Bab 20

1237 Kata
"Sebetulnya siapa yang menjahili Arkan, Nad?" Witama memburu Nadia saat berkomunikasi via sambungan telepon. "Apakah pihak sekolah sudah menangkap pelakunya?" tanya Tama lagi. Masih dalam kebingungan, entah Nadia harus menjawab apa pada Tama. "Mereka belum memeberi informasi, Mas." Nada suara Nadia hampir tak samar. Terdengar embusan napas kasar dari seberang. "Apa harus kita pindahkan anak-anak ke sekolah lain?" Tanpa menjawab pertanyaan Tama, Nadia memberi pertanyaan pilihan. "Entahlah, jika kejadian ini terus berulang kita harus bicara dengan pihan sekolah untuk mengetahui kenapa anak-anak itu menjahili Arkan, jika sekolah tidak bisa memberikan solusi baru kita pindah, daripada anak-anak jadi bulan-bulanan pembuli." Witama tak dapat lagi mengatur emosinya. Nadia memejam sambil memeras otaknya untuk kembali mencari jalan terbaik untuk semuanya. Tepatnya untuk kebutuhannya dalam rangka melunasi utangnya ke bank. Sebab jika ia berterus terang kepada Witama, sudah dipastikan suaminya itu tidak akan menerima begitu saja. Akhirnya Nadia terus saja melakukan kebodongan dengan kebohongannya. "Nad, Mas minta tolong kamu tetap mengawasi anak dengan baik. Mas tidak bisa bolak-balik le Jawa terlalu sering," ungkap Tama. "Iya, Mas." "Coba koordinasi dengan guru wali kelas Arkan. Jika tidak ditemukan solusi terbaik, kita pikirkan langkah selanjutnya." Begitu Witama yang selalu mempercayakan segalanya kepada istri tercinta selama berjarak. "Baik, Mas." Hidupnya terasa begitu dikejar-kejar rasa bersalah, Nadia terkadang merasa sangat lelah menapaki langkah-langkah dalam hari-hari yang tak tahu kapan akan berakhir. Masalahnya hanya berputar disitu-situ saja. Sesungguhnya ia sangat ingin terbebas dari jerat utang itu secepatnya. Sehingga berapapun yang ia mampu, ia akan bayarkan. Jika sudah tak ada lagi beban, Nadia sudah bisa merasakan ketenangan tanpa harus dikejar deadline pembayaran. Napasnya memburu naik turun. Arkan semakin kepayahan dengan kejadian terakhir. Ia hanya terbaring lemah dengan kondisi demam seperti dulu. Jangankan mengikuti pelajaran sekolah, untuk mengerjakan tugasnya saja tidak bisa fokus lagi. Nadia teringat ucapan Bu Vania dalam obrolannya kemarin mengenai tujuan pihak sekolah melakukan hal itu. Sekali lagi Nadia berpikor dengan penuh keheranan, sungguh tidak menyangka dengan cara yang dilakukan pihak sekolah. Sangat menjijikkan! Jika hal yabg dilakukan oleh pigak sekolah adalah hal yang menjijikkan, karena hanya berpikir cuan. Lalu, apakah yang Nadia lakukan itu bukan hal menjijikkan? Tuhan, jika masih ada jalan terbaik untuk semuanya, tanpa harus melukai pihak manapun, hamba mohon tunjukkan kuasa-Mu. Nadia membisikkan doa-doa dalam hatinya. *** "Ndi, gimana, nih, masih belum aja ada pembeli yang nyantol?" Di teras rumah bercat putih itu, Bu Rosmia mondar-mandir dengan ponsel digengaman. Sementara Nindi masih sibuk menyiapkan keperluan sekolah semata wayangnya. "Kamu tawarin suamimu aja, siapa tau dia dapat tender besar, beli aja tanah Kak Nina. Kan, biar luas tanahmu, Ndi." Celoteh Bu Rosmia membuat Nindi melirik ke arah perempuan baya itu. "Mas Rizal belum dapat kepastian dari proyeknya, Bu. Sekarang hanya menerima gaji normal." Nindi yang sebenarnya tertarik membeli tanah bayina kakaknya itu mencoba memberi pengertian kepada ibunya. "Lama-lama Ibu jadi ragu dengan ikhtiar yang kita lakukan ke si abah itu. Jangan-jangan kita dibodohi." "Saya sendiri tidak tau pasti, Bu. Tapi kita tunggu saja sampai bulan depan. Kalau tidak masih belum berhasil, coba kita tanyakan lagi aja." Nindie mengusulkan. "Apa Ibu coba tanyakan dulu ke si Doni, ya?" Nindi tampak berpikkr sejenak, tak lama ia mengangguk menyetujui ide sang ibu. "Besok Ibu mau ketemu sama Bu Lastri, siapa tau dia setuju." Tak lama ponsel Bu Rosmia menerima notifikasi pesan. [Assalamualaikum, Bu. Maaf untuk bulan depan sepertinya saya tidak bisa membayar cicilan dulu.] [Loh, memangnya kenapa, Nad. Ibu gak mau ikut terlibat dalam cicilan itu. Awal-awal Ibu sudah banyak membanti, loh, ya.] [ Apa bisa gantian dulu dengan Nindi?] "Ndi, untuk cicilan bulan depan apa bisa gantian dulu sama Mbak Nadia?" Bu Rosmia mencoba berdiskusi dengan Nindi. Lalu keduanya saling menyikut dan mengerutkan dahi menandakan keberatan. Lama Bu Rosmia tidak membalas pesan Nadia. [Nanti Ibu bicarakan dengan adikmu, ya. Kalau dia bisanya bagi dua gak apa-apa ya!] Begitu respon Bu Rosmia. *** "Sayang, gimana kabar penjualan tanah di kampungmu? Apakah sudah ada progres?" Angga, suami Kak Nina kembali bertanya hal serupa malam ini, setelah kemarin ia menindaklanjuti urusannya di proyek yang sedang dijlaankannya. Angga tertarik terjun dalam proyek besar dengan investasi yang cukup fantastis. Jika ia berhasil memenangkan proyek tersebut, maka keuntungannya akan berkali-kali lipat. Mega proyek yang digawangi pemerintah daerah setempat. "Belum juga ada info, Kang. Katanya sudah titip diiklankan sama Nadia, tapi gak tua, deh." "Kalau sampai akhir bulan ini kita belum mendapatkan dana itu, aku akan kalah tender, Nin. Aku alan kehilangan kesempatan untuk memenangkan proyek besar itu." Angga terdengar begitu antusias dan menggebu. Tangannya mengepal. Sementara Nina sendiri tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. Kadang ia merasa bersalah kepada keluarganya, tetapi di sisi lain ia juga ingin mendukung pekerjaan suaminya. Nina tidak pernah meragukan usaha yang dijalankan sang suami, toh, selama menikah, Angga tak terlihat macam-macam. Justru lelaki kelahiran Bandung, 39 tahun silam itu tampak selalu berhasil dan serius dengan yang ditekuninya. "Saya coba bujuk Ibu lagi supaya menyerahkan ke pembeli pertama, siapa pun dan berapa pun tawarannya. Yang penting kejual dan bisa dijadikan modal proyekmu, Kang." Nina patuh. Jerit ponsel menyela ruang tamu Nina yang hening karena Angga dan Nina sedang berpikir keras untuk mejual tanah itu. "Assalamualaikum, Bu." " Waalaikumsalam, Nin. Gimana kabarmu dan keluarga di sana." "Alhamdulillah, Bu, sehat. Gimana, Bu ada kabar baik kah tentang tanah itu?" Nina merasa deringan ponselnya akan membawa kabar baik. "Begini, Nin. Ibu belum bisa ketemu pembeli uang cocok dan untuk beberapa bulan ke depan Ibu dan Nindi harus ikut patungan melanjutkan cicilan ke bank, karena Nadia sesang ada kebutuhan mendadak katanya." "Lalu? Itu gak ngaruh ke penjualan tanah Nina, kan, Bu?" Suara Nina sedikit meninggi. "Tidak, Nin. Tapi Ibu hanya mau bertanya aja, memangnya urgent sekali, ya, uangnya?" "Iya, Bu. Kemarin yang punya kavling datang lagi menanyakan kepastian." "Kalau di bayar DP dulu, apa mereka tidak mau?" "Tidak, Bu. Karena itu langsung pembuatan surat akta tanah, syaratnya harus dengan pembayaran lunas." "Besok Ibu mau usahakan bertemu sama Bu Lastri, mudah-mudahan dia tertarik." "Iya, Bu. Berapa pun yang di tawar, udah lepas aja lah. Lama-lama kesel juga nunggunya." "Cuma itu, Nin. Kalau seumpama jadi kejual, Ibu minta dibantu sebagian untuk pembayaran cicilan ke bank supaya tidak terlalu lama nunggak. Ibu hanya khawatir dengan surat tanah rumah ini, Nin." Bu Rosmia terdengar parau dan terisak. "Ini semua gara-gara Nadia dan kebodohannya. Sekarang siapa yang susah, semuanya, kan?" Nina seolah tida terima saat dimintai bantuannya. "Nadia memang bertanggung jawab membayar cicilan itu, tapi kalau mengandalkan dari dia saja, rasanya ibu tidak sabar. Entah kapan akan selesai. Ibu hanya memikirkan tanah rumah ini." "Kalau sampai tidak terbayar, biar saja nanti bagian si Nadia yang dipotong atau dibayarkan seluruhnya untuk melunasi utang-utang itu saja. Kalau begitu, saya pikirkan dulu, saya mau diskusi dengan Kang Angga dulu, Bu." "Iya, baik Nin. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Sambungan percakapan pun selesai. Bu Rosmia masih terpekur di tepi ranjang. Sungguh rumit menghadapi keinginan dan masalah yang berbeda dari ketiga putrinya. Ia jadi teringat saat dulu ketika kedua orang tuanya masih hidup. Ayah Bu Rosmia yang merupakan pensiunan TNI dengan meninggalkan banyak sawah saja masih tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan semua anak-anaknya. Adik-adik Bu Rosmia yang serakah, selalu merasa tidak puas dengan pembagian itu. Sementara bagian Bu Rosmia sudah banyak dikurangi potongan utang ke saudaranya karena pinjaman dan hal lain yang saat muda ia pun banyak melakukan kekeliruan yang berkaitan dengan usaha dan keuangan. Perempuan dengan rambut yang dipangkas pendek itu, menghela napas panjang dan berat. Seperti ulangan kisah yang terus menjadi lingkaran setan dalam garis merah kehidupan. *** bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN