Prolog

1960 Kata
Ketika aku masih kecil, setiap menjelang tidur ibuku selalu menceritakan sebuah kisah. Banyak di antaranya adalah kisah legenda mengenai leluhur kami. Ada satu cerita yang selalu aku ingat dan minta ibuku untuk mengulangnya. Kisah yang seharusnya tak boleh didengar oleh bocah berusia lima tahun yang sama sekali tidak mengerti artinya cinta, kecuali Ayah, Ibu, dan Kakak. Itu adalah kisah tragis; percintaan yang sangat tragis. Sepasang kekasih saling membenci dan pada akhirnya saling membunuh. Di usia yang masih begitu muda hanya itu yang dapat aku mengerti. Beranjak tumbuh, aku pun mulai melupakan kisah-kisah sebelum tidurku. Menguburnya dalam lubang memori di dalam benakku bersama tubuh ibuku yang terkubur dalam tanah basah dan lembab. *** Seharusnya hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-10. Seharian aku merengek pada kakakku untuk membawaku menuju ke tempat latihan para werewolf. Tidak pernah satu kali pun dalam hidupku melihat tempat latihan para werewolf, ayah dan kakak melarangku. Alasannya sangatlah konyol, mereka mengatakan akan banyak pria saling beradu otot, akan ada beberapa darah yang menggenang, yang jelas sesuatu yang seharusnya tak disaksikan oleh anak kecil sepertiku. Namun, mereka lupa jika aku adalah seorang werewolf juga, aku tidak akan takut hanya dengan melihat perkelahian atau darah. Aku begitu antusias ketika ayah mengijinkannya dan Liam menemaniku pergi ke tempat berlatih itu. Tempat itu cukup jauh dari pack house kami, Liam harus merubah wujudnya menjadi seekor werewolf dan menggendongku menuju ke pack castle. Melihat serigala milik Liam aku benar-benar iri, selalu terbayang bagaimana wujud serigala milikku kelak. Perjalanan yang cukup lama dan melelahkan itu akhirnya terbayar ketika aku melihat sebuah gerbang yang tampak seperti gerbang sebuah benteng menjulang tinggi di tengah hutan belantara. Gerbang itu terbuat dari kayu tapi terlihat cukup kuat dan kokoh. Aku tak bisa menahan diriku dan membuka mulut, takjub pada tempat ini. “Liam! Kau sudah datang! Seseorang berseru dari kejauhan, seorang pria paruh baya tapi bentuk otot tubuhnya masih begitu sempurna bagaikan pahatan patung para dewa. Dia adalah ayahku, Edward Gray Alexander, seorang Alpha King. “Princess!!!” Ayah mengangkat tubuh kecilku dan menggendongnya di atas bahu. Aku cekikikan dengan gembira di atas bahu ayahku. “Ayah akan memamerkanmu pada yang lainnya! Aku mengatakan pada mereka bahwa aku memiliki puteri yang sangat cantik tapi mereka tidak percaya.” Ayah begitu antusias. Sementara aku tak bisa berhenti mengagumi tempat tersebut. Di kanan dan kiriku terdapat bangunan-bangunan yang terjejer rapi dan bertingkat. Terbuat dari kayu, aku menduga ini mungkin tempat mereka tinggal selama berada di pack castle. Tampak tak jauh dari tempatku, aku melihat bangunan yang sangat besar. Itulah pack castle, bangunan tua yang masih berdiri kokoh dan megah. “Dengar semuanya!” Suara besar ayah mengusik anganku yang sedang mengagumi tempat ini. Rupanya kami telah sampai di lapangan berlatih. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki, mulai dari anak-anak seusiaku hingga pria dewasa. Tidak satu pun dari mereka menggunakan pakaian atas, semuanya bertelanjang d**a. Kecuali para wanita, mereka masih mengenakan kaos ketat tak berlengan. Semua orang berjalan mendekati kami, mereka membuat barisan hanya untuk mendengarkan ayahku. “Ini adalah puteriku, Jade!” Seru ayah dengan sangat antusias mengenalkanku pada semua orang yang telah berdiri menunggu pengumuman yang penting, dan seperti yang mereka dengan pengumuman penting itu adalah, Aku! “Jade, sapa mereka!” pinta ayahku. Segera aku mengangkat tanganku dan melambaikannya pada mereka sembari tersenyum lebar memamerkan gigiku yang telah tanggal beberapa. “Dia sangat cantik,” samar-samar aku mendengar orang berbisik tentangku. “Oi, Princess!” Seorang pria berambut panjang yang dikuncir ke belakang itu berlari kecil ke arahku dan ayah. “Paman Ben!” Dia adalah seorang Beta sekaligus teman ayah, dia juga sangat baik padaku. “Ayah, turunkan aku!” pintaku padanya. Kakiku belum menapak pada tanah, tapi Paman Ben segera mengangkat tubuhku kembali dan memutarnya di udara. “Hahaha, Paman turunkan aku!” kataku dengan terkikih-kikih. “Paman! Aku pusing!” keluhku karena dia tak berhenti berputar. “Baik-baiklah, hari ini kau berulang tahun, kan?” tanya Paman Ben sembari menurunkanku. Aku mengangguk dengan gembira. “Hari ini Jade-ku berulang tahun!! Kita akan berburu malam ini!” Seru Paman Ben disambut meriah oleh semua orang termasuk ayahku. “Edward, kejutannya sudah siap, haruskah kita memberikannya sekarang?” “Kejutan?” aku menatap Ayah dan Paman Ben secara bergantian, tidak sabar dengan kejutan yang telah mereka siapkan untukku. Kedua pria dewasa itu saling berpandangan penuh makna. Paman Ben segera mengangkatku lagi ke bahunya dan kami berjalan pergi dari lapangan berlatih. Mataku tak bisa sekedar berkedip ketika melihat ratusan senjata yang tersusun rapi di rak dan dipisahkan berdasarkan jenisnya. Di bagian kanan, terdapat beragam jenis pedang dan kapak, di sisi kiri terdapat macam-macam busur dan anak panahnya, di tengah ruangan terdapat sebuah kotak kaca, senjata yang terdapat di dalamnya seperti senjata legendaris. Mungkin itu adalah senjata milik para bangsawan jaman dahulu. “Kau kan sudah besar, jadi ayah sudah menyiapkan sesuatu untukmu.” kata Ayahku. “Paman juga, kami berdua yang menyiapkannya.” Paman Ben meralat, tidak terima jika ayahku tidak menyebutkan namanya. Aku hanya memutar mataku, tak ingin menyaksikan perkelahian para orang tua ini. “Jadi… ayah memutuskan untuk memberikanmu ini.” Ayah membuka kotak kaca yang ada di depanku, ia mengambil sebuah tongkat berwarna putih dengan kristal sebagai bahan mata tombaknya. “Ini adalah milik nenek moyang kita, kau lihat ujungnya itu.” Ayah menunjuk pada ujung tombak yang berkilauan. “Kau harus berhati-hati menggunakannya, karena itu terbuat dari Moon stone.” “Kau bisa membunuh para rogue hanya dengan sekali tusuk, keren sekali kan?” “Wah!” “Jadi berhati-hati saat menggunakannya, mengerti.?” Pesan ayah padaku, aku hanya mengangguk karena tak mau mengalihkan perhatianku pada setiap jengkal tombak yang setinggi badanku ini. “Uwaaw!” Pekikku yang terkejut ketika aku tak sengaja menekan sebuah tanda berbentuk bulan sabit di tengah tombak dan seketika tombak tersebut memanjang setinggi ayahku. “Hati-hati, Princess.” Paman Ben tersenyum sambil menepuk kepalaku dengan lembut. “Jadi akan kau beri nama apa senjata barumu?” tanya Ayah. Ini sudah seperti kebiasaanku memberi nama pada setiap benda yang aku miliki. Paman Ben heran dan mengangkat alisnya. “Semua barang miliknya pasti punya nama, di rumah dia memiliki boneka dengan nama Batu.” Paman Ben tertawa dengan sangat keras mendengarnya, tak habis pikir denganku yang memberikan nama secara asal pada bonekaku. Sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja boneka itu adalah pemberian Liam, dan warnanya abu-abu mirip seperti batu yang terdapat di pinggir danau samping pack house kami. “Jadi siapa namanya?” Paman Ben menunggu, aku tidak terpikirkan sebuah nama sekali dan menatap ke dua pria dewasa ini secara bergantian. “Clipspear?” tanya Ayah memberikan usulan. “Moonspear?” Paman Ben tak ingin kalah dari ayahku, “Moonspear lebih baik, pakai itu saja.” dan sedikit memaksa. Ayahku menggeleng padaku, ia membungkuk di hadapanku mensejajarkan matanya dengan mililkku. Berusaha untuk mempengaruhi pikiranku agar aku memilih nama yang dia usulkan. “Moonspear.” kataku dengan nada datar dan menatapnya dengan pandangan tak berdosa. Ayahku memegangi dadanya, seolah-olah sedang merasa kesakitan. Di sisinya Paman Ben tertawa puas, ia meraih bahuku dan mengajakku keluar meninggalkan ayahku meratapi nasibnya di dalam ruang penyimpanan senjata itu. *** Api unggun yang dinyalakan di tengah-tengah lapangan berlatih sangat besar, kobarannya membumbung sangat tinggi, bahkan kehangatannya pun terasa sampai tempatku berdiri. Banyak orang yang telah duduk dengan tenang mengelilingi api unggun tersebut. Kata Liam, malam ini mereka merayakan ulang tahunku dan Paman Ben sedang menyiapkan beberapa kelompok untuk berburu di dalam hutan. “Nah, baiklah, dengarkan aku semuanya!” Paman Ben berdiri di antara orang-orang itu. Mereka semua memusatkan perhatian pada Paman Ben. “Aku sudah membentuk beberapa kelompok berburu, jadi aku harap kalian pergi berburu dengan kelompok kalian masing-masing, yang menjadi pemenang perburuan ini akan aku beri hadiah. Mengerti?” Semua orang segera berkumpul dengan kelompok mereka masing-masing, aku? Aku hanya berdiri menatap pemandanganku itu dengan kecewa karena tak bisa mengikuti perburuan. Seandainya saja aku sudah bisa melakukan shift, mungkin aku akan bisa ikut dalam perburuan kali ini. “Mengapa cemberut begitu? Kemarilah!” Paman Ben melambaikan tangan padaku. Segera aku berlari ke arah Paman Ben, “Nah, Lee Sun, Hae Min, XinYue, ini adalah Jade.” Aku melihat kepada tiga anak yang berdiri di samping Paman Ben. Mereka begitu tampan dan cantik, hanya sedikit berbeda denganku. Mereka memiliki mata sipit yang sangat unik. Aku melambaikan tangan untuk menyapa mereka bertiga, dan ketiganya terlihat antusias berkenalan denganku. “Karena kau belum bisa melakukan shift, ikutlah dengan kelompok mereka. Ada beberapa orang dewasa yang akan menjaga kalian. Dan kau jangan berbuat onar ya, Princess?” Hatiku melompat-lompat gembira mendengarnya, rupanya aku diijinkan untuk ikut serta dalam perburuan. Ini akan menjadi perburuan pertamaku sebelum bisa melakukan shift. Kami berempat pergi bersama tiga orang dewasa lainnya untuk pergi menuju ke hutan. Karena hanya aku yang tidak bisa melakukan shift, seseorang harus menggendongku di punggungnya. Memasuki hutan belantara itu aku hampir tak bisa melihat apapun, tapi ke lima serigala yang mendampingiku tampak tak memiliki masalah dengan kegelapan ini. Ah, aku benar-benar sangat iri. Seharusnya aku juga bisa melihat dengan sempurna di malam hari seperti mereka. Setelah kami berjalan cukup jauh di dalam hutan, ke lima serigala ini berhenti. Aku memandangi ke sekelilingku, memasang indera pendengaranku dengan lebih waspada. Krusek kreseek. Terdengar sesuatu dari semak-semak. Salah satu dari mereka melompat dengan lompatan yang cukup tinggi dan menerkam sesuatu yang ada dibalik semak-semak. Seekor musang kecil menancap pada gigi taring serigala itu. “Hebat!” batinku. “Bolehkah aku turun? Aku juga ingin berburu.” tanyaku pada serigala yang menggendongku. Mata cokelatnya tampak ragu untuk membiarkanku turun. Aku terus membujuknya dan merajuk hingga dia akhirnya mengalah dan membiarkanku turun. Kami terus melanjutkan perjalanan, hingga tak lama kemudian kami mendengar sebuah suara lagi. Tampaknya lebih besar dari yang sebelumnya. “Biarkan aku yang melakukannya, kumohon.” pintaku dengan suara merengek andalanku. Serigala-serigala itu mengangguk pelan padau. Perlahan-lahan aku melangkah maju, menajamkan penglihatan dan pendengaranku, lalu mengangkat tombak di atas kepalaku bersiap untuk membidik. Malam gelap ini membuat aku benar-benar hampir buta, namun aku tidak menyerah. Ketika semak-semak itu bergerak dan menimbulkan sebuah suara aku segera melemparkan Moonspear dengan sangat kuat. “Aku akan mengambilnya, aku akan memeriksanya. Tidak perlu khawatir.” kataku untuk meyakinkan mereka saat aku hendak mengambil hasil buruanku. Menggunakan tanganku semak-semak itu aku sibakkan untuk membuat jalan. Aku mencari moonspearku, hatiku dongkol ketika moonspearku tak mengenai apapun. Tombak itu tergeletak begitu saja di tanah. Aku segera mengambilnya, dan berniat kembali. Tepat saat tubuhku berbalik dan kakiku mulai melangkah, aku mencium aroma yang begitu kuat. Aroma yang sama sekali belum pernah aku hirup sebelumnya, sangat wangi dan menenangkan. Tubuhku berbalik lagi dan aku melangkah pergi ke arah yang berlawanan untuk mengikuti aroma wangi yang begitu kuat ini. Perasaan aneh timbul dalam hatiku, aku tak biasanya menjadi gugup seperti ini. Setelah beberapa saat aku berjalan, aku melihat sebuah cahaya kecil di ujung jalan yang aku telusuri. Semakin aku mendekat, aroma ini semakin kuat, tanganku menggenggam kuat moonspear, berjaga-jaga jika ada hewan buas yang menyerang. Bukan hewan buas yang aku temukan ketika aku melihat cahaya  yang rupanya berasal dari lampu baterai di letakkan di atas tanah, itu adalah tubuh telanjang seorang wanita dengan rambut tergerai sedang bergerak seperti menunggangi kuda di atas seorang pria. Aku ingin berbalik dan pergi dari tempat itu segera tapi tubuhku membeku dan tak bisa bergerak, dadaku pun terasa sakit, seolah jantungnya berhenti berdetak, aku tidak mengerti mengapa ini terjadi padaku. Sesaat kemudian pria itu menoleh padaku, tatapan mata kami bertemu. Saat itu juga duniaku seperti berjalan dengan lambat. Sampai sebuah suara menggedor kesadaranku, “MATE!” Suaranya begitu keras memukul-mukul benakku. Tubuhku gemetar hebat, ketika aku hendak berlari pergi kakiku tersandung akar pepohonan. “Siapa kau?!” Pria itu begitu tinggi dan memiliki tubuh yang besar. Dia tampak seperti raksasa bagiku, matanya menatapku dengan sangat tajam, mengerikan hingga jantungku berdegup tak karuan. Bibirku tak bisa kugerakkan untuk berteriak, dan tubuhku benar-benar membatu, sementara suara di otakku sama sekali tak berhenti menyebutkan satu kata. “MATE!” berulang-ulang hingga kepalaku berdenyut nyeri. “Jade! Kau disini rupanya!” helaan nafas lega lolos dari pernapasanku ketika sosok yang sangat familiar itu berjongkok di hadapanku dan menghalangi pria raksasa yang menakutkan itu. “Ay-ayah…” Akhirnya aku bisa mengumpulkan kekuatanku untuk membuat suara keluar dari bibirku meski itu hanya berupa cicitan. “Kau terluka, astaga! Ini perak, kita harus segera kembali untuk menemui Paman Ben.” Wajah ayah terlihat sangat panik, bahkan terlihat pucat. Ayah segera mengangkat tubuhku, lalu ia berbalik menghadap pria raksasa itu. Aku tak sanggup melihat wajah pria itu, maka kusembunyikan wajahku di d**a ayah. “Maafkan puteriku, Aeghar. Dia tidak bermaksud untuk mengganggumu.” kata Ayah.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN