⭐Part 2⭐

1249 Kata
"Mass.." rengek Afra. Dia merasa dari tadi di mobil sampai di apartemen, Yuda mendiaminya. Yuda tetap menghiraukan istrinya. Dia masih mau memberi pelajaran, supaya istrinya itu mengerti jika dia membawa nyawa lain di dalam perutnya. Afra mengikuti Yuda sampai ke dapur. Dan tetap menarik jas bagian belakang Yuda. Seperti anak kecil yang merengek meminta dibelikan balon. Sungguh, Afra tidak tahan didiami seperti ini. Dia menyerah dan berlalu ke kamar tanpa memperdulikan sang suami. Yuda menghembuskan nafasnya secara kasar. Jika seperti ini, pasti ujung ujungnya dia yang merayu sang istri. Niat hati ingin memberi sedikit pelajaran, malah berujung seperti ini. Ceklek, Ketika membuka pintu kamarnya, Yuda melihat istrinya tengah menangis sesenggukan ditepi ranjang. Dengan pakaian yang masih sama, belum diganti. Yuda duduk di sebelah istrinya, bukannya berhenti menangis Afra malah bertambah kencang tangisnya. Yuda tidak tega jika seperti ini, dia lemah jika dihadapi dengan posisi ini. Akhirnya, Yuda merengkuh Afra kedalam pelukannya. Afra tambah menangis di d**a bidang sang suami. Entah kenapa, air matanya mengalir terus menerus. Mengingat dari tadi sang suami mendiaminya. Yuda melepaskan pelukannya, setelah dia mendengar tangis Afra berhenti. Dia menghapus sisa air mata Afra yang masih menggenang di matanya dengan kedua jempolnya. "Ma-s ud-aah ngg-a marah sama a-ku?" cicit Afra dengan pandangan menunduk. Perlahan, Yuda mengakat dagu Afra, "Kamu tau kenapa Mas diemin kamu?" yang di tanya hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Karena dia tidak tahu kesalahan apa yang diperbuat. Yuda merengkuh Afra ke dalam pelukannya, "Bee, inget pesen aku di mobil ngga tadi?" Afra mendongakan kepala, tepat matanya bertatapan dengan bola mata sang suami. Dia menjawab dengan gelengan kepalanya, "Kamu tuh di sinikan bawa kehidupan. Buah cinta kita, jadi aku mohon. Kamu pending dulu yaa pecicilannya. Kamu sayangkan sama dia?" tanya Yuda seraya mengelus perut sang istri yang sudah membesar di usia kandungan nya baru masuk ke 12 minggu. "Sayang lah." cicit Afra seraya memanyunkan bibirnya. Cup, Jika dulu Afra seperti itu, Yuda belum bisa apa apa. Tapi, beda dengan sekarang. Dia bebas melakukan apapun kepada istrinya. "Masss.." rengek Afra dengan manja. Dia kaget mendapat serangan mendadak dari sang suami. "Kenapa? Kurang?" "Ihh, aku baru tau ya kalo kamu itu ternyata omes." Afra langsung berdiri menuju lemari pakaiannya dan mencari piyama tidurnya. "Hey, wajar kali aku itu cowo normal. Mending omes ama istri sendiri, dari pada ama yang lain?" Afra langsung menajamkan pandangannya, dan mengarahkan kedua jarinya dari mata nya, lalu ke mata sang suami. "Canda sayang." tanpa memperdulikan Yuda, Afra bergegas ke kamar mandi guna mengganti pakaiannya. Walaupun mereka sudah berstatus suami istri, tapi tetap saja Afra malu jika berganti pakaian dihadapan sang suami. Entah, dia juga bingung kenapa. Sekeluarnya Afra dari kamar mandi, Yuda sudah merebahkan dirinya terlebih dahulu di atas ranjang. "Sini." panggil Yuda kepada sang istri. Afra menurut, setelah menaruh pakaiannya di keranjang kotor dia langsung menyusul Yuda yang sudah dengan posisi nyamannya. Seperti biasa, Afra tidur dengan beralaskan tangan Yuda. Sang empu membiarkannya, dia rela ketika pagi harinya keram. Semenjak Afra mengandung, dia memang lebih manja ke sang suami. Bahkan ketika tidur saja, Afra minta dieluskan perutnya terlebih dahulu. Seperti saat ini, "Mas, kamu maunya cewe apa cowo?" tanya Afra dengan pandangan mengarah ke atap kamar mereka yang sengaja di desaign oleh Yuda seperti luar angkasa dengan bertabur bintang. "Sedikasihnya aja bee sama Allah. Yang penting anggota tubuhnya lengkap tanpa kekurangan satu pun udah alhamdulillah banget." Yuda memang memasrahkan saja. Jika ada yang bertanya dia ingin jenis kelamin anaknya apa maka dia akan menjawab, 'dikasihnya apa yaudah syukuri aja'. "Mas, nanti kalo anak cowo kita jangan terlalu manjain yaa." "Maksud kamu?" Yuda yang tadinya menatap langit kamar, langsung memfokuskan menatap wanita istimewa disampingnya. "Ya gini, walaupun dia tuh cowo tapi ya ngga salah juga kan kalo dia itu ikut bantuin aku beres-beres rumah. Tuh kayak adeknya si Putri, kan dia ngga biasa ngerjain pekerjaan rumahnya jadi gitu, kesian banget sama mamahnya Putri kalo Putri telat pulang kuliah. Masa anak cowonya tidur-tiduran di sofa ruang tamu, mamahnya nyapu. Udah kayak juragan aja." sungut Afra tidak terima dengan perilaku adiknya Putri. "Bee, semua itu udah ada porsinya. Kita itu sebagai kaum lelaki udah ada kerjaan sendiri begitu pun sebaliknya." belum sempat Yuda melanjutkan penjelasannya, Afra bangkit dari tidurnya. "Ngga bisa gitu dong Mas?! Kamu tega sama aku gitu? Kalo entar ternyata kita anaknya cowo semua, terus aku yang ngerjain rumah sendiri gitu? Masak aku, beresin rumah aku, nyuci aku. Ngga sekalian aja kamu gaji aku perbulan. Terus sediain aku kamar pembantu." sentak Afra tidak terima dengan apa yang Yuda katakan. Yuda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya, dia salah berbicara lagi ini sama bumil. Afra yang masih berapi api, langsung merebahkan dirinya tapi menjauh dari posisi yang tadi. Dia sengaja tidur dipinggiran ranjang dan menghadap yang berlawanan dengan Yuda. Dia benci dengan opini yang dikeluarkan sang suami. Yuda perlahan mendekat ke arah sang istri dan memeluknya dari belakang. Biasanya, Afra jika di peluk seperti ini akan luluh. Tapi ternyata dugaannya salah. Afra malah menghempaskan tangan Yuda dan bangkit dari kasur. "Stop! Jangan ikutin aku. Aku mau sendiri!" bentak Afra sambil memakai sandal hello kittynya. Lebih baik dirinya tidur di kamar tamu saja. Dia masih kesal dengan sang suami yang lebih membela kaumnya sendiri dari pada tenaga yang dikeluarkan dirinya. Yuda bangkit mengikuti ke mana Afra pergi. Ternyata sang istri pergi ke kamar tamu. Baru saja dirinya mau menyusul, KLEK. Bunyi pintu di kunci terdengar dari luar kamar. Akhirnya Yuda kembali ke kamar. Dan membiarkan sang istri mendinginkan kepalanya terlebih dahulu. **** Tengnong... Tengnong... Yuda bangkit dari kasurnya seraya mengucek matanya yang baru bangun dari tidurnya, "Siapa sih yang namu pagi-pagi gini." gumamnya tak urung dia juga berjalan menuju pintu utama dan membukakan pintunya. Ceklek, Yuda langsung membolakan matanya melihat siapa tamunya pagi buta, "Assalamu'alaikum nak Yuda." sapa mami Gina di depan pintu apartemennya bersama kakak iparnya yang tak lain juga sahabatnya. "Eh, Wa'alaikumsalam Mi. Masuk Mi," ujar Yuda mempersilakan sang mertua untuk masuk. Tidak mungkin, dia membiarkannya di luar apartemen. "Afra masih di kamar tamu?" tanya Mami Gina. Yuda sangat kaget. Dari mana sang mertua tahu jika putrinya sedang dalam mode merajuk. "Tadi dia telfon Mami. Minta ditemenin, subuh-subuh Mami disuruh ke sini." ujar Mami Gina mengerti fikiran menantunya. "Oh iya Mi. Silakan," Yuda mempersilakan mertua nya menuju kamar tamu. Ada rasa tidak enak dengan mertuanya itu. Hanya perkara tadi malam saja, mertuanya sampai tau. "Nape bro?" tanya Bobby yang masih belum tau kenapa Maminya meminta dirinya untuk mengantarkan ke apartemen Yuda selepas solat subuh. "Biasa lah, kayak ngga tau bumil aja sih lu." "Serem ye kalo bumil udah ngambek," cicit Bobby seraya mendudukan dirinya di sofa ruang tamu. "Ya begitu lah. Siap-siap lu." Bobby hanya memutar bola matanya malas, jika orang terdekatnya mulai membahas kearah sana. Dia sendiri bingung dengan hubungannya ini. Bisa di katakan sedang merenggang, entah lah. Biar takdir yang menentukan, akan kah dirinya jadi dengan Putri atau tidak. Tidak berselang lama, Mami Gina keluar dari kamar tamu. "Nak Yuda," sungguh, Yuda memiliki firasat tidak enak. Dia tahu, istrinya dari awal hamil belum mengidam sama sekali. Dan dia sangat yakin, pasti nanti akan tiba waktunya mengalami masa sulit ini. "Istri kamu minta sushi sama ramen katanya. Tapi, harus kamu yang buat." ujar Mami Gina setelah keluar dari kamar tamu. Kan benar. Firasatnya tidak meleset sedikit pun. Dirinya di suruh masak sushi? Jangankan sushi, masak air saja disuruh bundanya air tersebut sampai kering. Bahkan panci air bundanya sampai gosong. Tapi, apa lah daya. Menolakpun tidak bisa. Jadi bisa tidak bisa, dirinya harus belajar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN