Orang Ketiga 2

1067 Kata
"Jangan rindu, rindu itu berat," ucap Mona sambil tertawa memeluk tubuh tegap Marvin. Pria yang sedang berada di pelukan Mona itu tidak bereaksi sedikitpun. Ia hanya menikmati pelukan dari gadis yang telah menemani nya selama hampir lima tahun lebih. "Kalau kangen tinggal video call," Mona menatap Marvin dengan mata berkaca-kaca. Dewi yang berada di belakang dua sejoli itu berkali-kali mengusap air matanya menggunakan ujung kerudung nya. "Dewi," Mona memeluk Dewi dengan mata basah. "Gua pasti bakal kangen banget sama lo," ucap Mona terbata-bata. "Gua juga," Dewi ikut terisak. "Pokonya kita harus saling hubungin setiap hari," ujar Mona. "Pasti. Lo jangan lupa sama gua kalau dapat teman baru di sana," Dewi mengeratkan pelukan mereka. "Udah, pesawat nya sebentar lagi berangkat," Marvin menghentikan drama kedua orang sahabat itu. Sebelum benar-benar pergi Mona menyempatkan diri mencium seluruh wajah Marvin. "Pulang naik apa?" Tanya Marvin pada Dewi yang berjalan di sebelah nya dengan kondisi masih tergugu. "Naik taksi," ucap Dewi dengan serak. "Bareng gua," Marvin masuk lebih dulu ke dalam mobil. Dewi ikut masuk ke dalam mobil tetapi setelah lima menit lebih dirinya masuk, mobil Marvin tidak bergerak sedikitpun. Dewi menatap Marvin yang diam lalu matanya melihat mata Marvin yang menatapnya tajam melalui kaca di dalam mobil. "Kenapa?" Tanya Dewi bingung. "Duduk di depan." "Hah kenapa?" Tanya Dewi bingung. "Gua bilang duduk di depan," tegas Marvin. Dewi langsung beralih tempat ke depan dengan hati dongkol. "Berangkat cepat," Dewi menatap Marvin yang masih diam menatap dirinya. Marvin membuang wajah nya sebentar lalu memajukan tubuhnya. "Mau ngapain lo?" Tanya Dewi was-was. Dewi menahan napas nya saat rahang Marvin berada di hadapan nya. Matanya reflek melihat jakun lelaki itu yang bergerak. Marvin menarik seatbelt lalu memasangkan nya untuk Dewi. Setelah selesai lelaki itu kembai ke tempat semula menjalankan mobilnya dengan santai. Sedangkan Dewi mati-matian mengatur napas nya agar tak ngos-ngosan. "Loh kita kemana?" Tanya Dewi bingung. "Apartemen gua." "Ngapain?" Tanya Dewi semakin bingung. "Gua mau ganti baju sebentar." "Ribet banget. Emang baju lo kenapa?" Tanya Dewi heran. "Bau." "Bau?" Tanya Dewi tak percaya. Gadis itu mendekatkan dirinya sedikit lalu mengendus "wah kayanya hidung lo bermasalah." "Hidung lo yang bermasalah," Marvin menatap Dewi yang menatap nya sebentar. "Apaan wangi gitu nempel parfum nya Mona dibilang bau," heran Dewi karena yang ia cium hanya bau parfum Mona yang sangat khas di dalam mobil. "Gua ga suka baunya." "Kenapa bisa gitu?" "Bisalah," Marvin tersenyum. Dewi menatap lelaki di samping nya aneh. Seperti tidak kaya biasanya. "Gua rasa lo aneh deh Vin." "Aneh gimana?" Tanya Marvin. "Nah ini maksud gua," Dewi menunjuk Marvin. "Kenapa lo tiba-tiba banyak ngomong. Perasaan biasanya lo paling malas ngomong apalagi hal yang ga penting kaya gini," Dewi mengeluarkan keheranan nya. "Siapa bilang ga penting?" Marvin menatap Dewi lama. Dewi yang ditatap intens oleh Marvin membuang mukanya "cepetan ganti baju gua tunggu di sini." "Lo ikut naik," ucap Marvin. Dewi menatap Marvin dengan mata memicing. Melihat pria di sampingnya dengan seksama. "Kenapa?" Tanya Marvin bingung melihat Dewi yang memandangnya. "Lo beneran Marvin?" Tanya Dewi dengan mata tajam. Marvin mengangguk membuat Dewi menyipitkan matanya "ga mungkin." "Kenapa ga mungkin?" Tanya Marvin yang sudah berdiri di samping pintu mobil yang diduduki Dewi. "Iya gua ikut naik," putus Dewi lalu keluar mobil menyusul Marvin yang sudah lebih dulu berjalan menuju lift. Di dalam lift suasananya sangat sunyi karena mereka sama-sama diam. Dewi dibilang sangat sering menginjakkan kakinya di lantai apartemen kelas tinggi yang dihuni oleh Marvin karena sering mengantar jemput Mona. Tiba di depan pintu unit nya dengan santai Marvin memasukkan kode di hadapan Dewi. Lelaki itu langsung membuka lebar pintu yang langsung ditutup Dewi. "Gua nunggu di sini," Dewi duduk di sofa empuk yang ada di ruang tamu. Matanya tidak berhenti mengamati detail apartemen Marvin yang sangat mewah. Buktinya jarang-jarang unit apartemen memiliki ruang tamu khusus apalagi ukuran nya yang luas. "Hah, gimana gua ngambilnya?" Tanya Dewi seorang diri ketika mendapati pesan dari Mona yang meminta dirinya mengambil kalung gadis itu yang tertinggal di apartemen Marvin dan kebetulan ia sekarang ada di sana. "Marvin," panggil Dewi sambil berjalan pelan menelusuri setiap ruangan. Walaupun sering bolak-balik ke sini tapi, Dewi hampir tidak pernah masuk lebih dalam ia biasanya hanya menunggu di ruang tamu atau sampai pintu saja. "Luas amat," Dewi berkata karena dari tadi ia berjalan tidak menemukan kamar. "Vin?" Panggil Dewi lagi dengan nyaring. "Kenapa?" Marvin keluar dari ruangan yang ada di belakang nya. "Bikin kaget ah," Dewi memegang dadanya terkejut. "Mata gua ternoda." Marvin keluar kamar menggunakan handuk yang melilit di pinggang tanpa menggunakan atasan bahkan air masih mengalir dari rambut pria itu. "Kenapa manggil gua?" Tanya Marvin lagi. "Gua mau ambilin kalung Mona yang ketinggalan di kamar lo," Dewi memperlihatkan pesan Mona pada Marvin. "Cari sana," Marvin menunjuk ruangan yang ada di seberang mereka. "Gapapa gua masuk?" Tanya Dewi sungkan. "Hm." Dewi berjalan menuju ruangan yang ditunjuk Marvin. Saat masuk ke dalam sana gadis itu langsung mencium aroma maskulin. Ia berjalan menuju sebuah meja dekat ranjang. "Kayanya yang ini," Dewi meraih kalung berwarna putih yang sangat dia kenali karena dari awal kenal Mona, Dewi tidak pernah melihat sahabatnya itu melepas kalung pemberian dari almarhum bapak nya. Saat berbalik Dewi menabrak sesuatu yang keras. Kepalanya mendongak menatap Marvin yang jauh di atasnya juga menunduk menatap dirinya. "Gua kira apaan keras banget," Dewi berjalan ke samping sambil memainkan kalung Mona di tangan nya. "Tolong gua," Marvin menahan tangan Dewi. Dewi membalikkan badan nya menatap Marvin "kenapa?" "Tolong masakin gua sesuatu," pinta Marvin. "Lo lapar?" Tanya Dewi tertawa. Marvin mengangguk membuat tawa Dewi semakin keras. Gadis itu menepis tangan Marvin yang masih memegang tangan nya pelan. "Belum sehari ditinggalin Mona lo udah kaya gini," Dewi menggelengkan kepalanya sambil berjalan keluar kamar menuju dapur. Marvin hanya diam mengamati tubuh pendek yang berjalan hingga tidak terlihat oleh penglihatan nya lagi. "Tapi gua ga tau di mana dapur," Dewi kembali masuk ke kamar menghampiri Marvin. "Di sana," masih menggunakan handuk Marvin berjalan menunjukkan dapur kepada Dewi. "Besar juga dapur lo," takjub Dewi. "Pasti leluasa Mona saat masakin buat lo." Dengan cepat Dewi pergi ke wastafel lalu membuka keran yang membuat gadis itu terkejut karena air yang keluar dari sana sangat banyak. "Awas," Marvin menarik Dewi yang basah kuyup terkena semprotan air wastafel yang sangat deras. "Duh baju gua basah," Dewi memegang pakaian nya yang basah. Marvin mendekati wastafel lalu meminta Dewi mengambilkan pemutar keran wastafel yang terjatuh tidak jauh dari kakinya. "Ni-akh," Dewi terjatuh saat ingin menyerahkan nya pada Marvin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN