Chapter 7: The Reunion

3003 Kata
Jade's POV Cermin dihadapanku, memantulkan bayangan diriku yang tengah menggunakan pakaian santai. Ya, aku hanya menggunakan kaos longgar berwarna putih dan celana jeans biru, Aku tidak ingin terlihat aneh jika harus menggunakan gaun-gaun yang disediakan oleh pelayan. Untung saja, aku menemukan ini di antara-antara gaun-gaun itu, aneh memang. "Siap bertemu dengan Liam?" Suara berat dan serak itu mengusik kesenanganku manik gelapnya mematut diriku di cermin. Senyumku bahkan langsung lenyap saat aku melihatnya berdiri di ambang pintu sembari melipat tangannya didada. Aku tak menjawabnya, dan tidak ingin. Aeghar berjalan mendekatiku, tatapan matanya intens, aku bisa melihatnya dari cermin. Ia berdiri di sampingku, sangat tinggi, batinku. Sesaat kemudian ia berlutut disampingku, membuatku mengerutkan keningku. Apa yang di inginkan pria ini sebenarnya. Tiba-tiba saja ia meraih tanganku yang terluka akibat sayatan yang diberikan oleh Samuel. Pria itu mencengkram tanganku yang terluka. "Argh!" pekikku kesakitan, Aeghar pasti sudah gila. Aku berusaha menarik tanganku tapi ia malah mencengkram tanganku semakin kuat, hingga cairan merah kembali merembes m*****i perban yang berwarna putih. "Kenapa kau aneh sekali?" tanyanya sembari mendongak menatapku. Aku segera menarik kembali tanganku, dan menutupinya dengan tangan yang lain. Aku merasa darah ini tidak akan segera berhenti. "Lukamu tidak segera sembuh, itu sangat aneh untuk werewolf," lanjut Aeghar. Tidak yang tahu kecuali aku dan seseorang yang tiap malam datang ke sel tempatku ditahan. Selama empat tahun, aku selalu diberikan suntikan berupa cairan wolfsbane, jika aku benar mungkin cairan itulah yang membuatku selemah ini. "Seharusnya kau juga tidak melukai dirimu sendiri, kau sudah meminum darahku," ujarku memberitahunya, apa aku terlihat peduli? Tidak! Jika dia mati maka itu akan lebih baik. "Bertaruh, aku tidak selemah dirimu, Nona Alexander." Aku membuang muka acuh, aku sungguh tak peduli sekuat apa dia. Sesaat kemudian aku merasa lenganku di rengkuh oleh tangan besar milik Aeghar. Ia memutar tubuhku, agar aku berhadapan dengannya. Aku tak mendongak, dan hanya menatap dadanya. "Tatap aku," ucapnya pelan, aku menghiraukannya. Menatapnya hanya akan membuat Nymeria menuntut lebih. Maksudku naluri kami sebagai mate. Aku merasakan jari Aeghar menyentuh daguku, berusaha mendongakkan wajahku padanya. Meski begitu, aku tidak ingin menatapnya. "Tatap aku!" Suara Aeghar memereintah penuh dengan intimidasi, ia menangkup wajahku dengan telapak tangannya lalu menghadapkan pada miliknya. Mata kami bertemu, dan desiran hangat mengalir di setiap pembuluh darahku, membuat jantungku berdegup dengan kencang. "Dengarkan aku, jangan berfikir untuk kembali ke packmu, atau aku akan menghancurkan pack itu, apa kau mengerti?" Mataku tak bisa menyembunyikan perasaanku, saat ini aku melebarkan mataku tak percaya pada ucapannya? Dia akan berusaha menghancurkan packku? Mimpi. "Bermimpilah Tuan Arogan!" hardikku sembari memalingkan wajah. Tiba-tiba aku merasakan tangkupan tangan Aeghar di wajahku semakin kencang hingga terasa nyeri, Aeghar memaksakan wajahku menghadap wajahnya. Terdengar deru nafasnya yang kasar dan terasa hangat saat menerpa wajahku. Sejenak aku perhatikan Aeghar masih bernafas dengan berat, ia masih menatapku dengan mencengkram wajahku. Meski aku berusaha melawannya, dia jauh lebih kuat dan tubuhnya lebih besar daripada aku, sedangkan kekuatanku sebagai werewolf belum bisa sepenuhnya kembali. Aeghar kembali menarik wajahku, mendekat pada miliknya. Wajah kami hanya berjarak beberapa mili, dan tiba-tiba Bibir tebal Aeghar yang rasanya hangat melumat milikku, mataku melebar terkejut dan aku belum bisa memproses apa yang sebenarnya harus aku lakukan, aku terlalu terkejut, karena laki-laki ini mencuri ciuman pertamaku. Bibir Aeghar semakin menuntut, sedangkan aku hanya diam saja terpaku. Samar-samar aku mendengarnya melenguh, aku mencoba mendorong tubuh kekarnya tapi percuma saja! Dia terlampau kuat untukku. Sesaat kemudian, Aeghar melepaskan bibirku, tapi ia tetap mencengkram bagian belakang leherku, satu tangan yang lainnya memeluk pinggangku dan mendekatkan tubuhku padanya. Ia menatapku yang aku yakini wajahku saat ini terlihat seperti udang rebus, aku hanya bisa memalingkan wajahku karena dipermalukan seperti ini. "Aku tidak akan pernah meminta maaf untuk apa yang aku lakukan hari ini!" bisiknya dengan suara serak penuh gairah, lalu ia kembali menciumku, kali ini di bagian leher. Aeghar meniupkan nafas hangatnya di sela ciumannya di leherku, membuat tubuhku bergetar merinding. Sensasi yang aneh menjalar ke seluruh tubuhku, ia kembali menjelajahi leherku lalu turun ke pundakku. "Arrghhh!" Ia menggigit pundakku dengan keras, rasanya seperti disengat listrik berkekuatan tinggi karena membuat seluruh tubuhku lemah, kakiku terasa lemas dan aku mungkin tak akan bisa berdiri jika dia  tidak menopang pinggangku. Sesaat kemudian, aku melihat bayang-bayang kenangan tentang Aeghar, lalu tentang diriku sendiri, kemudian tentang kami yang bersama seolah-olah kami adalah pasangan yang bahagia, semua yang tak kuinginkan akan terjadi berkelebat dalam benakku. "Kau adalah Milikku, Jade Rosslyn Alexander!" Dia membuat Imprint, suara Nymeria menyeruak ditengah-tengah lenguhannya. Aku yakin, gadis itu sedang menari kegirangan karena mate nya memberikan tanda pada kami. Dimana artinya, tidak akan lagi hewolves yang akan mendekati kami, dan Aku terhubung dengan Aeghar bagaimana dan dimana pun. SIAL!! "Sialan kau!" Aku mendorong tubuh Aeghar sekuat tenagaku, akhirnya laki-laki itu menjauh dari tubuhku. Persis seperti dugaanku, aku langsung jatuh ke lantai tak mampu menopang tubuhku. Airmataku bergulir melewati pipiku dengan tanganku yang meraba tempat dimana Aeghar memberikanku imprint. Rasanya masih terasa panas. Aku tidak menduga hal ini akan terjadi padaku. Aku mendongak, memberinya tatapan yang tajam, aku benar-benar mengutuknya dalam hati. Dia adalah laki-laki terburuk yang pernah aku temui, berani-beraninya dia!! "Kau tidak akan bisa pergi kemana-mana tanpa Izinku, kau adalah Luna Queen, dan tempatmu adalah di Kingdom," ujar Aeghar dengan entengnya, kemudian ia pergi meninggalkan aku yang menderita karena perbuatannya. *** Dikawal oleh dua penjaga benar-benar membuatku seperti penjahat. Aku tidak menyangka bahwa Laki-laki itu memperlakukanku seperti ini. Satu saat ia membuatku dihormati semua orang di Dewan Kingdom, tapi kemudian mempermalukanku seperti ini. Dia benar-benar sakit jiwa. "Luna, silahkan," kata seorang disampingku, aku melihatnya seperti masih seumuranku. Wajahnya juga tidak asing bagiku. "Apa kau dari packku?" tanyaku padanya. "Iya, Luna," jawabnya singkat. Aku menghela nafas lega. Dia membuka pintu ruang pertemuan, yang mana kudengar akan ada beberapa Alpha dari masing-masing pack yang berkumpul. Jika tidak salah, tentu ada Liam kakakku, lalu Lee Sun, dan Paman Darren. Aku menarik nafas, bersiap menemui mereka. Aku sungguh penasaran bagaimana keadaan mereka saat ini. Apakah kakakku merindukanku? Apakah Lee Sun juga? Tanpa sadar aku meremas-remas tanganku gugup, bagaimana jika Liam sedih melihat keadaanku saat ini? Kuharap aku terlihat lebih baik, sehingga Liam tidak akan merasa bersalah saat melihatku. Aku melangkah ragu-ragu, aku tak berani menatap lurus dan hanya memandangi lantai tempatku berjalan. Kegugupan yang aku rasakan telah menyelimuti seluruh bagian tubuhku, tak hanya itu, ada  perasaan lain juga yang aku rasakan sekarang. Senang, sedih, gugup, semuanya bercampur menjadi satu dalam hatiku. Tiba-tiba saja aku merasa tubuhku dipeluk oleh seseorang. Begitu hangat dan nyaman, dari aromanya yang terendua sama aku begitu yakin dia adalah kakakku, Liam. "Jade, My Princess, Jade..." ujarnya yang mungkin kehabisan kata-kata. Aku bisa merasakan dari getaran tubuhnya, Liam menangis. Aku mulai membalas pelukan Liam, aku merindukannya setengah mati, dan airmataku juga tak terbendung. "Liam," "Aku minta maaf, maafkan aku, aku terlalu lama membiarkanmu, aku tidak bisa menyelamatkanmu, maafkan aku, aku kakak terburuk yang pernah ada, maafkan aku," katanya dengan cepat, aku tahu ada penyesalan besar yang dirasakan olehnya. "Ini salahku, kau seperti ini karena aku, aku tidak bisa menjagamu," lanjutnya lagi. "Hey, hey."Aku melonggarkan pelukanku, hingga kami saling berhadapan. Aku menatap wajah kakakku dengan intens, dia menjadi laki-laki dewasa sekarang. Wajahnya menjadi lebih tampan, dengan sedikit jambang yang tumbuh, rambutnya dibiarkan panjang lalu di ikat, rahangnya terlihat kuat dan kokoh, tubuhnya juga sudah matang, aku bisa merasakan otot kuatnya saat memelukku. "Apa kau benar-benar kakakku?" godaku padanya. Ia berdecak dengan tatapan bersalahnya, sungguh aku tidak suka melihatnya merasa bersalah seperti ini. "Maafkan aku," ujarnya lagi "Jangan meminta maaf lagi, lagipula ini adalah kesalahanku sendiri." Kenyataannya memang seperti itu. Apa yang aku alami empat tahun ini adalah bentuk dari konsekuensi akibat perbuatanku. Tapi aku tak menyesalinya sedikitpun. Liam menatapku dengan mata yang penuh emosi, aku tahu dia tidak bisa melepaskan dirinya sendiri. Aku memeluknya kembali untuk meyakinkannya dan menenangkan dirinya. "Aku sangat merindukanmu," kataku. "Ehemm." Suara berat milik Aeghar benar-benar mengganggu, kenapa dia tidak bisa membiarkan aku berbahagia sebentar saja. "Kukira, kalian bisa melanjutkan reuni kalian nanti, kita harus menyelesaikan kesepakatan ini." lanjutnya, Aku menatap Liam bingung. Kesepakatan apa yang mereka bicarakan? "Sepertinya kita harus menyelesaikan semua ini dulu." Liam dan aku kemudian berjalan mendekat ke arah meja pertemuan itu. Aku melihat Lee Sun, seperti biasanya ia masih tampan seperti bintang Top Korea, tapi kini ia terlihat lebih dewasa, rambut pendeknya dipotong seperti seorang yang baru wajib militer, ia tersenyum kearahku dengan ragam emosi dimatanya. Sahabatku itu, aku merindukannya. Lalu ada paman Darren yang duduk di samping Lee Sun, terakhir kali aku melihatnya saat aku masih berusia tiga belas tahun, dan dia tak berubah sedikit pun. Masih tampan dengan rambut cokelat gelapnya dan mata birunya yang seperti batu saphire, jika bisa kukatakan Paman Darren adalah Wanita yang terjebak pada tubuh pria. Dia sangat menawan dan cantik luar biasa seperti seorang dewi Yunani. Aku duduk di samping Liam, tak ingin menjauh dari kakakku barang sedetik. Karena untuk sejenak akhirnya aku bisa merasa aman. Berada di samping Liam aku tak merasakan kekhawatiran akan disiksa, karena dia akan melindungiku. "Apa yang kau lakukan?!" Suara keras Aeghar mengejutkanku, semua orang menatapnya penuh tanda tanya. "Duduk?" "Dimana seorang Luna Queen harusnya duduk?" Mengapa Aeghar mempermasalahkan hal sepele seperti ini. "Pergilah ke sampingnya, Aku disini," bisik Liam, tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh disini. "Apa kau tahu?" tanyaku pada Liam. "Alpha Aeghar sudah mengumumkan itu ke seluruh penjuru Pack," balas Liam dengan senyum yang dipaksakan. Sial! Aku mendengus kesal tidak kusangka bahwa Aeghar akan bertindak secepat ini, lalu mengangkat bokongku mendekati Aeghar dan duduk di sampingnya. Pria itu tersenyum tipis penuh kemenangan. Tapi aku tidak akan membiarkannya menang lain kali. "Seperti yang sudah kalian lihat, bahwa Luna Jade baik-baik saja, jadi kalian bisa menarik seluruh enforce yang mengepung Kingdom," ujar Aeghar, aku terkejut tak percaya menatap ke empat Alpha di depanku. Kakakku merencanakan pemberontakan untuk menyelamatkanku? Aku menatapnya penuh tanda tanya dan saat kulihat tepat dimatanya, aku melihat kebenaran. Dia ingin mempertaruhkan segalanya demi aku? "Anda sepertinya salah paham Alpha Aeghar." Liam membalas dengan suara tenangnya, sekilas ia menatapku lalu kembali menatap Aeghar dengan sopan, "Aku ingin Jade kembali bersama kami," lanjutnya. Aku mendengar geraman pelan Aeghar. Dia tidak akan membuat ini mudah. Aku masih teringat ancamannya yang akan menghancurkan pack kami. Jika itu terjadi, aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana hidupku dan Liam. "Jade adalah seorang Luna Queen, Tempatnya adalah di Kingdom di-" Ucapan Aeghar terpotong oleh ucapan Liam. "Seorang ratu harusnya diperlakukan seperti layaknya seorang ratu, tapi anda membuatnya seperti tahanan!" Suara Liam meninggi satu oktaf, aku tahu kakakku sama persis denganku dalam hal keras kepala. Liam menatapku penuh permintaan maaf. "Anda membuatnya melemah, menyiksanya, apakah itu yang namanya seroang Luna bagi anda? Jika seperti itu, persetan dengan posisi Luna Queen, dia adalah adikku, dan aku akan membawanya kembali sebagai wanita terhormat!" lanjut Liam yang tampak tak bisa menahan lagi emosinya, sekilas aku melihat Matanya berubah menjadi kuning keemasan lalu kembali lagi. Hewolve nya hampir menguasai kesadaran Liam. "Liam, Nak tenangkan dirimu." Paman Darren mencoba membuat Liam tenang. "Luna Jade tidak akan pergi kemana pun, itu adalah keputusanku," balas Aeghar. "Kalau begitu aku akan meny- "Liam, kumohon tenanglah." Aku memotong ucapan Liam, aku tidak ingin ada peperangan terjadi. Sudah cukup dengan ancaman Aeghar, aku tidak ingin Liam memperkeruh masalah. "Alpha, bisakah kita bicara sebentar?" tanyaku Pada Aeghar. Pria di sampingku menatapku dengan tajam, tapi aku hanya bisa menatapnya dengan penuh permohonan, sesuatu yang tak akan pernah aku lakukan jika ini bukan untuk Liam. "Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" "Tidak di sini," balasku, aku melihat Aeghar memutar matanya. Tapi ia kemudian bangkit, lalu tidak seperti yang kuduga, ia menarik lenganku. Kami keluar dari ruang pertemuan, pada ruangan yang lebih kecil di samping ruang pertemuan. Aeghar membanting pintu dibelakang kami. Lalu ia menghempaskan tanganku. Jika aku pikir, memang benar ucapan Liam, dia tidak pernah akan memperlakukan aku dengan baik. Aku hanya penjahat yang berusaha membunuhnya. Begitulah Aeghar memandangku, kurasa. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?!" Aeghar tampak berusaha mengontrol emosinya agar hewolvenya tak mengambil alih. "Aku sudah ditahan selama empat tahun, hampir setiap hari aku di siksa menggunakan cambuk perak, setiap malam aku disuntik dengan wolfsbane, hidupku lebih buruk dari kematian jika itu yang ingin kau dengar, kalian sudah membuatku mati berkali-kali, apakah itu tak cukup?" tanyaku padanya, sebutir airmata lolos dari ujung mataku. Aku menatap Aeghar, pria itu terdiam, ia tampak, terkejut? Ekspresinya menunjukkan bahwa ia tak menduga aku akan mengatakan hal ini. Atau ia tak mengira bahwa aku akan mengalami semua ini, saat seharusnya jika aku memang seorang Luna diperlakukan sesuai dengan posisiku sebagai Luna Queen, nyatanya aku hanya tahanan dan kriminal di Kingdom ini. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi," gumamnya pelan, tapi dengan jelas aku bisa mendengarnya. "Biar kuperjelas ini untuk anda Alpha." aku sengaja memanggilnya seperti itu, agar ia tahu jarakku dengannya itu sangat jauh. "Di luar sana ada Enforce dari 3 Pack, di Kingdom ini sebagian besar berasal dari 3 Pack tersebut, meski Packmu adalah Pack terbesar tapi kalian kalah jumlah, jika terjadi peperangan kau fikir apakah orang-orang tidak akan membela Packnya masing-masing?" jelasku padanya. Aku yakin sebagai Alpha King ia sadar akan posisinya saat ini. Jika terjadi pemberontakan maka Kingdom akan sangat chaos. "Kau adalah seorang Lu-“ "Persetan dengan posisi itu, aku hanya ingin kembali ke tempatku berasal, aku tidak ingin berada ditempat yang sama denganmu," ucapku dingin. Mata Aeghar melebar, ia pasti terkejut dengan pernyataanku. Tapi itu kenyataannya, Imprint yang ia berikan atau jeritan Nymeria tidak akan membuatku lemah. "Kau salah Jade, kau tidak pernah tahu apa yang terjadi, dengan mudah aku bisa menghancurkan semua Pack itu." Kali ini aku yang tertegun, aku tak bisa mempercayainya. Dia mengancamku balik? "Samuel sedang melaksanakan tugas, sekali saja dia mendapatkan pesanku, maka semua orang di Pack mereka akan tewas, dan mereka tewas karena Luna Queen mereka yang keras kepala!" Jantungku hampir berhenti berdetak, bayangan orang-orang yang mati hanya karena aku, dan kepiluan menyebar dimana-mana, membuatku mundur selangkah menatap Aeghar tak percaya. Pria yang kuhadapi ini benar-benar psikopat. "Jika kau ingin membunuhku, maka bunuh saja aku!" teriakku frustasi, aku yakin Liam dan yang lainnya pasti mendengarkanku. Aeghar meraih kedua lenganku, ia mencengkramnya dengan kuat. "Tidak semudah itu, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup karena terus memberikan penolakan dan mempermalukanku!" "Sakit jiwa!" "Terserah padamu, jika kau pergi maka kehancuran akan menantikan semua Pack itu." Aku terdiam sesaat, aku menunduk agar airmataku yang terus bercucuran tak dilihat oleh pria jahat didepanku ini. "Aku hanya ingin pulang," gumamku disela isak tangisku. "Sialan!" Aeghar mendorongku pelan, lalu ia keluar dari ruangan dan kembali memvanting pintu dan membuatku terperanjat. Tak lama berselang pintu terbuka, aku melihat siapa yang datang. Aku melihat Liam berdiri di ambang pintu. Senyuman menghiasi wajahnya, ia mendekatiku lalu merengkuh wajahku, menatapku intens. "Kita akan segera pulang," ucapnya lirih. Aku sulit mempercayai pendengaranku, aku menatap Liam penuh tanda tanya. Apakah benar yang kudengar? Apakah ini bagian perlawanan Liam, atau Aeghar memberikan izinnya? Melihat reaksi Aeghar sepertinya tidak mungkin ia melepaskanku. "Alpha Aeghar memberikan izin, dia memperbolehkanmu ikut dengan kami." Liam menjelaskan. "Benarkah?" Aku terpaku karena heran, Pria itu sebenarnya kenapa? Sikapnya berubah-ubah tak pasti. Dia seperti penderita bipolar, aku bergidik ngeri membayangkannya. Liam mengangguk, dan ini masih membuatku tak percaya. Seorang Aeghar dapat berubah fikirannya? Aneh sekali. Atau dia sedang merencanakan sesuatu? Dia sedang mengujiku? "Meski dengan beberapa syarat." "Syarat, jelaskan padaku!" tuntutku pada Liam. "Ahh, Dia benar-benar membuatku merinding." Suara Lee Sun mengentirupsi dan mengusik perhatianku, dia dan Paman Darren memasuki ruangan. Lee Sun melihat kearahku, ia langsung menghambur kearahku dan memelukku erat. "Ahh demi Dewi Bulan, aku merindukanmu, Little Piggy," ujarnya. "Argh." erangku, ia memelukku terlalu erat. Aku rasa tubuh Lee Sun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Buktinya, aku terlihat kecil dibanding dengannya. "Ahhku tidakhhbbisaa bherrnafass," ujarku lagi, Lee Sun lalu melepaskanku, ia kemudian menatapku, menilai diriku, kurasa. "Kau semakin kurus, lihat rambutmu tak terawat, dan kau bau?!" "sialan!" Aku tertawa sembari memukul bahu Lee Sun, seenaknya sendiri ia mengataiku. "Ini bau wolfsbane, kurasa," jawabku. Mereka menatapku penuh iba, dan aku membenci tatapan itu. Aku masih kuat, dan tak butuh dikasihani. "Mereka memang keterlaluan," ucap Paman Darren, yang berdiri di samping kami. "Abraham akan membantumu sembuh dari pengaruh wolfbane," ujar Liam, aku tahu kemampuan Abraham sebagai seorang Beta sekaligus Zeta atau serigala penyembuh. Ia memiliki kemampuan penyembuhan seperti paman Ben. "Sekarang kemasi barangmu dan kita pergi dari tempat mengerikan ini," lanjut Lee Sun yang mengernyit ngeri sembari melihat ke sekeliling ruangan ini. "Aku tak memiliki barang apapun disini," jawabku dengan tersenyum lebar kepada mereka. Kami pun pergi. Berjalan menuju ke gerbang utama Kingdom, rasanya perasaanku begitu campur aduk. Aku bahagia, setidaknya aku benar-benar bisa menghirup udara segar kali ini. Tepat di depan gerbang, aku menghentikan langkahku, dan menoleh kebelakang, ada rasa sakit dihatiku meski hanya sedikit. Nymeria marah padaku, karena aku meninggalkan mate-nya, tapi itu tidak akan lama. Anehnya, aku merasa berat meninggalkan tempat ini. Tapi, aku harus pergi. Mataku tertuju pada menara, entah kenapa aku merasa seperti seseorang sedang mengawasiku. Aku menghiraukannya, apa peduliku. Aku hanya ingin menjadi warga biasa. "Little Piggy." Suara Liam mengusikku, aku menoleh kearahnya, lalu benar-benar melangkah meninggalkan Kingdom. Aku bebas ***   "Syarat apa yang kau setujui sampai dia melepaskanku begitu saja?" tanyaku saat kami di perjalan, aku masih asyik melihat keluar jendela mobil. Aku benar-benar merindukan udara pemandangan seperti ini. "Akan kujelaskan nanti saat kita tiba di Pack House," jawabnya singkat dan serius, tapi ia masih berusaha membuatku tenang dengan mengusap rambutku. "Hey Little Piggy, Haemin pasti akan senang melihatmu, dia sangat merindukanmu," ujar Lee Sun bersemangat. Aku tahu dia berusaha mengalihkan pikiranku dari hal-hal yang berbau Kingdom dan sekitarnya. "Tapi pertama-tama kau harus mandi, kau benar-benar bau," imbuhnya. "Bukankah ini aroma yang sexy?" Balasku, aku mendengar Lee Sun berdecak. "Dia memberikan Imprint padamu kan?" Tudingnya, dan itu kebenarannya. Aku yakin seisi mobil ini tahu bahwa Aeghar telah memberikan tandanya padaku, aromanya akan melekat padaku selama tanda ini masih ada. "Diam kau, Tuan Idol!" Geramku padanya. "Sudahlah, yang terpenting kau sudah bebas untuk sementara waktu ini," timpal Liam, kurasa dia keceplosan mengatakan ini. "Sementara? apa Maksudnya?" Liam dan Lee Sun langsung diam seketika. Di mobil itu memang hanya ada kami bertiga. Paman Darren mengendarai mobil pribadinya sendiri. "Kenapa kalian tidak menjelaskan apapun padaku, ini menyebalkan," keluhku kesal. "Kau ini selalu saja tidak sabar," timpal Lee Sun, aku melihatnya dari spion tengah mobil. Laki-laki itu sedang melipat tangannya di atas dadanya, sembari menutup matanya. Baru kusadari Lee Sun tampak kelelahan, ada lingkar hitam disekitar matanya. Dan dia tertidur! Lalu aku melihat Liam, kakakku itu juga terlihat sangat lelah, apa yang mereka lakukan hingga terlihat sangat kelelahan? "Kalian tidak merencanakan sesuatu yang buruk kan?" Tanyaku pada Liam. Ia menoleh sesaat lalu kembali fokus kejalan. "Bersabarlah sedikit lagi, setelah sampai di Pack House, aku akan menceritakan semuanya," balasnya, "Tapi setelah rapat," lanjutnya. Aku menghela nafas kesal. Tapi aku berusaha bsrsabar, aku membuka jendela mobil lalu mengeluarkan kepalaku, merasakan hembusan angin yang kencang menerpa seluruh wajahku. Rambutku berkibar, dan aku merasakan sejuknya udara hari ini. Kapan terakhir kali aku merasa sebebas ini.  Aeghar aku tidak akan membiarkanmu mengusik hidupku lagi!!!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN