7

1013 Kata
"Maaf kalau pertanyaan saya menyakiti hati Nawa tapi boleh saya tahu laki-laki yang tadi pagi Nawa tabrak itu siapa?" Aku tertunduk diam di depan Pak Adam tak ingin menjawab apapun, Ya Allah kenapa Pak Adam bisa tahu aku nabrak orang tadi pagi di koridor kampus? "Nawa, tidak ingin jujur?" tanya Pak Adam lagi. "Pak, saya akan jujur tapi gak sekarang, saya gak bisa Pak" jawabku seadanya. "Yasudah tidak papa, untuk masalah pernikahan kita, apa Nawa ingin menyembunyikan di kampus? Saya rasa masalah ini juga harus kita bicarakan" tanya Pak Adam yang aku angguki. "Pak, jujur saya belum siap kalau orang-orang di kampus pada tahu saya sudah menikah dengan Bapak, bukannya apa-apa tapi saya merasa risih, Bapak sadarkan kalau banyak dari mahasiswi dan bahkan beberapa dosen perempuan di kampus yang cukup menaruh perhatian ke Bapak? Saya belum siap menanggung bulian kalau mereka tahu status saya dengan Bapak sekarang itu apa" "Sampai kapan saya harus menyembunyikan kenyataan kalau kamu milik saya sekarang?" "Saya tidak tahu Pak, maaf kalau saya terus mengecewakan Bapak tapi kalau memang Bapak keberatan saya ikut saja bagaimana baiknya di Bapak" "Baiklah akan saya pikirkan lagi" aku menundukkan kepala pasrah kalau Pak Adam udah ngomong kaya gitu. "Nawa" panggil Pak Adam yang membuatku kembali beralih menatap mata Pak Adam yang memang sekarang masih duduk tepat didepanku. "Saya Pak" jawabku rada aneh sendiri, manggil Pak berasa lagi kaya disidang kalau gak pas lagi absen. "Sampai kapan Nawa mau manggil saya bapak? Dirumah saya itu suami Naaa bukan dosen Nawa, tidak mungkin Nawa ingin memanggil saya Bapak disemua tempat? Kalau keluarga kita mendengar Nawa ingin mereka memikirkan apa?" pertanyaan Pak Adam yang sama persis kaya permintaan Bunda tadi pagi. "Bapak mau saya panggil apa?" "Apapun yang penting masih terdengar sopan, yasudah ayo turun makan siang dulu biar tidak terlalu telat pindahannya" Aku mengiyakan dan Pak Adam yang mengecup keningku sekilas sebelum bangkit dan berlalu keluar kamar, aku juga mulai membereskan mukenaku dan ikut menyusul Pak Adam turun kebawah. "Jadi mau pindahan jam berapa Dam?" tanya Mas Ali setelah makan siang kami selesai. "Ba'da ashar Li, biar gak keingetan shalat ditengah jalan" jawab Pak Adam. "Dek, jangan sedih gitu, kan masih bisa sering pulang, rumah kalian kan gak terlalu jauh, kalau kalian mau main atau nginep dirumah juga tinggal pulang" jelas Bunda yang aku balas dengan senyum seadanya. "Yaudah shalat dulu gih, udah Azan Ashar itu, jangan makin telat" aku cuma menyiakan, yang namanya mau pindah bawaannya sedih terus, udah berusaha disenyumin ya tetep aja, ninggalin rumah yang udah aku tinggalin mulai dari lahir itu gak gampang. Aku bangkit dan mengikuti langkah Pak Adam naik dan shalat berjama'ah di kamar, selesai shalat kita berdua juga langsung pamitan, takut telat. "Dam, Bunda nitip Nawa ya, kalian juga hati-hati di jalan, kabarin Bunda kalau udah dirumah" "Insyaallah Bunda, Adam pamit Bunda" pamit Pak Adam mencium tangan Bunda, selesai dengan Bunda Pak Adam beralih ke Mas Ali "Li, gue pamit." "Oke hati-hati, jagain Adek gue Dam." ucap Mas Ali dan mulai mengusap kepalaku pelan yang memang berdiri tepat di sebelahnya. "Insyaallah" balas Pak Adam sembari tersenyum, senyum yang harus aku akui cukup manis itu. "Mas Adek pamit." aku mencium tangan Mas Ali yang dibalas sebuah kecupan di kening aku sama Mas Alinya, "Nawa pamit Bunda." lanjutku mencium tangan Bunda, "Iya hati-hati ya Dek, inget pesen Bunda harus jadi istri yang baik." "Insyaallah Bunda." jawabku pelan lalu memeluk Bunda, "Kita pamit, assalamualaikum" "Wa'alaikum sallam" . . . Lama aku diam termenung memperhatikan jalan, sekarang kita udah sampai disebuah rumah yang terhitung minimalis tapi masih terkesan mewah, "Ayo masuk Nawa, ini rumah kita sekarang, semoga bisa menjadi surga kecil dunia kita" Pak Adam tersenyum dan membuka pintunya. "Assalamualaikum." ucapku yang dijawab "wa'alaikumsalam." oleh Pak Adam, aku mengikuti langkah Pak Adam yang mulai membawa barang-barang aku masuk kedalam sebuah kamar yang ya bisa dibilang nuansanya cuma didominasi warna hitam dan abu-abu. "Maaf kalau suasananya masih kaya kamar lajang ya Wa, saya belum sempat merubahnya karena keinginan orang tua kita yang mau akadnya dipercepat" jelas Pak Adam sambil menggaruk tengkuknya yang aku yakin sama sekali enggak gatal itu. "Iya gak papa Mas, kemarin di rumah Bunda, kamar Nawa juga masih kaya kamar anak gadis kan? Nawa ngerti" sekilas Pak Adam menatap kaget dengan panggilanku barusan. "Terimakasih untuk panggilannya" "Memang begitu seharusnya Mas" dan setelahnya aku mulai membereskan barang-barangku di kamar dengan bantuan Mas Adam juga pastinya. "Nawa kenapa? Tidak bisa tidur?" tanya Pak Adam yang sepertinya juga ikut terganggu dengan pergerakanku yang gak jelas dari tadi, kayanya iya gak bisa tidur ni. "Iya Mas, karena bukan kamar sendiri jadi mungkin belum biasa, maaf ya Mas kalau Mas ikut kebangun" jelasku pelan. "Gak papa, mau Mas bantu biar lebih gampang tidurnya?" aku mulai menatap antusias dengan tawaran Mas Adam barusan. "Apa?" tanyaku, Mas Adam menepuk pelan bahunya dan merentangkan lengannya mengisyaratkan aku untuk tiduran disitu. "Mas becanda? Nawa berat loh Mas bukan anak kecil lagi" yang bener aja Mas Adam mau nampung kepala aku dibahunya semalaman, yang ada besok pas bangun kesemutan semua. "Itu bukan alasan Nawa ajakan? Mas gak papa" dengan memberanikan diri aku bergeser mendekat ke sisi Mas Adam dan tidur dengan lengan Mas Adam sebagai bantalnya, lebih tepatnya tidur dalam pelukan Mas Adam, aku mulai mejamin mata dan alhamdulillahnya bisa tidur. . . . "Kuliah jam berapa Wa?" tanya Mas Adam disela sarapan kami. "Pagi Mas, selesai beberes Nawa juga langsung berangkat" jawabku. "Yasudah kita berangkat bareng dan ini tidak untuk Nawa tolak" mendengar nada bicara Mas Adam, aku cuma mengiyakan dan mulai beberes diri, jangan malah karena aku Mas Adam ikutan telat. Selama perjalanan ke kampus, aku udah mulai meremet kedua tanganku gak karuan, takut-takut ada yang liat aku berangkat sama Mas Adam tar mereka semua pada mikir apa? "Mas, Nawa turun sebelum gerbang kampus aja ya?" "Enggak Nawa, Mas terima permintaan Nawa yang ingin menyembunyikan pernikahan kita tapi enggak dengan tanggung jawab Mas yang ngejagain kamu" "Tapi nanti kita mau jelasin apa kalau pada nanya kenapa Nawa berangkat sama Mas?" tanyaku sedikit memelas. "Kalau pertanyaan seperti itu muncul pilihan Nawa ada dua, diam atau jelaskan tentang pernikahan kita"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN