Tanpa membalas perkataanku sedikitpun, mereka semua segera menuruti perintahku. Mungkin mereka takut. Tapi juga aneh jika para lelaki itu takut hanya dengan seorang perempuan sepertiku. Entahlah, aku tak mau memikirkan hal itu. Sekarang yang terpenting aku sudah bisa membuat mereka menuruti perintahku.
Tak kupedulikan jika banyak pasang mata yang memandangku ketika aku sedang memarahi teman-teman laki-lakiku. Kuduga mereka tidak hanya melihatku, tapi juga membicarakan tentangku. Entah itu pembicaraan yang bagus, atau malah yang jelek.
"Hebat juga Lo." Nita yang kebetulan sedang bersih-bersih di teras langsung menyambutku dengan kata-kata pujiannya itu.
"Biasalah," jawabku bangga.
"Besok-besok kalau ada kejadian kayak ini lagi, Lo nyuruh para cowoknya itu harus di awal. Biar nanti semuanya dikerjain mereka. Kita tinggal lihat," ucap Nita.
"Hahaha.... Siap," kataku.
"Ya udah, gue mau lihat mereka dulu. Maklum lah, mandor dadakan," ucapku. Nita hanya tersenyum.
Mereka, maksudku teman-teman laki-lakiku itu ternyata benar-benar melakukan apa yang aku perintahkan kepada mereka. Pasha mungkin yang menjadi pemimpin bagi mereka. Ia kini dengan raut wajah datarnya mulai mengepel seluruh area kelas menggantikan posisi dari Dina. Sementara anak-anak lain seperti Dendi dan Fadil hanya memilih untuk melihat Pasha dan beberapa orang lainnya yang membersihkan kelas. Aku senyum. Ya, aku senyum. Bahkan seorang Pasha pun tunduk pada perintahku.
Tiga orang perempuan berjalan ke arahku dari dalam kelas. Mereka adalah Dina, Rosa dan Icha. Mereka berjalan sembari memasang raut wajah bingung. Aku pastikan tak lama setelah ini mereka pasti akan menanyaiku.
"Tuh mereka kenapa?" Icha bertanya. Tepat seperti dugaanku.
"Kenapa gimana?" tanyaku balik.
"Ya aneh gitu. Baru masuk kelas, eh tiba-tiba nawarin diri untuk bantu bersihin kelas," jawab Icha.
"Dimarahin tuh pasti, sama Shela. Makanya mereka jadi gitu," sahut Dina. Aku hanya tertawa kecil.
"Bener gitu?" Icha bertanya sambil menatapku tajam.
"Iya," jawabku.
Ia kemudian menoleh dulu ke arah dalam kelas. Pandangannya tepat mengarah ke arah Pasha yang sedang sibuk mengepel. Setelah itu ia berpaling lagi ke arahku sembari mendekatkan diri kepadaku.
"Pasha juga Lo marahin?" tanyanya dengan berbisik.
"Ya iyalah," jawabku.
"Gila Lo," ucap Icha.
"Ikut gue sebentar," ajaknya sambil menarik tanganku. Dina dan Rosa hanya melihat kami tanpa bertanya.
Aku dibawa Icha ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Lebih tepatnya di sebuah anak tangga yang sunyi, tanpa ada satupun orang selain kami berdua.
"Lo jangan sembarangan kalau sama Pasha. Apalagi sampai Lo marah-marahin dia," ucap Icha to the point.
"Kenapa emang?" tanyaku.
"Pakai nanya kenapa, pula. Lo kan tahu sendiri kalau dia anak pejabat. Lihat aja, gak ada satupun yang berani macam-macam sama dia, bahkan para anak kelas 12 sekalipun. Anak-anak yang nakal juga segan ke dia. Lo marah berani-beraninya marahin dia," jawab Icha.
"Memangnya mentang-mentang anak pejabat gak boleh dimarahin kalau salah?" tanyaku.
"Ya,... Ya pokonya cari aman ajalah. Daripada urusannya tambah panjang," jawab Icha.
"Bayangin aja kalau seandainya Pasha menyuruh orang tuanya supaya mengusir Lo dari sekolahan ini. Gimana, coba?" tanya Icha.
"Halah, Lo yang mikirnya kejauhan. Pasha gak seperti itu orangnya," sangkalku.
Ketidak cintaanku pada Pasha tak mungkin membuat aku menilai buruk tentangnya. Karena aku tahu bahwa sifat Pasha tak seburuk sifat Ryan yang tega memperlakukan Daniel seperti itu.
"Oke, lupakan saja itu. Tapi ingat, Pasha itu suka sama Lo," ucap Icha mengingatkan.
"Gue gak bisa membalas rasa sukanya," jawabku jujur.
"Maka dari itu. Gue takut sifat Pasha akan berubah drastis karena Lo tolak cintanya. Ingatlah! Cinta bisa membuat orang jadi gelap mata. Bisa jadi Pasha yang menurut Lo baik malah berubah jadi jahat, apalagi Lo baru saja memarahi dia, tadi," ucap Icha panjang lebar.
"Ah, nggak mungkin. Pasha nggak akan berubah jadi jahat. Gue yakin itu," kataku, seolah sangat yakin dengan apa yang aku katakan.
Hembusan napas kasar yang keluar dari hidung dan mulut Icha membuatku yakin bahwa ia sudah mulai lelah dalam menghadapiku.
"Lo keras kepala banget sih, Shel, kalau dikasih tahu," ucapnya tak santai.
"Ya makanya kasih tempe aja, Cha," jawabku.
"Hufff.... Sudahlah, terserah Lo aja. Yang penting gue udah ngasih tahu," katanya.
"Gue mintanya tempe, Cha," ucapku.
Dia semakin menggeram.
***
Itulah sedikit kisahku tentang betapa menyeramkannya sang hujan. Itu juga kisah di mana akan tercatat di dalam sejarah tentang satu-satunya orang di sekolahan ini yang berani memarahi Pasha. Shelania Putri Artasyah, dialah namanya, dan itu tak lain adalah diriku sendiri.
Dan kini, pagi yang mendebarkan itu sudah lama berlalu. Sekarang ini sudah sampai di malam Minggu. Malam di mana seharusnya aku akan bersenang-senang menikmati masa mudaku. Malam yang seharusnya akan aku gunakan untuk sekedar nongkrong di warung kopi bersama teman-teman atau hanya jalan-jalan keliling kota Jakarta saja untuk menghabiskan bensin. Tapi di malam ini, dengan penuh keterpaksaan aku harus belajar tentang pelajaran yang sama sekali tak kusuka sekaligus dengan pengajar yang tak kusuka juga.
Dia adalah Dio, seorang manusia yang tiba-tiba muncul di dalam kehidupanku. Ia dengan begitu mudahnya langsung menyelinap masuk dengan alih-alih sebagai guru les ku. Jika kalian bertanya apa aku suka, maka jawabannya adalah tidak. Aku sama sekali tidak suka. Tidak suka belajar, tidak suka apa yang dipelajari, dan tentu juga tidak suka dengan Dio.
"Shel, mama mau keluar sebentar. Nanti kalau minta apa-apa, minta ke Bi Darmi, ya," ucap mamaku.
"Mama mau ke mana?" tanyaku.
"Itu, ke rumah Tante Sari. Mau ada perlu," jawab mamaku.
"Cuma sebentar, kok," sambungnya.
Sebentar yang dimaksud mamaku adalah lebih dari dua jam. Aku hapal sekali dengannya. Ketika dia bilang sebentar, ia pasti akan mengkhianati kata-katanya sendiri. Bagaimana tidak? Jika ibu-ibu sudah ngumpul, maka ada saja yang akan akan dibicarakan hingga membuat mereka lupa waktu. Aku tahu itu, karena akupun seorang perempuan yang nantinya juga pasti akan menjadi ibu-ibu. Aku ingin menyangkal ucapan mamaku, tapi kata-kata yang bisa keluar dari mulutku hanyalah 'iya'. Mungkin karena aku tidak ingin terjadi perdebatan panjang yang tidak ada faedahnya sama sekali.
"Iya, Ma," ucapku.
"Sebentar lagi juga papa pulang, kok," ucap mama.
"Iya, Ma," jawabku.
"Kamu yang semangat, belajarnya," ucapnya lagi.
"Iya, Ma," ucapku lagi.
"Dari tadi kamu iya, iya terus. Ngerti nggak apa yang mama katakan?" tanya mamaku.
"Tidak, Ma," jawabku.
Ia lalu menghembuskan napasnya dengan kasar. Biarkanlah, biar ia tahu bahwa anaknya ini sebenarnya tak mau ditinggalkan berduaan dengan seorang Dio. Sumpah, malas sekali rasanya.
"Ya sudah, lah. Dio, Tante titip Shela dulu, ya," ucap Mamaku. Kali ini ia tujukan ke Dio.
"Iya Tan, pasti," jawab Dio.
"Titip, emangnya aku barang?" gumamku.
Kukira mamaku tak mendengarkan gumamanku itu, karena itu ia tak membalasnya sama sekali. Ia kemudian pergi dengan mobilnya itu dan meninggalkan aku dan Dio berduaan di ruang tamu ini.
Belajar, belajar dan belajar. Kalau saja ini bukan karena permintaan mamaku, aku pasti sudah memilih untuk keluar dari rumah. Malas sekali ketika ia menerangkan rumus-rumus matematika itu. Kalau boleh jujur, aku benar-benar tak paham sama sekali.
"Jadi, sampai sini paham?" tanyanya.
"Iya," jawabku berbohong. Padahal aku tak paham sama sekali.
"Bagus, kita lanjut," ucapnya seraya tersenyum.
"Gak dilanjutkan malam Minggu selanjutnya aja," ucapku dengan wajah tanpa ekspresi.
"Gak bisa, Shel. Kamu udah ketinggalan banyak bab. Tentang al-jabar aja kamu masih belum bisa," jawab Dio.
Dia memang memakai bahasa baku, aku, kamu, ketika berbicara denganku. Sedangkan aku, diharuskan untuk memanggil dia dengan embel-embel 'Kak'. Itu semua atas permintaan mamaku. Namun sampai saat inipun aku belum memanggilnya dengan sebutan itu.
Belum bisa bab tentang al-jabar katanya. Bagaimana mungkin aku bisa menghitung huruf? Mendadak aku teringat dengan ucapan Fadil waktu sebelum terjadi hujan lebat yang sangat mengerikan tempo hari itu, dan seketika itu juga aku langsung membenarkan ucapannya. Huruf kok dihitung.
"Oke, kita lanjut, ya," ucap Dio seolah bertanya kepadaku.
"Iya," jawabku terpaksa.
Ia kemudian menjelaskan tentang banyak sekali rumus matematika lagi. Ah, kepalaku sudah pening hanya dengan mendengarkan penjelasannya, apalagi nanti jika aku diharuskan menjawab pertanyaan tentang apa yang ia jelaskan itu.
Dio, cepatlah akhiri penjelasanmu! Aku ingin penjelasan ini berakhir secepatnya. Maksudku, aku ingin les ini berakhir dan aku tak perlu lagi pusing karena mendengar bunyi-bunyi rumus matematika yang bisa saja membuatku gila. Maaf Dio, bukan aku tak suka denganmu. Aku cuma tidak suka dengan pembelajaran ini. Membosankan. Andai kau tahu kata hatiku ini.
"Aku ngantuk, Kak." Untuk pertama kalinya, akhirnya aku mau memanggilnya dengan sebutan 'Kak'.
"Baru jam 8, Shel. Kata Mama kamu, biasanya kamu tidurnya selalu larut malam, kan?" tanyanya.
"Itu biasanya. Kalau sekarang aku ngantuk," ucapku.
"Hmmm.... Bisa gitu?" tanyanya seperti tidak percaya.
"Faktanya bisa," jawabku ketus.
"Kak Dio kalau nanti mau pulang, hati-hati, ya." Sebenarnya niatku adalah ingin mengusirnya agar ia bisa segera pulang. Hanya saja aku tidak mau mengatakannya secara terang-terangan. Anggap saja itu adalah bentuk norma kesopananku pada tamu.
"Tapi papa sama Mama kamu belum pulang, Shel," ucapnya lagi.
"Gak apa-apa, kalau Kak Dio nanti masih di sini, tolong bilangin kalau aku sudah tidur, ya," ucapku. Kali ini aku benar-benar beranjak dari tempat dudukku. Lalu dengan tanpa rasa berdosanya aku berjalan menaiki tangga sembari menguap.
Tak tega sebenarnya aku meninggalkan sang tamu sendirian di ruang tamu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Sekali lagi, aku masihlah seorang remaja yang penuh dengan keegoisan. Aku akan melakukan apa yang aku sukai dan meninggalkan apa yang aku benci walau itu harus mengecewakan orang lain. Dalam arti orang lain itu adalah orang yang tak begitu akrab denganku, termasuk si Dio.
Kedewasaan masih belum bisa kuraih. Malahan kurasa sifatku ini masih kekanak-kanakan. Hal itu sangat berbeda dari Daniel yang bahkan sudah berpemikiran sangat dewasa. Maksudku, dia sudah bisa memikirkan nasib orang lain daripada nasib dirinya sendiri. Itu tandanya keegoisannya itu sudah hilang. Sedangkan aku, ya beginilah.
Malam ini cukup sunyi. Tak ada tawa cekikikan para manusia yang sedang nongkrong di warung kopi. Tak ada suara teriakan penuh emosi dari mereka yang sedang bermain game, dan pastinya juga tak ada aroma kopi yang membuat suasana menjadi semakin syahdu. Malam ini aku hanya di kamarku, berduaan dengan sang guling yang kini sedang kupangku. Hampa rasanya. Sepi, tanpa suara, selain suara jarum jam yang terus menjalankan tugasnya untuk menunjukkan tentang sang waktu. Aku ingin bebas, tanpa kekangan dari sebuah mata pelajaran. Menyebalkan, sungguh aku tak sedang bercanda.