Bab 64

1623 Kata

"Oh ya Nek. Nenek sudah berapa lama jualan roti?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Lumayan lama sih, Neng," jawabnya. Aku manggut-manggut mengerti. "Nenek hebat," kataku kemudian sambil memberikan dua jempolku. "Hebat apanya, Neng?" tanyanya tak mengerti. "Di usia yang harusnya dibuat untuk istirahat dan menikmati hidup, nenek masih mau bekerja keras seperti ini. Padahal di luar sana, banyak orang yang jauh lebih muda dari nenek malah menggantungkan hidupnya dari hasil meminta-minta alias mengemis. Sumpah deh, nenek keren," ucapku panjang lebar. Si nenek tersenyum mendengar aku yang memujinya. Tapi sungguh, aku tidak sedang bercanda. Si nenek itu menurutku benar-benar hebat. Jika harus membandingkan, aku ingin membandingkan dirinya dengan para pengemis muda yang harusnya masih bisa b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN