"Dam, yang kemarin nindih kamu gimana?" tanya kak Citra begitu melihatku pulang. Aku heran, sesibuk apa sih suaminya sampai kakak manjaku ini terus ada di rumahku? Bukan pelit, hanya saja ruang gerakku makin terbatas karena di mana-mana ada dia. Dan yang paling menyebalkan adalah saat mengungkit tentang nasib jombloku.
"Memangnya kenapa sama dia?" dia yang ku maksud adalah Claudia. Sekretarisku yang mantannya jika ditulis panjangnya pasti sudah memenuhi kertas HVS.
"Cantik loh, Dam. Gak mau berjuang nih? Nanti kalau ada yang ngembat duluan baru nyesel loh," cecarnya.
Aku mengangkat bahu seakan tak peduli seandainya itu terjadi. Claudia memang cantik, pasti siapapun pria yang pertama melihatnya akan langsung jatuh hati. Bahkan dulu pun aku sempat menaruh rasa padanya. Tapi setelah tahu mantannya ada di mana-mana, rasaku berubah mental ke luar angkasa.
"Aku beneran gak ada apa-apa sama Clau, Kak. Lagian dia baru aja putus sama pacarnya dan aku yakin sekarang banyak yang deketin dia, kayak super hero gitu deh!"
"Cemburu, ya?" tuduh kak Citra.
What! Cemburu? Ada kata yang lebih narsis selain itu gak sih? Aku saja sangat yakin kalau perasaanku terhadap Clau hanya sebatas rekan kerja. Atasan dan bawahan, tak lebih.
Lebih baik ke kamar dan chatan sama Dewita. Kebetulan dia mengajak aku bertemu setelah merasa bersalah karena kemejaku basah tadi pagi karena membantunya mengepel lantai. Ayo, Dam! Taklukkan Dewita demi calon istri masa depan.
***
Sambil menunggu Dewita datang, aku sudah memesankan minuman yang paling enak di restoran ini. Meskipun restoran tempat kita ketemuan terbilang baru, tapi lumayan juga. ramai dan menarik.
Dari kejauhan, Dewita nampak sederhana dengan jeans, kemeja basic serta sling bagnya. Selama ini aku hanya melihatnya memakai seragam cafe saja.
"Maaf telat, Mas. Udah pesan minum?"
Aku mengkodekan mataku ke arah minuman di depannya. "Tuh, kamu suka Tiramisu kan? Kebetulan aku baru saja pesan dan ini yang paling laris di sini,"
Dia sama sekali tak memakai make up. Bahkan lipstik saja tidak. Benar-benar tipe istri idaman sekali. Bisa bikin suami tambah kaya karena tak perlu memusingkan make up dan teték-bengek lainnya. Yeah, meskipun aku tak keberatan membiayai Dewita untuk tampil cantik sih.
"Ini, Mas. Aku ngerasa bersalah karena membuat kotor kemeja Mas Adam. Mungkin harganya gak sebanding, tapi aku gak mau memiliki hutang budi."
"Apa ini?" tanyaku saat Dewita menyerahkan paperbag. Aku membukanya dan terbelalak tak percaya dengan isinya. Kemeja baru?
"Ya ampun, Ta! Aku tuh beneran gak apa-apa loh. Cuma kemeja doang kan? Apalagi cuma kena air pel doang. Kamu simpan saja kemejanya, aku gak mau kamu merasa begitu," tolakku.
Dewita menyeruput ice Tiramisunya dan melipat bibir. Seolah ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Hey, Ta? Are you okey?"
"Hmm, sebenarnya aku tahu Mas Adam naksir aku. Tapi.. maaf banget, aku gak bisa nerima perasaan Mas Adam."
Aku tambah terkejut. Kenapa mendadak begini? Aku bahkan belum mengatakan apa-apa. Mungkin karena aku sering sekali menemaninya lembur. Pura-pura ingin ngopi atau modus mengirimkan makanan ke cafenya. Apakah itu terlalu bisa terbaca?
Lebih payahnya lagi sekarang aku ditolak. Langsung! Bahkan sebelum aku menembaknya. Kok rasanya nyesek ya?
"Kenapa secepat ini, Ta? Kamu belum mengenal aku secara dekat, kan? Kalau kamu mempermasalahkan status sosial, kamu gak perlu khawatir. Orang tuaku gak pernah pandang bulu pada setiap orang," jelasku berusaha meyakinkannya.
Dewita menggeleng lagi. Seolah dia ingin mengakhiri pembicaraan kita.
"Aku tahu kalau Mas Adam gak begitu orangnya. Hanya saja, aku sudah punya orang spesial, Mas. Sebelum kenal Mas Adam aku sudah dekat dengannya."
Ah, cinta bertepuk sebelah tangan rupanya. Baru pertama nembak cewek tapi ngenes banget. Sialnya lagi, aku nembak Dewita karena dia dulu yang membahasnya. Creepy banget gak sih?
"Kalau gitu aku pergi dulu ya, Mas. Aku udah dijemput sama dia," pamitnya. Dewita tetap bersikukuh menyuruhku menerima kemeja darinya.
Aku menatapnya dari dalam. Nampak pria yang sepertinya aku kenal. Tunggu, bukannya itu Hans? Pemilik cafe tempat Dewita bekerja. Ah, ternyata pria itu yang sudah mengambil calon pacarku. Tak apalah, mungkin memang belum jodoh saja.
Setelah kepergian Dewita, aku agak kecewa dengan takdir yang semena-mena. Tanpa diduga, aku malah langsung pergi setelah membayar bon dan melajukan mobilku ke suatu tempat. Hujan mengguyur kaca depan mobilku, aku seperti bisa merasakan air hujan menampar wajahku.
Setelah sampai, aku memesan minuman yang sangat aku hindari selama kuliah. Wine, salah satu minuman yang membuatku tumbang. Aku tidak terlalu kuat minum, tapi malam ini aku akan tetap meminumnya.
***
Srett.. sreett..
Suara seseorang yang sepertinya merapikan pakaiannya membuat aku terbangun. Kepalaku masih pusing tak terkira dan perutku rasanya sangat mual sekali. Sebenarnya, di mana aku sekarang? Kenapa tempat ini begitu asing?
"Sudah bangun, Pak?" suara perempuan yang familier membuatku langsung terperanjat. Aku mengecek apakah pakaianku masih utuh atau tidak.
"Kamu kenapa ada di sini? Kenapa aku juga ada di sini?" tanyaku panik.
Claudia masih menyisir rambut gelombangnya dan menatapku sambil tertawa geli. "Pak, semalam beneran gak ingat ya?"
Deg! Aku berusaha mengingat sudah melakukan apa. Seingatku setelah bertemu Dewita dan dicampakkan, aku langsung pulang meskipun tengah hujan.
Aku gak mungkin kan nyasar ke apartemen Claudia dan enak-enak sama dia? Ah, jangan sampai aku sudah menidurinya. Jangan sampai aku berhubungan sama dia!
Claudia mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia menatapku dan tersenyum dengan manis sekali. Aku merinding melihatnya. "Jawab, Clau! Semalam kita melakukan apa?!"
Bukannya menjawab, Claudia malah terbahak-bahak dan menepuk jidatnya. Padahal aku sudah penasaran setengah mati.
"Bapak nggak ngapa-ngapain saya, tenang saja. Búrung Bapak masih suci dan aman sentosa. Jadi, semalam Bapak mabuk terus nelpon saya dan teriak-teriak nama Dewita. Tahu nggak sih, Bapak berat banget! Punggung saya sampai encok karena mapah Bapak sampai ke kamar," tuturnya panjang.
Aku lega luar biasa dan refleks memegang burúngku. Meskipun Claudia sangat menggoda, tapi aku tak ingin menanamkan benih di rahimnya. Kebayang kan, nanti anakku kayak apa? Pasti playgirl kelas kakap. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya bukan?
"Terus, semalam kamu tidur di mana, Clau?"
Claudia menunjuk ranjang. Dan kembali mengolesi bibirnya. "Aku tidur di samping Bapak lah, ya kali tidur di lantai. Awalnya sih tidur di sofa, tapi punggungku sakit karena memapah tubuh Bapak. Lagian cuma tidur doang gak masalah, kan?"
Duh, kenapa jadi kenyataan sih? Di kantor kami dikabarkan sudah tidur bersama dan ternyata malah kejadian juga. Yeah, meskipun gak melakukan apa-apa sih.
"Btw, Bapak kalau mabuk hot dan seksi juga. Sayang ya, Bapak bukan pacar saya."
"CLAUDIAAAAAAA!!!"