Seyra membuka pintu mobil dan melihat Rayhan yang duduk manis di balik roda kemudi sembari memainkan ponselnya. Sendirian. Rayhan menoleh, refleks karena pintu mobilnya yang terbuka tanpa ketukan sebelumnya. Ia tersenyum kecil pada Seyra. Gadis itu membalas dengan senyum yang membuat dengkul Rayhan lemas. “Sore menjelang petang!” sapa Seyra ceria sambil memasang sabuk pengamannya. Rayhan tertawa kecil mendengar sapaan Seyra. Ada saja ucapan Seyra yang mampu membangkitkan semangat. Padahal dia tadi sudah mulai mati gaya karena bosan menunggu Seyra. Sebenarnya Seyra sudah mengatakan untuk menjemputnya pukul enam saja. Terlambat juga tidak apa-apa. Seyra mau menunggunya. Karena menurut Seyra lebih baik dia yang menunggu ketimbang Rayhan yang harus menunggu tanpa tahu kapan pekerjaan Sey

