyak cowok yang udah lo gombalin?" "Satu, lo doang. Cause you got something special." Jujurku. "Belok kanan Van. Nah.. Masuk aja Van." Motor Rivan memasuki halaman depan rumah, dan berhenti. Ku lihat Papa sedang berdiri dengan tatapan tajam dan tangan bersedekap di d**a. Mama Qila berdiri disamping Papa dan tersenyum. "Jadi ini gojeknya?" Tanya Papa dingin. "Hm, anu Pa itu..." Aku melirik Mama Qila agar ia dapat membantuku mencari alasan. Tapi Mama Qila malah senyum-senyum tidak jelas. Sama sekali tidak membantu. "Malam Om.." Rivan turun dan menjabat tangan Papa. Duuuuh itu anak ngapain sih? "La bawa Rita masuk." Kata Papa pada Mama Qila. Sepertinya Rivan ingin diintrogasi oleh Papa. "Tapi Pa." Sela ku. Jujur aku tidak enak dengan Rivan, dia sudah berbaik hati mengantarkan aku pulang tapi malah disambut tidak baik oleh Papa. "Masuk!" Tanganku langsung ditarik oleh Mama Qila setelah aku melepaskan helm. "Ma Papa ngomong apa sama Rivan?" Aku dan Mama Qila sedang mengintip Papa yang tengah mengintrogasi Rivan. Sayangnya suara mereka tidak terdengar sampai ke dalam rumah. "Mama juga ngga tau, mungkin urusan laki-laki." Jawab Mama Qila. "Dilihat aslinya dia lebih cakep ya Rit." "Mama!" Pekikku. Bisa-bisanya Mama bercanda disaat-saat seperri ini. Mama Qila terkekeh. "Beneran deh." Aku langsung menuju ke lantai dua tepatnya ke kamarku, setelah menemukan benda yang ku maksud aku turun lagi ke bawah. Dan ku lihat Rivan sudah berada di motornya ingin pulang. "Rivan tunggu!" Aku menghentikan gerakannya saat ia mulai menstater motornya. Aku memberikan sweater kepadanya, karena ia tidak memakai jaket. "Ngga usah Rit," tolaknya. Aku memberikan tatapan memohonku padanya. Sayangkan kalau orang ganteng nanti masuk angin. Akhirnya ia menerima sweaterku dan memakainya, meskipun kekecilan di tubuhnya. "Mari Om.." Rivan pamit pada Papa. "Nurita gue pulang ya." "Thanks for today Van. Maafin Papa gue ya, plis." Rivan mengangguk. "Take Care." Aku menunggu sampai Rivan keluar dari halaman rumah. Dan saat Rivan sudah melewati gerbang, aku langsung menghadap Papa yang berdiri dibelakangku. "Papa ngomong apa sama Rivan?" "Ada deh, urusan laki-laki." "Papa.." "Cuma tanya doang habis dari mana." Alisku terangkat satu, meneliti wajah Papa apakah yang diucapkannya itu bohong atau tidak. Aku bisa maklum kalau Papa bersikap seperti itu, karena baru Rivan laki-laki yang aku ajak ke rumah. Selain teman satu kelompokku tentunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN