Bab 20

1002 Kata
Icha masih belum kembali. Aku mencoba berpikir positif tentang dia. Mungkin ia pergi ke toilet rumahnya. Karena itulah ia lama dan belum juga kembali sampai saat ini. Kalau dia kembali, aku ingin langsung memberikan tepuk tangan yang meriah karena ia telah sukses membuatku berduaan dengan anak dari pejabat penting ini. Aku tahu, Pasha itu baik. Walaupun ia memang anak dari seorang pejabat, ia tak pernah sombong. Ia juga dermawan. Tak hanya itu, meski ia disegani oleh banyak orang, bahkan para murid nakal sekalipun, ia tak pernah bertindak semena-mena. Hanya saja, sifatnya pendiam. Dan alasan kenapa aku seakan tersiksa ketika berduaan dengan dia, itu karena aku memang tidak menyukainya. Maksudku, aku tidak mempunyai rasa sedikitpun kepadanya. "Gue denger-denger, katanya Lo lagi deketin cowok dari kelas sebelah, ya?" Ia bertanya. Aku agak terkejut, dan tahu yang sedang ia maksud itu adalah Daniel. "Kata siapa?" tanyaku balik. "Kata teman-teman," jawabnya. "Teman-teman siapa?" tanyaku lagi. "Teman-teman kita, lah," jawabnya. "Iya, maksud gue, namanya," ucapku. "Ya ada, lah. Pokoknya teman-teman," ucap Pasha. "Iya, namanya siapa? Gak mungkin kan kalau semuanya yang bicara," sangkalku. "Hufff...." Ia menghembuskan nafasnya pelan. "Teman-teman sekelas kita, semuanya," ucapnya. "Jangan percaya! Mereka itu suka bikin hoax," kataku cepat. Ia terdiam sejenak, kemudian senyuman tulus itu sedikit demi sedikit mulai menghiasi wajahnya. Aku bingung, dan kutatap ia dengan tatapan penuh selidik. "Jadi itu semua gak benar?" tanyanya. "Itu semua, apa?" tanyaku balik. "Yang Lo lagi deketin cowok dari kelas sebelah itu," jawab Pasha. "Oh, kalau itu benar," ucapku tanpa ragu. Ah, sungguh aku tak percaya telah mengatakan hal itu kepada Pasha. Aku bahkan tak memikirkan tentang bagaimana perasaannya. Kalau memang ia benar menyukaiku, lalu bagaimana perasaannya ketika ia mendengar pengakuanku saat ini? Mungkin hancur berkeping-keping. Tapi, kurasa itu sudah pilihan yang paling tepat. Lebih baik aku menyakitinya di awal daripada di akhir, karena aku tahu sakit di akhir itu jauh lebih menyakitkan daripada sakit di awal. "Katanya teman-teman suka bikin hoax," ucap Pasha. "Iya kan cuma suka. Suka bikin hoax belum tentu tak pernah ngungkapin fakta, kan?" tanyaku. "Iya sih," jawabnya. Mendadak wajahnya menjadi murung. Gila, benar-benar gila! Aku kini merasa sudah mempermainkan perasaannya. Meski aku belum tahu secara pasti apa ia beneran menyukaiku atau tidak, tapi aku yakin sekali bahwa dia memang menyukaiku. Setidaknya keyakinanku itu diperkuat oleh raut wajahnya yang terlihat murung ketika selesai mendengarkan kata-kataku. "Terus Lo kok bisa suka sama dia?" Ia bertanya. Aku diam. "Padahal kan banyak yang lebih keren dari dia," ucapnya lagi. "Oh ya?" Aku bertanya sambil mengangkat sebelah alisku. "Iya lah. Banyak juga yang lebih tampan darinya," ucapnya. "Jadi kenapa Lo lebih memilih dia?" tanyanya lagi. Semakin kuyakin bahwa si Pasha ini menaruh perasaan kepadaku. Hanya saja dia tak punya keberanian untuk langsung mengungkapkan. Semua pertanyaannya itu seakan memojokkan aku. Kenapa aku lebih memilih Daniel daripada dirinya. Ingin sekali ku berkata, "Terserah gue, dong. Hidup-hidup gue kenapa Lo yang ngatur." Akan tetapi layaknya teman-teman yang lain, akupun masih sedikit menyeganinya. Dan pada saat pikiranku melayang entah kemana, kulihat jauh di depan sana seorang pria sedang melihatku sekilas, hingga akhirnya ia berjalan lagi. Ia seolah-olah cemburu karena aku yang sedang berduaan dengan Pasha. Pikiranku mendadak kalut. Aku tak ingin membuat dia salah paham. Aku tak ingin membuat dia mengira kalau Pasha adalah pacarku. Aku harus mengejarnya sekarang juga. "Kok gak dijawab sih, Shel?" Ia bertanya lagi, tapi mataku masih sibuk menatap pria yang telah lenyap dari pandanganku itu. Kakiku benar-benar ingin melangkah secepatnya. "Jawab apa?" tanyaku. "Kenapa Lo lebih milih dia? Padahal banyak yang lebih keren dan tampan dari dia," tanya Pasha. Saat itulah aku berdiri dari tempat dudukku. "Adakah yang bisa lebih mengerti arti hidup daripada dia?" tanyaku dingin. Pasha terdiam. Tak ingin berlama-lama menunggu jawabannya, aku langsung berjalan cepat untuk mengejar sosok pria yang tadi itu. Secepatnya aku harus menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tak akan kubiarkan ia berlarut dalam kesalahpahaman. Aku terus mencarinya, tapi tak kutemukan juga sosok yang kumaksud itu. Ia bagai hilang ditelan bumi. Rasa frustasi tiba-tiba menyerang jiwaku. Apakah ini memang akhir dari perjuanganku untuk mendapatkan cintanya? Aku takut jika yang kupikirkan itu benar. Aku tak mau menjauhinya, apalagi dijauhi olehnya. Frustasiku mendadak hilang di kala Indra pengelihatan ini menangkap sosoknya. Ia kini sedang berjalan dengan santainya. Seperti biasa, ia selalu sendirian. "Daniel!" panggilku sambil berjalan cepat ke arahnya. Entah sadar atau tidak, aku jadi begitu senang ketika berhasil menemukannya. Danielku kini menghadap ke arahku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan, seolah-olah sedang menanti kedatanganku. "Apa?" tanyanya dingin. "Gue cuma mau jelasin sesuatu ke Lo. Gue harap Lo dengerin penjelasan gue," ucapku. "Jelasin apa?" tanyanya lagi. "Yang tadi di kantin. Lelaki itu bukan siapa-siapa gue. Dia cuma teman sekelas gue dan kami gak ada hubungan apa-apa selain sebagai teman," jelasku. "Oh." Ia menjawab. "Lo marah?" tanyaku. Padahal harusnya aku sadar bahwa aku dan dia pun tak ada hubungan apa-apa. "Kenapa?" tanyanya. "Ya karena gue makan berduaan sama dia," jawabku. "Heh." Dia tersenyum meremehkan. Senyum itu begitu menyebalkan, dan aku yakin setelah ini pasti juga akan disusul oleh perkataan menyebalkan juga. Beruntungnya di tempat ini cuma ada aku dan dia saja. Jadi biarpun nanti ucapannya sangat menusuk, aku tak perlu menanggung malu. "Gue gak ada urusannya dengan hal itu," ucapnya. "Hmmm.... Iya. Gue cuma ngasih tahu kalau dia bukan siapa-siapa gue," ucapku tegas ke Daniel. "Heh, dasar cewek aneh," ucap Daniel. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan untuk menjauhiku. Merasa belum puas dengan penjelasan yang aku lakukan, aku pun langsung mengikuti langkah kakinya yang pelan itu. "Lo udah ngelanggar janji Lo," ucap Daniel. "Janji apa?" Aku bertanya seakan tak mengerti apa yang ia ucapkan. Karena pada dasarnya aku memang tidak mengerti. "Lo janji gak akan ngejar-ngejar gue lagi, tapi sekarang Lo udah melanggarnya," jelasnya. Aku manggut-manggut mengerti. Ternyata itulah yang ia maksud dengan janji. Ya, aku akhirnya mengingatnya kembali. Tentang persyaratan yang mengharuskanku untuk mengemban janji ini. "Oh, itu...?" "Gue rasa gue gak pernah melanggar janji itu. Bahkan sampai sekarang pun gue masih menepatinya. Gue gak ngejar-ngejar Lo. Gue hanya mengikuti ke mana arah kaki Lo melangkah. Itu saja," ucapku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN