Saat aku membuka mata, hal yang pertama kali ku lihat adalah cahaya lampu yang menyilaukan. Dan ketika retinaku mulai terbiasa, aku bisa melihat kembali dengan jelas. Aku melihat langit-langit kamar dan dinding berwarna putih, begitu juga dengan warna tirai yang menutup ruangan ini. Di tangan kiriku juga terpasang infus, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku berusaha mengingat lagi kejadian tadi, kejadian dimana sebelum aku pingsan saat memasuki kamar kostku. Suara Rivan yang membentakku dengan raut wajah menyeramkan menari-nari dalam benakku. Bahkan kejutan yang sudah aku persiapkan bersama teman-temannya hancur berantakkan. Dan sejak kejadian itu aku sadar, bahwa sedikitpun aku tidak berarti apa-apa untuknya. Segala hal yang telah ku lakukan tidak bisa membuat hatinya luluh bahkan me

