Dea menengadahkan pandangannya yang kabur pada kakaknya. Ucapannya terpotong setelah tangan Levi yang kekar melayang di pipinya.
“Sadarkan dirimu Dea!” teriak Levi, ia tak terima jika istrinya dicaci dengan sebutan tak senonoh, meskipun pelaku itu adalah adiknya sendiri.
Air mata jatuh dari pelupuk perempuan yang baru saja mendapat tamparan dari kakak tersayangnya. Hatinya terasa seperti dicabik-cabik karena mendapatkan perlakuan kasar dari Levi.
“Sadar!? Kamu yang harus sadar Mas!” bentak Dea. Teriakan itu kembali membuat Levi mengernyitkan keningnya. Napasnya mulai memburu lantaran tersulut emosi. Adik perempuannya kini berani membantahnya.
“Bicarakan baik-baik! Ada masalah apa hingga kamu kesetanan seperti ini?!” hardik Levi menahan emosin. Lelaki itu sangat terkejut melihat Dea yang tiba-tiba kesetanan bahkan mencacinya tanpa ampun.
Direngkuh tubuh wanita itu, berharap emosinya segera reda. Ada perasaan menyesal karena telah menampar adik semata wayangnya. Ini pertama kalinya Levi berlaku kasar pada Dea.
“Lepaskan!” ronta perempua hingga badannya terlepas dari pelukan Levi. Napasnya ngos-ngosan karena sudah dirundung emosi yang begitu hebat.
“Kamu mempermaikan hidupku Levi! Kamu jadikan aku seperti barang! Bahkan wanita itu menghancurkan rumah tanggaku, membohongimu!” murkanya dengan kemarahan yang meluap-luap.
Nina sedari tadi hanya terpaku melihat peperangan sengit di depannya. Badannya bergetar hebat, ada ketakutan melihat adik iparnya yang mengamuk.
Levi semakin tak mengerti arah pembicaraan adiknya. Apalagi perempuan itu menyangkut pautkan Nina, istrinya. Ia sangat mengetahui jika Nina tidak masuk ke dalam permasalah pernikahan adiknya.
“Nina salah apa Dea? Bicara yang benar, jangan teriak-teriak,” tegas Levi dengan langkah yang semakin mendekat. Ia berusaha mendekati adinya yang sedang kesetanan. Ini pertama kalinya Levi melihat Dea begitu beringas.
“Tanyakan itu pada istrimu! Lihatlah dia sedang ketakutan sekarang.” Dea menatap tajam Nina. Perempuan itu langsung gelagapan mendapat tatapan tajam adik iparnya.
Levi menengok ke arah istrinya, dan hal yang dikatakan Dea memang benar. Terlihat Nina sedang melihat mereka dengan tatapan nanar dan badan yang bergetar ketakutan.
“Kamu masuk ke kamar sekarang!” bentak Levi yang kesal karena melihat istrinya lemah.
Dengan langkah tertatih wanita itu meninggalkan ruangan tempat Dea dan Levi berada. Dirinya merasa ketakutan melihat pertengkaran kedua bersaudara itu. Memilih untuk menjauh dari tempat perkara adalah pilihan yang tepat untuk Nina, ia tak ingin terlibat lebih jauh dengan masalah itu.
Kini Levi kembali menatap Adiknya yang sedang dirundung emosi, sedari tadi Dea tak bisa melepaskan pandangan dari istrinya. Ia menelan salivanya dengan paksa, Levi sadar jika ada salah pada perempuan kesayangannya tersebut.
Dan kini Dea sudah tahu mengenai kesalahannya, Levi hanya bisa pasrah mendapat kemarahan adiknya.
“Kakak minta maaf Dea,” lirih Levi mendekat pada adiknya. Tatapan penuh penyesalan terlihat pada wajah diamond dengan jambang tipis di dagu lelaki itu. Manik coklat itu menatap Dea lekat, berusaha meruntuhkan tembok kemarahan yang berdiri kokoh dalam tubuh adiknya. Sayangnya itu tak mempan pada Dea.
“Tidak, aku tidak bisa memaafkanmu Levi! Kamu sudah menghancurkan hidupku.” Dea mendorong lelaki itu menjauh darinya.
Levi semakin sedih mendapat penolakan dari adiknya. Sebelumnya ia memang dirundung emosi, tapi penyesalan itu dengan cepat menyeruak dalam hatinya. Pria itu memikirkan solusi atas permasalah yang sedang terjadi, jika ia tak bisa menurunkan emosi adiknya semua akan menjadi runyam.
“Apa yang kamu inginkan untuk menebus semua kesalahanku? Katakan pada Mas,” tanya Levi.
Tatapan nanar Levi ini membuat Dea semakin muak melihatnya.
“Kembalikan semua yang telah kamu ambil Levi, termasuk kebahagiaanku,” ucap Dea.
“A-aku-” kalimat Levi terpotong karena Dea buru-buru mengeluarkan ancaman.
“Kembalikan semua hartaku yang telah kamu dan Kevin curi! Balikkan semua namaku dalam surat kekayaan yang sudah kamu ubah menjadi nama Kevin!” ucapan yang penuh dengan penekanan. Dea menarik kerah Levi,“Atau aku akan memberitahu papa mama kalau kamu sudah menjual rumah mereka tanpa ijin!” ancamnya.
Nafas keduanya memburu seperti banteng, Dea yang dipenuhi dengan amarah sedangkan Levi ketakutan karena adiknya mengetahui rahasia terbesar.
Kedua mata mereka beradu tajam. Dea menatap kakaknya dengan dingin, namun ada banyak kemarahan yang tersimpan di dalamnya.
“B-baik! Lepaskan cengkeramanmu Dea,” pinta Levi gagap. Perempuan itu segera melepas cengkeramannya.
“Hahh...” Levi menghela napasnya yang sempat tercekat. Ia tak menyangka jika hari ini telah tiba, hari dimana ia di hajar habis-habis an oleh adiknya.
“Aku beri waktu seminggu, jika kamu tidak melakukan apa yang ku perintahkan. Jangan salahkan aku jika ada hal buruk terjadi dalam keluarga kecilmu,” ucap Dea dengan senyum smrik.
“Iya, kakak akan kembalikan semuanya padamu. Kamu yang sabar ya Dik, maafin Kakak,” ujar Levi penuh penyesalan. “Tolong jangan bilang masalah ini pada Mama Papa,” lanjut Levi sembari sujud di depan Dea.
Dea hanya menatap kakaknya dingin, tak ada belas kasihan kepada saudaranya itu. Rasa sakit yang telah ia tahan selama ini adalah ulah Levi, kakak yang selama ini ia idolakan dan menjadi pelindungnya. Namun, kini Levi hanyalah seorang penjahat di mata Dea.
“Katakan juga pada istrimu, aku menunggunya selama satu minggu. Jika tak segera menyelesaikan masalah yang ia buat, aku tak segan-segan memasukkannya ke jeruji!” ancam Dea sekali lagi. Tangannya mengepal mengingat ucapan Icha, dimana perempuan itu mengatakan jika Nina adalah orang yang membantu Kevin dan Icha bersatu. Ditambah Nina diam-diam mengkhianati kakaknya.
“Iya, iya, Kakak akan memberitahunya. Kamu percayakan sama Kakak?” harap Levi. Ia tak mengerti kesalahan apa yang diperbuat istrinya.
“Aku tidak bisa mempercayaimu Levi, bahkan sekarang kau terlihat seperti cunguk bodoh di depanku,” ucap Dea datar.
Mendengar sebutan cunguk dari adiknya membuat hati Levi teriris. Kepalan tangannya semakin menguat. Lelali itu menunduk menyesali semua perbuatannya.
Satu-persatu kejadian memilukan kembali terlintas di kepalanya. Bahkan ketika ia dipermalukan oleh temannya sendiri, Kevin.
“Maafkan aku.” hanya kalimat itu yang dapat ia ucapkan pada adiknya.
“Hahh...” Dea menghela nafas, kata maaf yang terlontar dari mulut saudara kandungnya terdengar seperti lelucon. Tanpa sadar air matanya jatuh melihat Levi yang tak berdaya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Dea melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Levi. Meninggalkan lelaki itu yang masih sujud memohon ampun kepadanya.
Namun, ia belum bisa memaafkan kakaknya.
Sepeda motor yang sebelumnya tergeletak sembarangan kini sudah tertata rapi di depan. Dea menstater sepeda motornya dan melaju meninggalkan rumah megah Levi. Satpam yang berjaga tersenyum ramah padanya ketika membukakan gerbang.
“Hati-hati Mbak Dea!” teriak satpam itu. Dea hanya diam tak merespon apapun.
Perempuan itu membelah jalanan kota Surabaya yang padat. Peluhnya tak berhenti menetes, hatinya terasa dicabik-cabik.
Kesalahan apa yang ia perbuat di masa lampau hingga menghasilkan masalah yang begitu berat untuknya.
Tiba-tiba, Tiinnn!!! Tinnn!!!
Tubuh Dea sudah tersungkur di jalanan.
Ckittt!!! bunyi rem yang mendadak dari sebuah mobil yang melaju tepat di depannya.
“Aaaa!!!” pekik Dea.