Al terbangun pukul setengah lima subuh. Ia mengangkat kepala dan memutar-mutar lehernya yang pegal luar biasa akibat posisi tidur yang salah. Matanya mengerjab kaget tidak mendapati Liona di depannya. Ia berdiri lalu melihat sekeliling. Bibirnya tersenyum tipis melihat Lio meringkuk di sofa dengan coat menyelimuti tubuhnya. Al beranjak ke kamar mengambil selimut dan menyelimuti wanita itu. Ia duduk di seberang Lio dan terpana memandang wajah cantik dengan bulu mata lentik tersebut, kemudian tersenyum geli. Biarlah ia disebut licik. Memanfaatkan ketidakberdayaan Lio demi kepentingannya sendiri. Katakanlah ia lebih dari sekedar mampu untuk menyewa akuntan publik seperti yang Liona bilang. Hanya saja, godaan untuk berduaan dengan wanita itu amatlah besar. Berkali-kali ia mencuri pandang

