Bab 40

1287 Kata
Sena tampak menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan. Perempuan bernama Anita itu hanya tertunduk sambil sesekali memangku Dion yang kian aktif. "Jadi, gini Tam. Mas Sena dan Anita ini sudah menikah dua tahun lalu tanpa sepengetahuan Mbak Indah. Mereka menikah siri." Penuturan Indah yang tampak berat di raut itu mengejutkan Tama. Lelaki berzodiak Libra itu memindai pandangan dari kakak iparnya ke Mas Sena dan Anita serta sang ibu. "Bahkan Mas Sena pun tidak memberitahu Ibu." Indah melanjutkan, setelah melihat wajah tanya di muka Tama yang tertuju pada sang ibu. Ada pertanyaan dasar sebagai seorang adik dan sebagai seorang lelaki yang ingin Tama tanyakan pada sang kakak, tetapi secara pribadi. Ia menahan diri saat teringat Anita ada di sana. Tama merasa bukan waktu yang tepat. Lantas ia hanya menunggu penjelasan dari kakaknya. "Saat terakhir kamu ke sini bersama anak-anak dan istrimu, saat itu aku dan Mas Sena sebetulnya sedang tidak baik karena Mbak Indah baru mengetahui perihal ini." Lagi, hanya perempuan tegar itu yang bersuara. Tama merasa sedikit kehilangan respek terhadap kakak sulungnya. "Lalu, apa rencana Mbak Indah dan Mas Sena selanjutnya? Maaf, apakah kalian ada masalah sebelumnya? Hingga Mas Sena harus melakukan ini. Atau ada alasan lain, Mas?" Tama mulai tak bisa menahan diri untuk bertanya. Tak biasanya sang kakak tidak memberi tahu terlebih dahulu. Biasanya Sena selalu meminta saran Tama sebelum melakukan sesuatu, apalagi ini hal besar. Tama dianggap cukup mampu memberikan keputusan yang bijak, tetapi saat ini sepertinya kehendak Mas Sena jauh lebih dominan. Sekarang semuanya sudah terlanjur, anak yang dipangkuan Anita itu adalah keponakannya. Anita semakin menunduk. Semua berawal dari sebuah reuni sekolah, Anita adalah seseorang yang pernah hadir di masa lalu Mas Sena. Namun, rasa itu tidak pernah terungkapkan. Keduanya memilih bungkam dan meninggalkan masa lalu. Tak disangka setelah 20 tahun bertemu kembali di acara itu, ternyata ada sebuah rahasia yang keduanya baru sadari. Mereka memiliki perasaan yang sama dan di saat itu posisi Anita adalah seorang ibu tunggal yang telah lama bercerai dari pernikahan pertamanya. Perasaan yang mungkin pernah usai tetapi kembali terbuai karena sesuatu yang tertunda. Keduanya sepakat menjalani hubungan terlarang selama kurang lebih enam bulan, lalu diam-diam menghalalkan dengan cara siri. Tak dipungkiri ada sesuatu yang mencubit hati Indah saat mengetahui kecurangan sang suami yang selama ini ia anggap pahlawan dan selalu bersikap manis, tanpa ada cela sedikitpun. Berjalan di antara dua pilihan yang sulit bagi Sena. Ketika baru saja menikah dengan Anita, Allah langsung menitipkan bayi mungil dalam rahimnya. Rasanya semakin sulit untuk memutuskan, saat Indah meminta Sena untuk memilih. Sempat ingin mengakhiri bahtera rumah tangga bersama Sena, Indah sempat ingin pergi menenangkan diri ke rumah orang tuanya. Namun, sang mama mertua memohon Indah untuk tetap tinggal dan memikirkan jalan terbaik untuk semua. Terutama untuk anak-anak. Baik anaknya ataupun anak dari Anita. Sungguh bukan keputusan yang mudah juga untuk Indah. Selama lebih dari satu tahun, selama pandemi, ia bergulat dengan pikiran yang tak menentu. Pertemuan mereka pun semakin jarang karena Sena lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja sebagai pengamanan. Sementara Indah fokus pada kerjaanya sebagai tenaga medis dan membersamai anak-anak belajar di rumah. Di penghujung tahun pertama pandemi, saat pengetatan mulai melandai, Indah menemukan jawaban atas keraguannya. Ia tak hanya melihat anak-anak, tetapi juga sang mama mertua yang sudah terlalu sayang padanya. Dengan segala kepasrahan dan berserah memohon keihklasan untuk dapat menerima Anita sebagai madunya. Hanya saja satu syarat yang Indah ajukan, status pernikahan mereka tidak bisa dinaikkan menjadi resmi. Sebab Indah masih ingin menjaga marwah sang suami di lembaganya bertugas. Jika masalah ini terbongkar, sudah pasti posisi Sena taruhannya dan anak-anak akan menjadi imbas. Dimana saat ini kedua anaknya sedang membutuhkan biaya untuk sekolah dan lain-lain. Sena pun menyanggupi, karena pada dasarnya ia pun tidak ingin kehilangan keluarga kecil dan istri yang pertama kali dinikahi. Bukan Indah tak bisa hidup mandiri dan terlalu bergantung kepada suami, karena ia pun wanita pekerja di sebuah lembaga kesehatan. Sekali lagi Indah berpikir bukan karena ketergantungannya, tetapi banyak hal yang ia pikirkan selain perasaannya yang hancur. Sena memang membagi cintanya, tetapi tidak pernah berkurang tanggung jawabnya. Serta tak tega melihat ibu mertua yang sudah menjanda itu tertinggal sendirian, meskipun itu bukan lagi menjadi urusan Indah jika berpisah. Bu Arika hanya terlihat pasrah saat Indah membuat keputusan tersebut. Kehidupan rumah tangga anaknya ternyata tidak bisa ia kontrol seperti apa yang Arika dan almarhum Senopati jalani. Setiap perjalanan hidup ada kisah yang menjadi takdirnya sendiri. Tinggal bagaimana jiwa-jiwa itu mengurus dan menyelesaikan masalahnya. Anita, wanita berkerudung itu pun tidak tampak protes dan menuntut untuk menaikkan status pernikahannya dengan Sena. Selain perasaan yang masih tersisa, ia butuh seorang imam sebagai pelindung. Meski secara pemikiran yang waras, kenapa harus dengan lelaki beristri? Ya, karena perasaan yang masih terpaut. Lalu, bodohkah Indah dengan keputusannya? Di saat semua perempuan di dunia memperjuangkan haknya untuk dicintai secara utuh tanpa terbagi, ia malah sebaliknya. Menerima pembagian separuh hati sang suami dengan wanita lain. Bahkan lebih parah, wanita itu adalah orang masa lalu Sena. Satu hal lagi yang membuat Indah bertahan dengan syarat, ia tak ingin kehilangan Ibu yang menyayanginnya seperti Bu Arika. Sebagaimana ibunya yang telah tiada, begitu pun ayahnya. Hanya di keluarga Sena, Indah mendapat kasih sayang yang lama hilang dari keluarganya sendiri. Rasanya kasih sayang kepada sang mama mertua jauh lebih besar daripada kekecewaannya pada Antasena. *** "Mbak, yakin menerima pernikahan Mas Sena dengan Anita?" Tama bertanya secara pribadi setelah pertemuan itu berakhir. Sena sedang pergi mengantarkan istri sirinya pulang. Indah mengangguk mantap. Tak ada raut yang menunjukkan keberatan di sana. Justru Tama semakin heran. "Itu berat, Mbak. Pikirkan lagi. Kalau Mbak Indah mau Mas Sena menceraikan Anita, bisa saja. Biar anaknya kita nafkahi." Sang adik ipar berusaha meyakinkan bahwa keputusan itu tidaklah mudah. Indah menggeleng merespon ucapan Tama. Seandainya saja Indah adalah kakak kandungnya, ingin rasanya ia memeluk perempuan berhati malaikat yang saat ini tengah rapuh. Perempuan itu melapisi diri dengan berbagai ekspresi hanya demi terlihat kuat dari luar, tetapi dalamnya lantak penuh kerapuhan. Seperti waffer sejuta lapis, garing di luar, tetapi lumer di dalam. "Seandainya Sena berbicara dengan Ibu, mungkin masih bisa dibicarakan bersama dari awal. Tapi bagaimana pun sekarang sudah terjadi. Ibu juga tidak tau kapan kejadiannya." Bu Arika yang sejak tadi bungkam, membagi kebingungannya. Tama tampak mengusap wajah kasar. Ia belum sempat mengganti pakaian sejak datang tadi. "Mandi dulu, Tam. Lalu makan. Kamu pasti capek. Gimana kabar Nadia dan anak-anak?" Bu Arika mengingatkan. Topik ini sedikit mengganti rona sesak di wajah Indah. Ia akan selalu bersemangat mendengar kabar keponakannya yang menggemaskan itu. "Alhamdulillah, mereka sehat. Cirebon sudah mulai buka new normal juga. Tapi sekolah masih online." Tama tampak mengalihkan perhatiannya pada keranjang buah, lalu mengambil satu buah apel. "Raja dan Ratu mana?" Tama menanyakan kedua keponakannya, anak Sena dan Indah. "Ada, di paviliun. Sengaja mereka tidak kuajak saat pertemuan tadi. Biar kujelaskan nanti. Ato mungkin Om Tama aja yang ngobrol sama mereka." Indah sudah mulai bersikap normal. "Inshaallah, bisa, Mbak." Tangan Tama kini menuju remot televisi. Mencari kanal siaran yang mungkin saja bisa menghibur. Kanal pertama yang muncul adalah yang menyajikan berita terkini. Kasus Angga semakin terangkat. Tanpa Nadia bercerita kepada Tama pun, ia akhirnya mengetahui berita tersebut. Angga resmi ditahan dengan kasus yang menjerat dirinya. Keanggotaan dewan perwakilan rakyat daerah pun gugur, aset perusahaan telah dibekukan untuk dilakukan pendalaman tentang keterlibatannya di bisnis ilegal trading itu. Raut wajah Tama mendadak tegang dengan lipatan di dahi dan alis yang mengatup saat melintas wajah yang dikenalnya dalam berita itu. "Nah, akhirnya kebuka semua, tuh, para penipu. Duh, kasian sepupuku. Usaha gak seberapa, niat mau menabung malah ditipu." Indah kini sepertinya sudah benar-benar melupakan obrolan menegangkan bersama Sena dan istri barunya. Sementara saat ini wajah Tama lah yang mengencang, ada rasa tak percaya jika kakak ipar dari pihak istrinya terlibat kasus bodong itu. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN