10. Autumn

2009 Kata
Liona terpaku beberapa detik di tempatnya. Kinerja otaknya melambat. Ia berkali-kali mengerjabkan mata, memastikan ini bukanlah mimpi. Bego? Apa itu artinya? Bodoh? Ada yang berani mengatainya bodoh? “Br*ngsek!” Liona memaki geram. Darahnya menggelegak. “Siapa yang lo katain b**o, hah?! Gue lulus c*m laude dari Nanyang dan lo berani ngatain gue b**o?!” Beberapa pembeli lain berjengit melihatnya mengamuk. Belasan pasang mata mengekori aksinya untuk beberapa saat. Liona benar-benar dikuasai emosi. Tiga puluh satu tahun ia hidup, baru kali ini ada yang berani memakinya sekasar itu. Dan jika perempuan lain biasanya menangis terkena bentakan seperti itu, ia malah ingin mencekik pria itu jika mereka bertemu kembali. Air matanya sudah kering dan ia bertekad tak akan pernah menangisi sesuatu yang sia-sia. Dia lebih bisa menerima seseorang mengatakan wajahnya tidak cantik atau tubuhnya tidak seksi, dibandingkan predikat b**o yang baru saja di sematkan kepadanya. Ya Tuhan! Sia-sia gue belajar mati-matian kalau masih ada yang bilang gue b**o! “Sialan lo!” Mulutnya meracau tidak karuan. Ia menendang rak makanan yang terbuat dari besi tersebut dan mengaduh kesakitan memegang kakinya. “Arrghh...!” “Excusez moi, mademoiselle...” Sebuah suara sengau menyapanya dari belakang. Liona menoleh kaget. Matanya terbelalak melihat dua petugas keamanan dengan postur tubuh tinggi tegap menatapnya datar. Sial! Ia mengedarkan pandangan berkeliling memastikan bahwa benar dirinya yang sedang dipanggil. “Me?” Lio menunjuk dirinya sendiri panik. Wajahnya meringis sembari tangannya memegang kakinya yang menghentak nyeri. “Oui,” sahut petugas itu. “Pourriez-vous s'il vous plaît venir avec nous?” Liona menggaruk pelipisnya tidak mengerti. Wajahnya berubah cemas. “Excuse me, I don't speak French.” Kedua petugas itu berpandangan. “Could you — please come with — us?” kata salah satu dari mereka terbata-bata. Liona mengutuk dirinya dalam hati karena bereaksi terlalu berlebihan. Gara-gara setan sialan itu, juga gara-gara ia tidak mengerti bahasa Perancis sialan ini, urusannya menjadi tambah panjang. Ini adalah rekor terbarunya, berurusan dengan petugas keamanan di negeri orang saat liburan, gara-gara pria songong yang mengatainya bodoh. Ia tidak akan dideportasi hanya gara-gara masalah sepele ini, ‘kan? Perutnya mendadak mual. Sedari tadi ia belum sarapan. Hidangan yang disajikan pihak hotel sama sekali tidak menggugah seleranya. Itulah sebabnya ia mampir ke minimarket terdekat mencari makanan instan dan cemilan ringan untuk mengisi perut. Liona terpaksa menurut. Ia menarik trolley belanjanya sembari mengikuti petugas yang mengapitnya di sebelah kanan dan kiri. Sesekali ia mengerinyit menyeret kakinya yang kesakitan dan berjalan tertatih-tatih. Terbata-bata ia menjelaskan di kantor keamanan tentang siapa dirinya dalam bahasa Inggris yang ia eja pelan-pelan. Ia bisa maklum bahwa tidak semua rakyat Perancis bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Logat sengau akibat pengaruh dari bahasa ibu mereka, membuat Liona harus berkali-kali mengkonfirmasi pertanyaan yang diajukan padanya. *** Apa-apaan itu tadi, Al? Al memukul-mukulkan keningnya sendiri ke dinding setelah ia mengintip Liona mengamuk dan digiring petugas keamanan. Melihat amukan wanita itu dari jauh, sudah cukup membuat nyalinya seketika ciut. Perempuan yang sedang marah-marah adalah sesuatu yang mengerikan untuknya. Bagaimana ia bisa berkata sekasar itu pada seorang wanita? Mereka belum saling mengenal dengan baik. Jangankan orang lain, adiknya saja jika menerima bentakan seperti itu akan berlinang airmata dan mendiamkannya sekian lama sampai ia menemukan sogokan yang tepat untuk meluluhkan hatinya. Seharusnya ia bisa bicara lebih lembut, bukan memperingatkannya dengan kemarahan seperti tadi. Lagipula, tidak semua orang bisa berbahasa Perancis, apalagi hanya sekedar turis. Ia beruntung pernah satu kamar dengan Jean, teman kuliahnya yang berasal dari negeri Napoleon itu sehingga ia bisa belajar sendiri secara otodidak, tanpa harus ikut kursus intensif seperti mempelajari bahasa Jerman dahulu. Ia bersembunyi dari balik tembok di seberang jalan saat Liona keluar dari minimarket membawa barang belanjaannya. Wanita itu berjalan tertatih-tatih. Hatinya mendadak iba dan ingin menawarkan pertolongan. Namun, setelah itu ia sadar, kaki wanita itu terluka bukan karena ulahnya. Siapa suruh menendang rak besi? Dasar perempuan! Ia nyengir tertahan dan mengambil arah yang berlawanan, lalu kembali ke hotelnya. *** Setibanya di hotel, Liona melempar belanjaannya ke lantai. Ia membuka sneaker dan meminta es batu pada layanan kamar lalu mengompres kakinya yang kesakitan. Padahal sepatu yang ia kenakan cukup tebal. Mengingat rasa sakitnya, ia cemas jangan-jangan tulangnya ada yang retak. Liona bermonolog sendirian. Kenapa pria itu sampai ada di sini, batinnya heran. Tiba saat makan siang, ia turun ke restoran di lantai dasar dan memesan menu satu porsi seafood dengan krim saus mayonaise serta satu porsi Crème Brulee sebagai pencuci mulut. Hanya makanan laut yang cukup aman dan halal saat melancong ke luar negeri, berhubung tidak semua restoran menuliskan menunya dalam bahasa Inggris. Ia juga tidak pandai memasak, jadi tidak mengerti komposisi apa saja yang terdapat dalam makanannya. Dua orang bule yang ikut makan berjarak dua meja di depannya menatapnya dengan tatapan m***m. Dalam taksirannya, keduanya berasal dari Brazil atau negara lain di Amerika Selatan karena kontur wajah dan kulitnya yang agak gelap. Liona mengunyah makanannya sambil membalas menatap bule tersebut dengan berani. Beberapa detik kemudian, salah seorang dari mereka malah mengedipkan mata menggodanya. Kurang ajar! Liona muntab. Selera makannya langsung lenyap. Ia mengabaikan norma kesopanan dan mengangkat kedua jari tengahnya sambil menyeringai dan mendesis, “f**k you, asshole!” Kedua bule itu berjengit pias dan segera memalingkan wajahnya. Lio kembali ke kamarnya dan berbaring di atas tempat tidur. Jarinya mengusap-usap ponsel, mencari destinasi lain yang akan ia kunjungi di sisa waktu liburan. Pandangannya menerawang, menimbang-nimbang melanjutkan perjalanan ke Sardinia dan mencari jadwal penerbangan kesana. Di sore hari, Lio menggerakkan kakinya dan merasa nyerinya sudah agak berkurang. Ia mengganti pakaian dengan mengenakan jaket agak tebal, celana panjang dan syal karena cuaca mulai dingin. Matahari di musim gugur tenggelam lebih cepat dan sepertinya menyenangkan menikmatinya dari ketinggian menara Eiffel. *** Alfaraz berjalan tak tentu arah sembari memegang tas kameranya erat-erat. Ia tidak tahu harus kemana. Ian dan keluarga serta Rafael belum pulang ke hotel. Ia menendang dedaunan kering yang berguguran memenuhi sepanjang jalan. Bagi orang Prancis, musim gugur diasosiasikan dengan kesedihan, kesendirian, bahkan kematian. Dan sepertinya, ia terkena kutukan yang sama. Liburan sendirian di Paris meski ia berangkat dengan orang-orang yang ia anggap keluarga, namun mereka berpencar memiliki tujuan masing-masing. Dalam hati ia menyesali mengapa harus ikut liburan jika harus kesepian seperti ini. Lebih baik ia berkutat dengan pekerjaannya, paling tidak ada beberapa gambar yang bisa diselesaikan demi menambah pundi-pundi uang di rekeningnya. Pria itu melihat menara Eiffel yang menjulang tinggi dari kejauhan. Ia tersenyum, seolah telah menemukan destinasi berikutnya. Begitu sampai di atas, senyumannya kembali terbit. Rona bosan di wajahnya berangsur-angsur sirna. Jantungnya tiba-tiba berdebar. Di salah satu sudut menara, gadis yang tadi ia bentak, menyandarkan tubuhnya ke jeruji besi sambil bersidekap. Matanya terlihat menerawang, entah melihat apa nun jauh di sana. Al mengambil ponselnya dan membawa langkahnya bergegas menghampiri. Setibanya di dekat wanita itu, ia membuka aplikasi kamera dan mengangkat ponselnya. “Say cheese!” serunya sambil mengambil tempat di sebelah Liona dan menghadapkan ponsel pada mereka berdua. Liona yang terkejut, tidak sempat berpaling saat ponsel tersebut berbunyi mengambil gambar. Al mengangkat kepala menatap mata Liona yang menyorot tidak suka padanya. This eyes. Was it really you? “Hai,” sapanya sekilas. Ekspresi gadis itu berubah geram. Teringat olehnya makian yang tertuju padanya tadi siang. Tapi, nyalinya untuk mencekik pria ini seperti sumpahnya tadi, tiba-tiba menguap tanpa sebab. “Mau apa Anda di sini?” tanyanya dingin. “Aneh!” sahut Alfaraz heran. “Saya juga punya passport dan visa, dan kamu bertanya kenapa saya ada di sini? Konyol sekali!” Liona menatap tak percaya. “Anda mengikuti saya?” Al berjengit. “Mengapa saya harus mengikutimu? Memangnya kamu siapa? Pejabat?” Liona terdiam. Ia mengutuk mulutnya yang kelepasan bicara. Siapa saja boleh berada di sini, tak terkecuali pria songong yang tadi tega memaki. Mungkin pertanyaan yang cocok adalah, mengapa mereka harus bertemu lagi, disini? Ia memalingkan wajahnya yang bersemu. Bayangan kejadian memalukan bulan lalu kembali hadir di benaknya. Malu? Ya, rasa malu itu masih saja ada belum terhapus oleh waktu. Kemana lagi ia harus melarikan diri? Karena sepertinya, takdir kembali mempertemukan mereka tanpa sengaja. “Tidak usah terlalu resmi begitu. Kita tidak sedang berada di kantor,” sambung Al tenang. Ia tersenyum tipis mengangkat tangan dan mengulurkannya pada Liona. “Saya Alfaraz.” Liona mendengus tak menerima uluran tangan Al sampai pria itu mengangkat bahu tak peduli dan menarik tangannya kembali. Tak perlu diperkenalkan pun dia sudah tahu siapa pria ini. “Saya tahu.” “Terima kasih, saya tersanjung.” “What?” Liona menganga. “Jangan kepedean! Tentu saja saya tahu siapa Anda, karena Anda adalah rekanan perusahaan saya.” Al mengangguk. “Ya. Tapi kita belum berkenalan secara resmi.” Begitupun tujuh tahun yang lalu. Ia belum sepenuhnya yakin bahwa gadis ini adalah orang yang ia cari-cari selama ini. Keyakinannya baru berangsur naik mencapai angka lima puluh persen begitu melihat foto kacamata scuba di gambar profil i********: Liona. Dan saat ini, kembali menatap mata tajam itu, persentasenya naik sedikit lagi. Enam puluh persen. Apakah ia harus bertanya langsung untuk menjadikannya seratus persen, atau nol persen? Siapa saja bisa menyukai laut, begitu juga lagi dunia penyelaman. Tujuannya mengikuti akun media sosial bodoh tersebut hanya untuk mencari jejak, apakah di tujuh tahun yang lalu, apakah ada postingan gambar yang berhubungan dengan Larnaka. Ia hanya tidak tahu, saat itu, i********: mungkin belum sepopuler sekarang dan belum tentu juga Liona telah menggunakannya dalam kurun waktu tersebut. Al sendiri semenjak peristiwa traumatis itu, tak lagi berani mengecap asinnya air laut. Setiap kali melihat perlengkapan scuba diving, napasnya sesak seakan malaikat maut masih berputar di sekelilingnya. “Saya minta maaf, tadi itu saya tidak sengaja memarahimu.” Ucapnya dengan rasa bersalah. Al menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Liona mendengus.  Baguslah kalau sadar diri! “Anda tadi membentak saya!” jawab Lio ketus. Sakit hatinya setelah dibentak orang tak dikenal ini kembali menyeruak. Gara-gara pria ini juga ia harus tertunduk malu selesai diinterogasi seperti maling. “Saya tidak bermaksud begitu. Hanya mengingatkan sebagai sesama muslim. Apa salahnya?” “Ya, tapi Anda mengatai saya b**o!”  “Kalau kamu merasa tidak b**o, kenapa harus marah? Atau jangan-jangan kamu memang bodoh?” balas Al ketus. “What?” Liona memicingkan mata. Sementara pria di depannya malah menatapnya tanpa rasa bersalah. Ia mati kutu. Semua kata-k********r yang tadi ia simpan mendadak lenyap. Baru kali ini ia menemukan pria yang pintar bersilat lidah. Biasanya, para lelaki akan memandangnya lapar lalu dengan kurang ajar mengajaknya berkencan. Tapi, tidak dengan pria ini. Sejak pertama kali bertemu walau dalam kondisi paling memalukan, hingga saat ini pun, Al selalu menatap matanya dalam-dalam, tak sekalipun memandang tubuhnya seperti yang dilakukan oleh pria lain. Costa, misalnya. Terbersit keyakinan dalam hatinya. Fix, pria ini memang makhluk berkelainan seksual! Melihat raut wajah Liona, Al lagi-lagi merutuki diri. Untuk memecah kebekuan di antara mereka, ia berkata, “OK, saya minta maaf sekali lagi.”  Liona menggeram. “Tidak usah! Sepertinya Anda juga tidak ikhlas!” “Saya sudah minta maaf dan kamu malah mempertanyakan keikhlasan saya? Tahu apa kamu soal isi hati saya? Kamu dukun?” serunya berang. Liona ikut meradang.  “Kusottare!” makinya kasar dalam bahasa Jepang karena hanya bahasa itu yang ia kuasai selain bahasa Inggris. Al melotot medan membalas makian Liona. “Urusai!” Liona ternganga. Pria ini juga bisa bahasa Jepang? Harus dengan apa lagi ia memaki agar Al tidak mengerti? Bahasa Kanton? Ia menautkan rahangnya marah. Rasanya tidak nyaman harus menahan diri mati-matian untuk tidak berdebat dengan lelaki ini. Perlahan-lahan ia menggeser tubuhnya menjauhi Alfaraz dan bergabung dengan turis lain. Al pun dihantui penyesalan. Tingkahnya yang kaku bila berhadapan dengan perempuan dan perangainya yang terbiasa membentak, seringkali menjadi bumerang baginya. Niatnya ingin dekat dengan gadis ini demi masa lalu yang belum selesai, seketika hancur lebur akibat sikapnya yang tak pandai berlemah lembut. Seumur-umur, ia tidak pernah dekat dengan perempuan kecuali sebatas teman dan kolega bisnis. Ia pun tak perlu repot-repot menjaga perasaan kaum hawa tersebut karena baginya, dalam dunia pekerjaan apa saja harus dilakukan agar tidak kelihatan lemah. Al menggeser tubuhnya mengikuti Liona. Setelah sampai di samping wanita itu, ia berdehem. “Apa kamu pernah ke Siprus?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN