Chapter Sebelas

2267 Kata
            Aster duduk dalam singgasana yang sejak tadi hanya bisa dipandanginya dari kejauhan. Tangannya mengelus tirai-tirai menjuntai yang lembut. Tak disangka semakin dilihat dari dekat, semakin tampak keindahannya. Sayangnya pemandangan indah itu harus menjadi buram akibat matanya yang selalu berair. Siapa yang bisa membendung perasaan senang saat bertemu ibunya untuk kali pertama dalam seumur hidup? Begitulah yang dirasakan oleh Aster.                 Sembilan belas tahun rasa rindu yang terpendam, jika bisa dia tumpahkan rasa senangnya itu, mungkin beberapa bulan lamanya Aster tidak akan berhenti menangis. Bibirnya tersungging, memunculkan sebuah senyuman dengan sangat manis. Meski air matanya tidak pernah mau berhenti mengalir, terdorong oleh rasa haru serta bahagia yang ada.             Aster tidak pernah mengira akan menemukan ibunya di tempat yang tidak terduga. Apalagi sang ibu bukan hanya orang biasa, melainkan seorang ratu. Pemimpin dari tempat yang dia sendiri belum mengenalnya. Dengan begitu, Aster yang memiliki status sebagai anaknya otomatis akan menjadi seorang puteri.             Aku? Puteri? Huh. Aster menertawakan pikirannya sendiri. Haruskah aku menggunakan pakaian tipis yang menjuntai seperti itu juga?             Seperti biasa, banyak pertanyaan bermunculan dalam kepalanya. Akan tetapi, Aster harus mengatur emosinya terlebih dahulu. Dia seakan merasa puas hanya dengan berdiam diri dalam pelukan sang ibu. Menikmati kehangatan yang belum pernah dirasa. Saat ini permintaannya hanya satu, bisa bersama dengan ibunya dalam waktu yang sangat lama. Bahkan lebih lama dari waktu yang dia habiskan dalam penantian.             Mata Aster tak pernah berhenti menatap wajah Sasha. Betapa cantiknya dia. Rambut hitam bergelombang menambah keindahan pada wajahnya. Aster memiliki rambut yang sama, namun dia tidak merasa miliknya secantik itu.             "Matamu akan bengkak jika terus menangis seperti itu," ucap Sasha dengan lembut.             Aster sedikit tertawa karena malu. "Aku sedang merasa sangat senang."             "Begitu pun denganku." Sasha mencubit dagu Aster pelan.             "Banyak yang ingin aku tanyakan padamu, bu."             "Kita punya banyak waktu, bukan?"             Aster tersenyum. "Sarah menceritakan semua padaku. Dari mulai kedatangan ayah ke Nibbana. Lalu kalian bertemu. Ibu melahirkanku di tengah ladang bunga aster, dan kita semua pergi dari sana. Tapi aku sempat heran kenapa ibu seakan tidak mengenal nama Nibbana, dan Sarah bilang kalau namamu Sheila. Pada awalnya aku tidak bisa percaya dengan semua ini, tapi kupikir ibu pasti memiliki alasan sendiri."             Wanita itu hanya membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya. "Iya. Memang benar, banyak sekali hal yang tidak kamu ketahui. Pertama, kenyataan bahwa nama asli yang kudapatkan dari kakekmu sangat tidak kusukai. Oleh karena itu, saat aku sampai di sini, kuganti namaku menjadi Sasha. Dan, mengenai tadi..." Sasha terdiam sejenak. "Aku hanya tidak ingin penduduk kota ini tahu tentang Nibbana. Kamu pasti bisa membayangkan jika obsesi mereka akan tempat indah itu muncul, bukan?"             "Ya." Aster mengerti benar hal seperti itu berkat pengalamannya dengan Jarlish dan Roy tempo hari.             "Tapi aku tidak tahu sama sekali tentang Oakland, dan sudah seperti apa Nibbana saat ini?"             "Sarah bilang tempat itu tidak banyak berubah sejak kita pergi. Mungkin sekarang desanya menjadi lebih maju berkat sokongan dari Oakland. Dua tempat itu saling menyokong dengan melakukan pertukaran barang secara rutin beberapa bulan sekali. Nibbana mengirim daging, buah, sayur, kayu, sedangkan Oakland mengirim besi, mesin, kendaraan."             "Kedengarannya Oakland kota yang sangat maju."             "Ya. Meski hanya tumbuh di atas sebuah besi. Tapi kota itu jauh lebih modern dibanding Nibbana. Meski aku lebih suka tinggal di Nibbana, namun tidak bisa dipungkiri akan lebih mudah dan praktis jika tinggal di Oakland. "             "Aku jadi tertarik ingin melihatnya sendiri."             "Mungkin kita bisa pergi ke sana. David pasti akan dengan senang hati menerima kedatanganmu."             "David?"             "Ya. Dia Walikota baru Oakland. Setelah tragedi beberapa bulan lalu, akhirnya penduduk sendiri yang mengangkatnya." Entah kenapa Sasha terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa, bu?" tanya Aster yang kebingungan.             "Tidak apa-apa," ujar wanita tersebut dengan senyuman seperti biasa.             "Lalu, masih ada yang ingin aku tanyakan lagi. Soal ayah. Ada di mana dia sekarang?"             "Ayahmu, ya?"             "Ya!"             "Soal itu... Aku ingin bercerita banyak. Namun, ini belum saatnya kamu tahu."             Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mengetahui tentang ayahku sendiri? Apa yang terjadi padanya? Apa maksud dari belum saatnya aku untuk tahu? Kenapa ibu harus menyembunyikannya dariku? Diri Aster tidak pernah bisa menerima sebuah rahasia. Jika tidak ada yang ingin memberitahu, maka dia akan mencari jawabannya seorang diri. Egois, sungguh sangat egois. Aster sendiri tahu akan hal tersebut. Tapi dia tidak pernah puas jika tidak berhasil menemukan sesuatu yang dicarinya.             "Aku pasti akan menceritakannya, kamu jangan khawatir," tambah Sasha, seakan dia bisa membaca semua yang dipikirkan anaknya itu. Wajah Aster memerah dibuatnya. "Untuk sekarang, akan aku mengajakmu berkeliling di kota ini."             Kelabu pada wajah Aster seketika menghilang. Dengan cepat berganti dengan ekspresi penuh semangat. "Oke!" serunya.             Aster mengikuti langkah Sasha keluar dari singgasananya, berjalan di atas karpet merah, menuju sebuah gerbang besar. Teman-temannya yang lain sudah lebih dulu diantar ke tempat peristirahatan. Padahal Aster berharap bisa berjalan-jalan bersama di dalam kota asing tersebut. Mungkin akan dia lakukan setelah ini, pikirnya tak ingin mengambil pusing.             Dua orang penjaga berlari, memegangi gagang pintu yang kemudian ditariknya. Pintu besar nan tinggi itu tampaknya sangat berat untuk dibuka. Namun kedua lelaki yang ada sudah terbiasa untuk itu.             Aster menaruh tangannya di depan mata secara spontan. Cahaya matahari terlalu terang untuk memperbolehkannya melihat dengan jelas. Aster segera melanjutkan langkah ketika terdengar ketukan dari hak sepatu Sasha yang membentur lantai. Berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.             Cahaya mentari sudah mulai bersahabat dengan matanya. Aster menurunkan tangan, dan menajamkan penglihatan. Sungguh tak menyangka, kini dia berada di ujung sebuah kota. Sebelum melihat lebih jauh, Aster memutarkan badan. Dia menyaksikan sebuah bangunan megah bak sebuah istana. Tidak pernah dikira dia baru saja keluar dari tempat tersebut.             Aster kembali memutarbalikkan tubuhnya, melihat ke arah berlawanan dengan istana. Posisinya saat ini tepat berada di ujung kota. Serta di atas tempat tertinggi yang ada di sana. Hal tersebut membuat Aster dapat menyaksikan seisi kota dengan jelas. Anak tangga yang berjajar di hadapannya tersambung dengan sebuah jalan besar yang amat panjang. Di sisi kiri serta kanan jalan tersebut berderet berbagai bangunan sederhana. Warnanya hampir seragam, putih kecokelatan, seperti sebuah kertas usang. Temboknya terbangun dari sesuatu yang tampak seperti batu, tapi sebenarnya bukan. Aster tahu dia tidak memiliki pengetahuan tentang benda tersebut.             Hal yang paling mengagumkan adalah bahwa kota tersebut benar-benar berada di dalam air. Aster menengadahkan kepalanya ke atas. Dapat terlihat dengan jelas bentangan kaca tebal yang melindungi tempat tersebut dari air laut. Kaca tersebut berbentuk balok, seakan menyerupai sebuah sangkar dari orang-orang yang tinggal di dalamnya. Meski tak ada lagi awan-awan yang biasanya terlihat, berbagai ikan warna-warni seakan menggantikannya.             "Selamat datang di Dione," ucap Sasha penuh rasa bangga.             "Dione," ulang Aster dengan pelan. Dia masih belum bisa melepaskan pandangan dari ikan-ikan yang seakan berterbangan di atas kepalanya itu. Sungguh menakjubkan, luar biasa, indah sekali, berbagai ekspresi kekaguman bermunculan dalam kepala Aster. Saking terkesimanya, bibir gadis itu tak sanggup berkata apapun lagi. Tidak ada kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikan apa yang sedang dia rasakan.             "Ayo kita turun!" ajak Sasha.             Aster mengembalikan pandangannya ke depan, sesekali ke bawah kakinya. Dia tidak ingin terjatuh dari tempat tinggi itu hanya karena lalai menginjak anak tangga. Benda tersebut terlihat sangat banyak. Rasa-rasanya dia ingin langsung melompat hingga ke bawah. Kalau saja tidak sayang terhadap nyawanya.             Tanah di dasar laut terasa lebih lembab. Sasha mengingatkannya untuk berhati-hati agar tidak terpeleset menginjak lumut yang ada di mana-mana. Sebuah jalan lebar seakan menyambutnya. Di tiap sisi terdapat berbagai jalan kecil yang saling berhubungan dengan jalan lainnya. Penduduk Dione berlalu lalang disibukkan oleh sesuatu. Namun membuat kota tersebut terasa sangat hidup.             Aster menyamakan langkah dengan ibunya. Berusaha agar tidak tersandung karena terlalu terkesima dengan suasana yang ada. "Jalan ini merupakan jalan utama Dione. Sedangkan di sampingnya kamu bisa menemukan banyak jalan-jalan kecil. Berhati-hatilah agar tidak tersesat, karena bagiku jalanan itu terasa seperti labirin."             "Tenang saja, aku seorang pencari jalan yang bagus."             Penduduk Dione ternyata hidup dengan sederhana. Sangat bertolak belakang dengan kesan pertama yang dia dapat. Para petinggi yang ada di istana, termasuk ibunya hidup di tengah kemewahan. Tempat tinggal mewah, baju mewah. Sempat terbesit bahwa pemerintahan di sana sama tidak adilnya seperti Oakland di masa lalu. Namun, pemikiran tersebut segera lenyap setelah melihat para penduduk yang selalu memberi senyuman tulus kepada sang ratu. Aster tidak mendapatkan ekspresi kekesalan sedikitpun. Sepanjang jalan, semua orang menyempatkan diri untuk sekedar membungkukkan badan dan tersenyum. Oleh karena itu, Aster menyimpulkan bahwa Dione merupakan sebuah kota makmur dengan penduduk yang sederhana.             Pakaian orang-orang yang ada tidak berwarna-warni. Warnanya rata-rata gelap, seperti, abu, hitam, atau hijau tua. Mungkin satu-satunya warna cerah hanyalah putih. Seperti warna kain yang ada di atas kepala mereka. Ternyata kain penutup kepala tersebut merupakan ciri khas dari masyarakat Dione. Hampir semua orang memilikinya.             Aster berjalan melewati pertokoan, atau mungkin sebuah pasar. Ternyata makanan mereka tidak jauh berbeda dari Oakland. Makanan laut. Namun ada juga sayur dan buah. Entah bagaimana mereka menanam tumbuhan itu di dalam laut. Sepertinya Dione memiliki teknologi yang tak kalah canggih dari Oakland.             "Kamu mau satu?" Sasha menyodorkan sebuah sate cumi.             Aster baru menyadari mereka sedang berada di depan sebuah kedai. Diambilnya sate itu dengan senang hati lalu memakannya. Kelezatan yang membuatnya teringat kepada Oakland membalut lidahnya. Sungguh terasa nostalgia.             "Ayo kita lanjutkan perjalanan!" ajak Sasha lagi.             Aster tersenyum ke arah si pedagang cumi, sesaat sebelum kembali berjalan. "Apa masyarakat di sini tidak berjual beli menggunakan uang?"             "Tentu saja pakai."             "Tapi tadi aku tidak melihat ibu memberikan uang pada pedagang itu."             Sasha tertawa kecil. "Sudah biasa. Tidak perlu khawatir."             "Aku sangat kagum. Kelihatannya ibu memimpin dengan sangat baik negeri yang makmur ini." Aster kembali melahap cumi bakarnya hingga habis.             Perjalanan mereka berdua berakhir di ujung jalan besar yang berhadapan dengan kediaman ratu Dione. Tempat yang biasa disebut istana itu terlihat begitu kontras dengan bangunan sederhana di sekelilingnya.             Sasha menghadap ke sisi kanan jalan utama. Menunjuk sebuah gerbong besar. "Di sana pintu keluar Dione. Sebuah ruangan besar seperti lift yang akan terangkat ke permukaan air." Itu pastilah benda yang dikatakan oleh Erik. "Ada beberapa pipa yang berfungsi sebagai ventilasi udara di sisi-sisi kota." Dan itu benda yang Aster lihat di permukaan laut.             Aster memperhatikan tempat lainnya. "Bangunan kotak itu, tempat apa?"             "Itu pabrik tempat kami memproduksi makanan. Selain yang berasal dari laut, tentu saja kami harus membuat makanan sendiri. Ilmuwan yang kami miliki di Dione sangat jenius. Aku mempercayakan urusan konsumsi hanya kepada mereka."             Kesimpulan yang didapat Aster, Dione tidak berbeda dengan Oakland dalam urusan memproduksi makanan. Hanya mungkin Oakland belum memiliki cara untuk mengembangbiakkan tanaman, karena di sana sama sekali tidak ada tanah.             "Sedangkan yang di sebelah sana adalah pabrik mesin," tambah Sasha lagi.             Aster berjalan mendekati dinding kaca di dekatnya. Menyentuh dan mengetuknya pelan. Memasang telinga untuk mendengar suara yang dihasilkan oleh ketukan tangannya. Aster ingin memastikan seberapa tebal kaca-kaca itu hingga bisa melindungi sebuah kota besar. Sasha sedikit tertawa melihatnya. "Kaca itu sangat tebal. Tekanan air ataupun serangan dari ikan laut tidak akan membuatnya pecah dengan mudah."             "Aku jadi penasaran bagaimana kota ini bisa terbentuk. Apa ibu tahu?"             "Sayangnya aku pun tidak tahu. Karena aku bukan penduduk asli sini, bukan?"             Aster berharap ibunya memiliki jawaban akan ketidaktahuannya. Tapi, ditanya berapa kalipun dia tidak akan mendapatkannya.             "Sebaiknya kita kembali ke istana," ajak Sasha.             "Kalau begitu ibu duluan saja, aku masih ingin berjalan-jalan dan mengelilingi kota ini."             Sasha sedikit tertegun. "Apa kamu tidak lelah? Beristirahatlah sejenak."             "Tidak apa-apa, bu."             "Kalau begitu akan aku perintahkan penjaga untuk menemanimu berkeliling."             Aster merasa ibunya masih ingin bersama dengannya lebih lama dan bertukar cerita. Meski memiliki perasaan sama, tetapi rasa penasarannya terhadap Dione melebihi keinginannya yang lain. "Ibu, aku sudah besar."             "Baiklah. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi," ucapnya sembari mengelus pipi Aster.             "Jika aku hilang itu berarti aku tersesat di kota ini," sahutnya sembari tertawa.             "Pastikan kamu pulang saat jam makan malam. Dan ajak teman-temanmu juga." Sasha menunjuk sebuah bangunan. "Mereka tinggal di sana."             "Aku mengerti. Terima kasih, bu."             Aster memandangi punggung ibunya yang perlahan semakin menjauh. Setelah itu barulah dia kembali melangkahkan kaki menuju cabang dari jalan utama Dione.             Entah dia sedang bermimpi atau hanya mengkhayalkan sesuatu yang diinginkannya, tiba-tiba bayangan Edy terlihat melintas di salah satu jalan yang ada. Mata itu, wajah itu, rambut itu, berjalan ke balik sebuah bangunan tinggi di hadapannya.             "Edy!" panggil Aster. Dia mengayuh kakinya secepat mungkin menuju bangunan yang sama. Namun sosok tadi lenyap begitu saja. Mungkin ditelan keramaian, atau mungkin hanya halusinasinya semata.             Aster memegangi dahi, memastikan apakah dia sedang demam atau tidak. Akan tetapi, dia tidak merasa ada yang aneh pada tubuhnya.             Di saat yang sama, sepasang mata memicing memperhatikan gadis tersebut. Dia tersenyum, menyeringai, seakan menyerupai hewan buas yang hendak mendapatkan mangsanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN