Hatinya terenyuh melihat perempuan itu menangis sesenggukan. “Ada apa?” tanyanya lembut. Dea hanya menggelengkan kepala. Air mata perempuan itu menetes dengan deras di pipinya. Andre mengusap buliran air itu dengan lembut. Memandu Dea untuk duduk di sofa, membiarkan perempuan itu terisak di pundaknya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ia menemani Dea cukup lama untuk mengeluarkan semua air mata di dalam pelupuknya. Mengelus-elus pundak wanita itu, berharap bisa memberikan semangat. Hatinya sangat sakit melihat belahan jiwanya tersiksa seperti ini. Ya, hingga sekarang Andre masih mencintai Dea. Namun, tak sekalipun ia berusaha merebut perempuan itu dari suaminya. Dia sadar diri jika tidak bisa memiliki Dea. Dan Dea sudah mencintai lelaki lain. Sayangnya, hingga sekarang ia tidak mamp

