Teman Kantor

1196 Kata
HAPPY READING Raline pov Aku sedang bersiap pergi ke salah satu club di Jakarta dalam rangka perayaan karna perusahaan memenangkan tender. Ini juga merupakan nilai plus perusahaan tempat aku bekerja, jika memenangkan tender akan diadakan syukuran dengan memberikan sumbangan ke panti lalu para karyawan merayakan nya disalah satu club di Jakarta. Tentu saja dananya disponsori perusahaan. Memang tidak semua karyawan hanya para petinggi perusahaan saja. Jika karyawan biasa hanya mendapatkan bonus dari perusahaan. Kali ini aku dan teman-teman kantor ku memilih hari jumat untuk kami berkumpul disalah satu club ternama di ibukota. Kami tidak langsung dari kantor, tapi memilih pulang terlebih dahulu ke rumah masing-masing. Kemudian kami bertemu di club yang sudah ditentukan. Aku mengenakan skinny jeans dan blouse putih berkerah sabrina. Rambut ku biarkan tergerai. Dan aku memakai high heels 10 cm serta tas tangan. Tak lupa aku menyemprotkan parfum favorit ku dengan wangi vanilla. Aku mematut diriku dicermin sekali lagi untuk memastikan kalo aku uda siap untuk pergi. Aku pun keluar dari unit menuju bestman untuk mengambil mobilku. Aku mulai melajukan mobilku membelah jalanan ibukota. Setengah jam kemudian aku sudah sampai ditempat yang aku tuju. Memang club ini tidak terlalu jauh dari apartemenku yang masih berada dipusat kota Jakarta. Begitu sampai aku langsung menghubungi Sari kepala HRD. "Halo Sar...loe uda nyampe" ucapku sambil melihat layar hp karna aku vc. "Uda kita uda kumpul nih, cepat naik" jawabnya sambil mengarahkan hp nya ke teman-temanku yang ada disana. "cepat Raline...kita uda kumpul semua" "ok..." lalu aku mematikan hp ku. Aku mulai memasuki club yang sudah seperti lautan manusia. Dengan pencahayaan yang minim aku mulai menyusuri tiap ruang yang ada. Sebelum nya kami semua sudah diberitahu ruangan yang di booking namun tetap saja aku kesusahan mencari nya. Akhirnya aku melihat teman-teman ku. Langsung aku samperi mereka. "Heii... lama amat bu" Sari langsung bangkit memeluk dan mencium ku. "Iya nih sorry yaa telat banget ya? " aku mulai memeluk yang lain. "nggak terlalu sih" "duduk sini...mau pesen apa loe?" tawar Radit manager keuangan. "tequila aja" Radit memanggil waiters dan memesankan minuman ku. Kami tuh begini kalo sudah diluar kantor tidak ada formalitas. Dan kami adalah orang lama istilahnya di kantor. Karna kami yang berkumpul semua disini adalah orang-orang yang dari awal PT. Bangun Nusantara ini berdiri. Dan belum ada diantara kami yang resign. Kami merasa sudah seperti sodara karna lingkungan kerja yang sangat nyaman. Kami sangat peduli satu sama yang lain. Trus dari pertama kerja tidak ada diantara kami yang cari muka ke bos. Semua bekerja dengan sebaik mungkin. Dan pak Brian juga berperan penting hingga kami bisa sekompak ini. "turun yuk Raline... " ajak Sari mengajakku ke lantai dansa. "Ahh elo gak sabar amat" kalo itu suara Dino yang selalu meledek Sari. "Serah gue dong, yang gue ajak Raline loe yang sewot" sungut Sari gak mau kalah. "Tapi Raline baru duduk blom juga minum" dimulai lah perdebatan mereka berdua. "Ma gue aja dah" ajak Fajar yang terlihat sudah tidak sabar pengen turun juga. "Ogah" meledaklah tawa kami semua melihat Fajar manyun. Sudah biasa kalo kami ledek-ledekan, tapi mana ada yang baper. Santai aja tuh semua. Akhirnya aku dan yang lain turun kelantai dansa setelah aku menghabiskan minumanku. Yang tinggal di ruangan hanya Radit dan tunangannya. Kami mulai menggoyangkan badan mengikuti irama musik yang dj mainkan. Yang laki-laki selalu dibelakang menjaga kami dari tangan-tangan nakal. Cukup lama kami berjoget ria sampai kelelahan. "Sar naik yuk, haus gue mau pipis juga" "ayok deh" bubarlah kami dari dance floor balik ke room lagi. Aku dan Sari ke toilet itu pun masih dikawal Dino. "Raline... " panggil seseorang saat aku keluar dari toilet. "Pak Raka... " sapaku saat mengetahui siapa yang memanggilku. Dino memperhatikan orang yang menyapaku. "Sama siapa Raline?" " eemmm sama teman kantor pak" "Kenalin pak ini pak Dino" aku mengenalkan Dino karna pak Raka memperhatikan Dino juga. "Dino" "Raka" mereka saling berjabat tangan. "Ini bu Sari " "Sari" "Raka" "Ada acara apa Raline?" kami belum beranjak dari depan toilet. "Tidak ada pak hanya kumpul-kumpul aja... Ya uda pak kami permisi yaa" jawabku cepat karna tidak nyaman ngobrol di tempat ini. "sebentar Raline" "kalo pak Raka mau gabung sama kami gabung aja" sahut Dino cepat karna tau aku merasa tidak nyaman. "Boleh?" "Ayo pak gak enak ngobrol disini" Dino langsung melangkahkan kakinya memimpin kami. Dibelakang Dino Sari lalu aku kemudian pak Raka. "antri banget ya ditoilet? " Radit langsung mencecar kami gak tau kalo kedatangan tamu. "Duduk sini pak" Dino menyilahkan pak Raka duduk disampingku. "Radit ini pak Raka" "Radit" katanya mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Raka" "Fajar pak" "Raka" "pak Raka sendiri? " aku memulai percakapan. "nggak sama temen " "mau minum apa pak? " kata Radit sambil memanggil waiters. "gue apple martini " "ntar loe mabok, loe bawa mobilkan. Siapa yang anter loe pulang" protes Dino "Nggak mabuk gue, takut amat sih loe" sahutku cepat "Pak Raka mau minum apa?" tanyaku mengalihkan Dino yang masih mau mendebatku. "Saya bir aja" "Ohh ya saya gabung sama kalian gak ganggu?" tanya nya berbasa basi. "Nggak pak sants aja pak" kali ini Sari yang bersuara. "Kamu sering kesini? " pak Raka mulai meminum bir nya. "Lumayan sering pak" "Selalu bareng mereka?" "Iya" kami membubarkan diri jam 1 pagi. Dan pak Raka memaksa untuk mengantarku. "Mobil pak Raka? " "Biar dibawa supir" Aku sudah tidak bisa menolak lagi dan teman-teman ku pun mendukung permintaan pak Raka. Suasana hening didalam mobil saat pak Raka mulai menjalankan mobilnya, hanya alunan musik dari audio. Dia menanyakan dimana alamatku. "Kalian akrab banget yaa, apa kalian berteman dari masa sekolah?" pak Raka memulai pembicaraan memecah kesunyian didalam mobil. "Nggak pak kami bertemu saat sama-sama kerja diperusahaan pak Brian". "Ohh tapi kalian akrab sekali seperti sodara" "Iya pak banyak yang bilang begitu, mungkin karna kami sudah sama-sama dari awal perusahaan itu berdiri dan kami kerja tidak ada saling sikut-sikutan. Kami saling bantu satu dengan yang lain" Pak Raka mengangguk-anggukan kepala nya mendengar penjelasanku. Tiba di apartemen pak Raka memaksa untuk mengantarku sampai unit. Aku sudah iya kan saja karna malas berdebat. Didalam lift kami sama-sama diam. Baru saat didepan pintu unitku dia meminta masuk. "Maaf pak ini sudah tengah malam, dan saya mau istirahat" tolakku. Aku tidak peduli dia kecewa karna aku beneran capek lagipula ini terlalu malam untuk bertamu. Aku juga belum mengenalnya lebih jauh hanya sekedar kenal sebagai rekan bisnis. Aku tidak ingin dia berpikir macam-macam tentangku yang menerima tamu tengah malam, apalagi kami bertemu di club. "Baiklah... Tapi saya boleh minta nomor ponsel mu? " ucapnya lemah kelihatan kecewa. Aku menganggukan kepala dan meminta hp nya lalu mulai mengetikan nomor ponsel ku. "Terimakasih pak Raka sudah mengantar saya pulang, saya masuk yaa" ucapku kembali menyerahkan ponsel nya. " Iya sama-sama makasih juga untuk nomor ponselnya" katanya sambil tertawa. "Masuklah dan tidur yang nyenyak. Selamat malam Raline" "Selamat malam pak Raka" lalu aku masuk ke unitku. Dan aku langsung membuka high heelsku dan langsung berjalan ke arah kamarku. Aku tidak ingin duduk disofa lagi karna nanti bisa ketiduran dan melupakan rutinitas ku sebelum tidur. Aku beneran kelelahan begitu masuk kamar aku langsung mengganti baju. Membersihkan make up serta menggosok gigiku kemudian langsung merebahkan diriku. Dan tak lama aku tertidur sampe matahari mulai naik baru aku terbangun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN