"Gue minta maaf," kata Zeus tiba-tiba saja datang ke kelas Cia dan hal itu pun tak luput dari pandangan murid lain. Ya, pada akhirnya pemuda itu menghampiri gadis yang mengganggu tidurnya semalam. Menurunkan egonya dan mengakui bahwa di sini dialah yang salah. Zeus sedang mencoba. Zeus minta maaf? Ini kali pertama pemuda itu mengatakan kata maaf, dan itu kepada gadis bernama Cia ini.
" .... "
Gadis itu tidak merespon dan memilih menyibukkan diri dengan membolak-balikkan bukunya. Walaupun tidak satu pun buku yang ia baca masuk ke dalam otaknya saat ini. "Ci, Zeus bicara sama lo tuh," bisik Ovi kepada sahabatnya. Gadis itu jengah melihat sikap sang sahabat. Ovi mengakui jika Zeus adalah pemuda yang gantle. Menemui Cia pertama kali dan mengatakan kata maaf, ya meskipun di sini tidak sepenuhnya salah Zeus juga. Cia sudah menceritakan kejadian kemarin kepada Ovi.
Nyatanya Cia sama sekali tidak memedulikan keberadaan Zeus di sana. Bahkan Cia terus fokus ke buku yang dia baca. Lebih tepatnya mencoba fokus.
"Gak usah pura-pura b***k. Lo pasti dengar gue bicara." Zeus agak dingin.
"Pi, kayaknya gue haus deh. Udara di sini tiba-tiba saja panas. Kuy ke kantin." Gadis itu berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Ovi. Tetapi Zeus menghalangi jalannya saat itu.
"Pi, tolong bilangin ke orang yang halangi jalan gue buat minggir dong. Gue lagi gak mau cari gara-gara," ucap Cia kepada Ovi dan Ovi pun cukup bingung dengan sahabatnya ini. Bukankah Zeus ada di depannya, seharusnya dia langsung bicara ke orangnya langsung bukan malah memerintah dirinya. Dasar aneh.
"Lo punya mulut. Gunain mulut lo buat bicara," sarkas Zeus.
"Pi, bilangin ke cowok yang lagi ada di depan gue. Gue lagi puasa bicara sama dia, so suruh dia cepat minggir," ucap Cia lagi kepada Ovi. Gadia itu tetap kepada pendiriannya.
"Hmmmm, Ze kayaknya lo -"
"Oh, ternyata kayak gini sifat lo ya?" Zeus memotong perkataan Ovi dan malah fokus ke Cia yang sama sekali tidak ingin memandangnya. "Selain cerewet, ceroboh, bodoh, b***k, bisu, lo juga suka perintah orang lain? Lo masih punya mulut buat bicara, kaki yang bisa jalan, dan otak yang bisa berpikir. Gue nggak nyangka hanya gara-gara perkataan gue kemarin lo malah kayak gini. Ya udahlah, yang penting gue udah minta maaf ke lo. Kalau pun lo nggak mau maafin gue, itu urusan lo sama yang di atas," lanjutnya.
Cia ada sedikit perasaan tidak enak ketika mendengar perkataan Zeus saat ini. Ada rasa bersalah juga di dalam dirinya karena ini semua sepenuhnya bukan salah Zeus tetapi dirinya juga bersalah dalam hal ini. Tanpa gadis itu sadari, saat ini Zeus sudah berdiri sangat dekat dengan dirinya bahkan hal itu mengundang pekikan kecil dari beberapa murid, akan tetapi Cia belum menyadarinya karena dia tengah sibuk berkelana di dalam pikirannya sendiri.
"Satu lagi, lo itu masih murid gue. So nanti pulang sekolah gue tunggu di perpustakaan," bisik Zeus di telinga Cia. Dan saat itulah Cia tersadar dari lamunannya dan dia melongo karena jarak mereka cukup dekat sekarang dan hal ini membuat jantung Cia menjadi maraton. "Nggak usah terpesona gitu, gue emang ganteng. Kalau lo suka sama gue, sorry gue gak minat sama lo. Oh iya satu lagi, lo itu bukan tipe gue. Ok." Dan dengan entengnya Zeus bicara seperti itu di depan Cia.
"COWOK GILA! GUE SUMPAHIN LO JADI JELEK KAYAK KODOK!" umpat Cia ketika Zeus sudah menghilang dari kelasnya. Bahkan dia tidak peduli jika umpatannya didengar oleh si pemilik nama.
"Astaga, Ci. Lo gak bisa gak teriak-teriak gitu? Telinga gue sakit cuy," protes Ovi.
"Huwaaaa gimana dong, Pi. Si es batu ngajak buat belajar lagi nanti," ucap Cia histeris.
"Ya sudah sih itu bagus berarti," jawab Ovi dengan santai tanpa memikirkan pekikan dari sahabatnya.
"Bagus apanya. Entar gue dimarah-marahin lagi," lirih gadis itu. Yang sudah kapok mendengar perkataan pedas dari pemuda itu.
"Kapan lagi coba lo dimarahi sama cogan hahaha." Ovi tertawa dengan kerasnya.
"Cogan sih cogan, tapi dingin dan kalau dia bicara itu nyelekit banget," cibir Cia. "Nggak apa-apa kali, Ci. Anggap aja ini awal dari usaha lo buat cairin itu es batu. Lama-lama lo juga betah sama dia. Terus lo baper dan akhirnya lo bilang ke dia kalau lo suka sama dia hahaha." Persepsi Ovi.
"Anjir lo. Lo jadi temen gak ada gunanya sama sekali. Ihh pokoknya gue gak bakal datang entar. Biarin aja dia nungguin. Kalau pun dia marah, gue gak peduli. Suruh siapa kemarin dia marah-marahin gue."
"Ah elah gitu aja dendam. Ketahuilah bahwa Allah itu tidak menyukai orang-orang yang mempunyai dendam kepada orang lain. Lo mau masuk neraka?" ancam Ovi.
"Eh adeknya mimi peri sekate kate kalau bicara ya. Gue itu gak dendam tapi gue mau kasih pelajaran aja sama si es batu biar dia bisa menghargai gue sedikit," bantah gadis itu.
"Sama aja keles."
"Serah deh serah."
"Eh, Ci. Tadi gimana perasaan lo ketika ngelihat Zeus dari jarak sedekat itu? Dia ganteng gak? Terus jantung lo berdebar-debar gitu gak? Atau lo merasakan sesuatu gitu?" cerocos Ovi.
"Iya gue merasakan sesuatu. Gue pengen muntah rasanya lihat muka dia dari dekat. Asal lo tau ya, Pi. Dia kalau dari dekat itu jelek, banyak jerawatnya, terus tadi itu ada upilnya gitu di hidung dia. Lo masih mau aja nge fans sama cowok yang kayak gitu? Udahlah pindah haluan aja," kata Cia.
"Yeee gue taulah kalau lo itu bohong hahaha. Mana ada Zeus ada upil yang nongol. Dia itu cowok yang terlalu sempurna sehingga kesalahan kecil dia aja gue gak pernah liat tuh," tolak Ovi.
"Hmmm ya sudah sih kalau nggak percaya," kata Cia cuek dan segera berlalu menuju ke kantin. Ovi pun mendengkus kesal dan kemudian menyusul sang sahabat.
Gue terlalu naif mengakui dia tampan. Jujur dia emang ganteng pakai banget kalau dilihat dari dekat. Mungkin gue salah satu cewek yang beruntung karena bisa lihat dia dari sedekat itu. Sorry, Pi gue udah bohong sama lo bahkan gue bohong pada diri gue sendiri.