Bab 33

1051 Kata
Laman media ramai tentang pemberitaan tentang terbongkarnya kasus investasi bodong yang merugikan banyak pihak. Selain kehebohan tingkah manusia dengan panic buying-nya dan segala update tentang berita di tengah pandemi, grup-grup w******p pun banyak menyebarkan berita investasi bodong itu. Beberapa mengirim video tentang tertangkapnya affiliator yang terkenal dengan keramahan dan sedekahnya, dengan komentar bermacam-macam. Ada juga yang menyampaikan beritanya dalam bentuk narasi informasi. Nadia mem-forward informasi tersebut ke grup w******p keluarga Kusuma dengan mencantumkan komen, [Ternyata penipuan permainan uang masih terus ada dengan nama yang berbeda. Pelajaran aja buat kita yang pernah tertipu dengan skema yang sama.] Lama pesan itu tak mendapat tanggapan dari anggota grup. Tak apa, pikir Nadia. Toh, ia hanya berbagi informasi saja. Ia meneruskan berbalas pesan dengan para customer yang masih masuk untuk bertanya produk yang dijual, syukur-syukur terjadi pembelian. Walapun kadang Nadia merasa malas dan bosan karena kebanyakan hanya bertanya lalu menghilang, bahkan tka sedikit juga yang sudah membuat pesanan, pas ditagih pembayaran malah diblok. Sementara nadia fokus dengan chat customer, Arkan dan Jodi pun fokus pada kelasnya. Tak lama beberapa pesan bertubi-tubi datang dari grup orang tua kelas Arkan dan Jodi, juga dari grup w******p keluarga. Salah satunya dari Kak Nina yang merespon informasi Nadia tadi. [Nad, jangan kirim-kirim berita beginian ke grup, deh. Kalo kamu pernah tertipu, waspada aja buat kamu. Jangan membuat keadaan menjadi lebih keruh di tengah kondisi pandemi.] Nadia mengerutkan kening. Rasanya tidak ada yang berlebihan dari informasi itu. Lnatas kenapa Kak Nina sepertinya begitu marah? [Saya hanya memberi informasi saja. Mungkin hal serupa yang lain masih banyak. Tidak ada salahnya berbagi informasi.] Nadia membalas dengan sedikit kesal. Dulu mungkin Nadia sering dan selalu mengalah atas sikap keras kepala kakaknya, tetapi setelah berbagai kejadian, terutama sikap sang ibu yang terlalu mementingkan kakaknya, Nadia tak ingin lagi diam. [Gak perlu ke grup keluarga. Ga penting.] Nadia tak membalas lagi, malas rasanya berurusan dengan sikap keras kepala kakanya ynag tak mau kalah. Lantas Nadia membaginya dalam status w******p. Tak lupa ia bubuhkan caption, "Waspadalah, penipuan berkedok investasi, bisnis atau apa pun namanya. Siapa pun influencer-nya. Harap hati-hati." Berbagai komentar merespon status Nadia, mulai dari yang mengukuti pelaku sampai yang mencurahkan pengalamannya tertipu hal serupa. Lantas ada seorang yang merespon dari salah satu grup orang tua wali kelas Jodi. [Mom, saudara saya juga ada yang kena tipu grupnya si Dani Sulaiman yang orang Bandung itu. Rugi ratusan juta sampai menggadaikan akta tanah ke bank, saking berharapnya dari binsis itu. Ternyata malah zonk.] [Ya, ampun, Mom. Turut prihatin, ya.] Hanya itu respon Nadia. Tak lama orang yang sama mengirimkan video dari berita yang berbeda tetapi masih berkaitan dengan hal tersebut. Nadia menyimak secara saksama video itu, sekilas ia melihat jajaran nama petinggi yang menjadi anggota grup affiliasi Dani Sulaiman yang saat ini namanya sedang viral. Bahkan sebelum tertangkap, ia sempat digadang-gadang sebagai "crazy rich" termuda di Bandung. Matanya menangkap nama tak asing dalam daftar itu. Pikirannya mulai tertuju pada sikap Kak Nina yang begitu ketus menaggapi informasi di grup keluarga tadi. "Benarkah itu nama Kang Angga?" Ketika dibacanya nama lengkap dari Rangga Hadinata. "Atau mungkin ada nama yang sama? tapi sama serupa banget, apa iya kebetulan sama?" Nadia bergumam sendiri. Lantas mencari tahu melalui pencarian terbesar yang banyak digunakan milyaran orang di dunia, Google. "Ya, Tuhan!" Nadia menutup mulut dengan telapak tangannya. Bola matanya membelalak tak percaya ketika muncul sebuah warta online yang menampilkan semua anggota grup besar investasi bodong yang berlindung di balik nama trading. "Apa mungkin sepupunya Mbak Indah tergabung dalam grup investasi Dani dan kawan-kawannya?" Segera ia menghubungi sang suami. "Assalamualaikum, Sayang." "Waalaikumsalam, Mas. Sibuk, gak?" "Sedikit. Hari ini hanya menyelesaikan materi untuk zoom meeting besok." "Mas, sudah dengar tentang informasi yang menimpa sepupu Mbak Indah?" "Mas belum menghubungi Mas Sena lagi, kenapa, Nad?" "Beritanya, kan, sudah menyebar kemana-mana dan grup-grup w******p juga heboh banget dengan video-video berita itu. Salah satu video itu ada yang memberikan keterangan sangat jelas mengenai grup trading itu. Mungkinkah itu grup yang sepupu Mbak Indah ikuti?" "Mana coba kirim videonya!" pinta Tama. Tanpa menutup percakapan, Nadia mengirimkan video tersebut. "Kalo memang benar, ada yang harus aku bicarakan samamu, Mas." "Tentang apa? Biar ajalah kalo soal ini, jangan terlalu jadi beban pikiranmu. Sudah terlalu banyak yang kamu pikirkan dan urus, Sayang." "Begini, Mas. Kemarin lalu, kan, aku pernah membahas tentang minta bantuan perlindungan untuk suami kakakku mengenai kasus yang menjeratnya dengan pihak KPK." "Ya, terus apa hubungannya dengan kasus ini? Beda jauh loh, Sayang." "Nggak, Mas. Maksud aku, udah ditonton belum videonya?" Nadia tak langsung mengupas inti pembicaraan. "Iya sudah, maksudmu daftar nama affiliator trader-nya?" Keduanya jeda beberapa detik. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Tama kembali menonton ulang video yang barusan ia tonton sekilas. Ia pause pada bagian daftar nama affiliator dan menzoomnya. Seperti yang Nadia baca, di sana jelas tertulis nama Rangga Hadinata. "Apa mungkin itu kebetulan, ya?" tanya Nadia setelah beberapa detik, ia yakin suaminya telah meneliti ulang video itu. "Masih belum ada kejelasan karena mereka tidak memampang foto masing-masing affiliator. Hanya foto Dani sebagai ketua yang dipajang." "Iya, sih. Mas, kalo sampe itu benar, aku minta jangan membahas soal bantuan untuk Kang Angga dulu ke Mas Sena, ya. Biar kucari tau dulu ke Kak Nina. Takutnya berita itu benar, malah jadi bentrok nanti." "Iya, Sayang. Kamu jangan sampai terlibat terlalu jauh juga. Supaya tidak terkena imbas." "Baik, Mas." "Mamaaa! Aku lapar." Arkan mulai berterial di sela-sela jam pelajaran. "Ya, ampun Arkan tadi, kan, udah minum susu." "s**u tidak akan kenyanglah, Nad. Kamu siapkan apa untuk anak-anak sarapan?" Tama yang masih terhubung via telepon, mendengar teriakan Arkan. "Aku udah siapin kentang goreng, sosis dan mie telor buat mereka berdua. Ini, kan belum masa reses, Mas." "Siapkan aja duli sana. Nanti aku telepon lagi, ya. Baik-baik kalian. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam" "Maa, aku juga lapar." Jodi pun ikut bersuara. Gegas Nadia menuju dapur mempersiapkan makanan yang memang sudah siap dimasak. Meskipun setiap hari direpotkan dengan tugas-tugas sekoah anak-anak dan masih harus memperbanyak beradaptasi, tetapi Nadia merasa sedikit lega dan tenang karena Arkan tidak harus mendapat perlakuan teror seperti sebelumnya. Selama sekolah online berjalan, Nadia mempelajari bagaimana guru-guru itu mengajar dan detail apa saja yang mereka ajarkan. Bahkan link yang mendukung pelajaran pun, Nadia catat untuk dipelajari. Sebelah pikirannya terus merancang tentang keputusan sekolah Arkan dan Jodi nanti setelah sekolah kembali normal. Nadia meyakinkan dirinya, harus pindah dari sekolah itu. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN