Seperti yang sudah disepakati, selama Maria pergi Nusa yang akan temani Lubna. Ternyata Badar juga ikut bersamanya. Tentu saja istrinya yang meminta. Dia ingin temani Lubna, tetapi dia pun ingin tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri. Malam ini di meja makan, Lubna duduk satu meja bersama Nusa dan juga suaminya. Pemandangan tak menyenangkan itu harus dia saksikan, di tengah rasa sakit hatinya. Sejak tadi, perempuan itu sama sekali tidak bersuara. Fokusnya sengaja dia alihkan pada ponsel dalam genggaman. Tidak sengaja dia cek pesan dan tubuhnya melemas saat mengetahui pesan yang dia kirim kepada Arka sudah bertanda biru. Namun, pria itu tidak membalasnya sama sekali. “Ada apa, Na?” Nusa bertanya begitu melihat perubahan reaksi wajah sahabatnya. “Tidak apa-apa, Sa,” jawabnya enggan

