Papa Memang Terbaik

1447 Kata

Aku sudah tahu keputusanku ini salah. Semalaman aku bergelut dengan hatiku sendiri. Dan ini adalah yang terbaik untukku. Aku memutuskan untuk pergi ke kamar rawatnya Rivan, dengan membawa tiang infus di tanganku, dan masih memakai pakaian rumah sakit. Meski orang-orang menatapku aneh, aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Yang jelas saat ini aku ingin melihat kondisinya. Aku sudah berada di depan kamar rawatnya. Aku hanya bisa melihatnya dari kaca yang berada di tengah pintu. Sungguh, aku tidak ingin masuk karena jika ia melihat wajahku bisa saja ia langsung mengusirku pergi. Rivan tengah duduk menyandar di ranjang, satu tangannya menutup mulut karena tidak mau menerima suapan dari Mai. Ya, Rumaisha ada di sini. Aku memukul dadaku sendiri, berusaha menetralkan rasa yang muncul

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN