Kereta tujuan Cirebon-Jakarta siap melesat di lintasan rel lima. Witama sekali lagi membalikan tubuhnya ke arah pintu feron. Di mana Nadia, Arkan dan Jodie mengantar keberangkatan sang imam kembali ke Jakarta menuju Batam.
Kedua bocah itu menatap punggung Witama hingga menghilang ditelan gerbong kereta. Kaca pemisah pintu masuk menjadi bias karena pandangan yang memburam. Jawa - Sumatera tidaklah sejauh Asia - Afrika, tetapi mengingat pasang surut kehidupan yang harus kembali Nadia lewati hanya bersama kedua anaknya, membuat ketegarannya bergoyang merapuh.
Tidak dipungkiri bagi setiap istri, akan jauh lebih menyenangkan dan menenangkan jika berada di dekat kawamnya. Bersyukur Nadia memiliki suami dengan spek seperti Witama. Banyak wanita yang terang-terangan menaruh hati kepadanya saat masih melajang.
Sebagai lelaki yang berhati halus, Witama selalu enggan menyinggung perasaan siapapun, terlebih kepada wanita meski ia tidak menaruh hati.
Kebaikan lelaki kelahiran Surabaya itu sering kali disalah artikan oleh semua rekan kerja wanitanya. Saat berita Witama yang tiba-tiba dekat dengan Nadia dan bahkan sampai mengumumkan rencana pernikahan mereka, banyak rekan kerjanya yang tidak percaya berita itu.
Terang saja, mereka selalu menganggap betapa beruntungnya Nadia bisa bersanding dengan seorang Witama. Lelaki baik, berparas campuran yang khas antara Jawa-Bugis diramu sedikit rempah Belanda, betapa sangat mempesona.
Sedangkan Nadia hanya wanita biasa saja. Karirnya di perusahaan itu pun tidak lebih dari posisi menejer, ia juga bukan termasuk karyawan populer. Hanya teman-teman satu divisi yang mengenalnya. Wajah, menurut mereka Nadia adalah gadis yang standar saja. Banyak di antara karyawan wanita uangt lebih cantik, menarik dan memiliki posisi apik.
"Tama, kamu serius memilih Nadia sebagai calon istri, calon ibu dari anak-anakmu? memangnya tidak ada yang lebih menarik dari dia di perusahaan ini?" Salah satu karib Tama yang paling dekat sekalipun tidak menyangka dengan keputusannya.
"Yakin, sama Nadia? Gak ada pilihan lain apa?" Relan kerja Tama yang lain ikut memberikan komentar.
Namun, hati adalah hati. Selain memang sudah digariskan, pilihan hati Tama jatuh pada Nadia. Gadis yang tak populer di tempat kerja. Justru itulah yang membuat Witama jatuh hati.
Awal-awal tahun pernikahan Witama dan Nadia dipenuhi bumbu-bumbu cemburu dan kesalahpahaman, terkhusus dari Nadia. Terutama jika Nadia menemukan hal-hal yang berbau teman-teman dekat Tama sata itu.
Awalnya Nadia tidak memusingkan apa kata mereka, toh, pernikahan mereka sudah direstui kedua orang tua mereka. Meskipun prosesnya sangat membuat kepala berdenyar karena memang keduanya tidak memiliki pengalaman mengurus hal seperti itu, ditambah mereka melakukannya tidak dengan bantuan kedua keluarga.
Jadi, bisa ditebak perjuangan menghadapi kerumitan mempersiapkan semuanya. Akad dan resepsi digelar di kediaman Nadia, berlangsung secara sederhana. Saat itu Bu Rosmia tidak meminta mahar seperti yang ia minta kepada Angga waktu mempersunting Nina. Mungkin karena pesta kedua di rumah itu, jadi tidak terlalu antusias.
"Yang penting halal dan Ibu gak kepikiran lagi dengan usiamu, Nad." Bu Rosmia menghala napas lega, entah bahagia atas pernikahan anaknya atau lega karena akhirnya Nadia tudak menjadi predikat perawan tua.
Berita pernikahan Nadia yang mendadak, menggemparkan seluruh kelurahan. Hingga sebagian mengira nadia dijodohkan, sebagian lagi menerka-nerka karena hamil duluan, sisanya hanya ikut mendengarkan saja. Serba salah memang, jika tinggal diperkampungan. Nmaun, berita itu akhirnya tidak terbukti setelah mereka melewati hampir sepuluh tahun berumah tangga.
Meskipun keadaan masih belum seperti yang mereka harapkan, layaknya pasangan suami istri lain yang tinggal bersama tanpa ada jarak yang menjeda. Kata orang tua, usia pernikahan belum genap sepuluh tahun adalah masa-masa perjuangan dan mengasah penguatan diri.
"Ma, kapan Ayah pulang lagi?" Arkan bertanya dengan wajah kembali murung saat telah kembali ke rumah.
"Belum tau, Sayang. Arkna belajar,ya. Besok sudah masuk sekolah lagi., " Nadia mengingatkan. Arkan pun patuh.
"Ma, aku mau ke rumah Eyang Uti lagi. Enak, Ma, di sana." Jodi memyeletuk.
"Iya, Sayang. Inshaallah kita pasti ke sana lagi." Nadia mengusap lembut rambut Jodie dan Arkan.
***
Arkan sudah tak lagi merasakan trauma. Nadia mengantarnya sekolah seperti biasa.
Namun, Arkan belum sempat masuk kelas. Setelah memasuki gedung bertingkat itu, seseorang memanggilnya untuk menuju basement. Ketakutan kembali muncul, tetapi anak itu tidak bisa menolak karena yang menyuruh kakak kelas dan tidak hanya satu orang. Ia diminta mencarikan buku yng terjatuh oleh sekelompok kakak kelas yang tempo hari bertemu di runag tunggu.
"Tolong cariin buku si Mirza di dalam bus, ya. Nanti kasihkan pas kamu ke kelas, ya." Salah satu dari kelompok kakak kelas Arkan itu memerintahkan dengan menyebut nama teman sekelas Arkan.
"Bukunya jatuh di dalam bis tadi pagi, dia minta tolong aku tapi aku harus masuk kelas science sekarang, jadi buru-buru." Seorang yang mengaku kakak Mirza itu melanjutkan.
Arkan menurut, memasuki bus. Alih-alih mencarikan buku, lantas ditinggal begitu saja. Saat sopir yang bertugas kembali untuk mengunci pintu bis, dia tidak melihat ada anak di dalam sana.
Hari ituBu vania tak melihat Arkan di kelas, ia pikir Arkan sudah meminta izin lagi ke bagian admin.
[Pagi Bu Vania, saya minta tolong bekal Arkan yang di boks breakfast dan boks lunch untuk dipisahkan, supaya Arkan tidak bingung. Soalnya saya lupa memberi catatan di boks-nya. ]
Deg!
Seketika Bu Vania menahan napas. Ada rasa sesal kenapa tidak menanyakan lebih awal kepada Nadia untuk memastikan jika Arkan masuk sekolah atau tidak. Sebaliknya ia malah menduga Arkan izin libur lagi.
Tak ingin membuat Nadia panik lagi, Bu Vania segera berinisiatif mencari tanpa melaporkan ke pihak sekolah. Karena dikhawatirkan ini akan menjadi berita yang mengada-ada atau dianggap lelucon. Sayangnya waktu istirahat yang singkat,
tidak memberikan keleluasaan bagi Bu Vania mencari Arkan.
"Mama..." Arkan mencoba berteriak di dalam bus untuk meminta tolong.
Oksigen semakin terkikis, pernapasannya semakin menyesak, ia makin kelelahan di dalam bus yang terkunci.
Semakin gelisah, bu vania tidak tenang. Ia meminta anak didik kelasnya mengerjakan tugas yang ia tunjuk dibuku.
Bu Vania seketika berpikir ke arah basement, jika saja kejadiannya sama. Ia berpikir ada orang yang sama yang sengaja melakukan ini kepada anak malang itu.
Sudut basement yang gelap dan sepi, hanya terdengar entakan sepatu Pantovel. Toilet, ruang perlatan olah raga dan beberapa sudut basement berhasil dicek, tetapi tidak ada Arkan di sana.
Saat langkahnya kembali ke tangga menuju kelas, Bu Vania melintasi bus sekolah yang tampak berembun kacanya.
Ia melihat hal yang tak biasa di balik pintu bus antar jemput sekolah itu. Guru mungil itu menghentikan langkah.
"Ini benar-benar ada yang tidak beres." Gegas Bu Vania berjalan menuju bus ynag dimaksud.
Sayangnya seseorang mengehntikan usaha bu vania. Ia pun gagal menyelamatkan Arkan.
"Bu Vania, bukannya ini jam kelas, ya, Bu? Kok, Ibu ada di sini, sedang apa?"
"Ah, tidak apa-apa, saya hanya mencari sesuatu." Bu Vania segera meninggalkan salah satu petugas keamanan yang memergokinya.
Tak Pak sopir tiba-tiba datang dan membuka pintu bus yang terkunci. Ia menemukan Arkan yang hampir pingsan. Sang sopir masih belum tahu apa yang terjadi, bahwasanya anak itu bukan anak ynag biasa ikut antar jemput. Pak sopir hanya melakukan pelaporan pada petugas keamanan yang baru saja memasuki basement.
"Sudah, Bapak jangan khawatir. Anaknya hanya sedikit lemah saja. Sudah kunci lagi pintunya!" perintah sang security itu.
Pak sopir hanya mengangguk, meski masih gemetaran karena takut menjadi masalah besar jika ada laporan ke orang tua murid itu.
Arkan mulai masuk kelas di akhir jam pelajaran dengan kondisi lelah dan pucat. Semua temannya menduga Arkan masih sakit.
Bu vania ikut keheranan, bagaimana dan siapa yang mengeluarkan Arkan dari bus. Rencana itu pasti dilakukan supaya tidak diketahui olehnya dan orang lain. Pasti hanya orang-orang yang merencanakan perlakuan bullying. Bu Vania lantas berpikir mencari tahu kepada sang sopir.
***
Bersambung...