Feeling close to him

950 Kata
Sudah 3bulan Kinta sekolah di HYZERTUS, dan baru pertama kalinya Kinta kesiangan. Kinta menatap nanar gerbang sekolahnya yang sudah tertutup rapat, berbagai macam cara Kinta merayu satpam sekolah agar mau membukakan gerbang untuknya. Namun ternyata pak Supri selaku satpam sekolah mempunyai prinsip yang kuat. Jika saja tadi malam ia nurut saran Mamanya tidak tidur telalu larut, mungkin saja Kinta sudah duduk manis mendengar Bu Melinda mengajar. Ini semua salah Shofia yang rekomendasikan Drakor-drakor terbaru, Kinta yang tabiatnya suka menonton apalagi berbau Korea jelas TIDAK bisa melewatkan nya begitu saja. "Ayo dong pak, ini pertama kalinya saya telat Lo pak." sudah berulang kali Kinta mengucapkan kalimat ini. Berharap pak Supri berbaik hati dan mau membantunya. "Tidak bisa atuh neng. Ini udah peraturan sekolah." Jawab pak Supri tak terbantahkan. "Kinta kasih rokok deh pak, gimana." Ucap Kinta mulai mengiming-imingikan, siapa tau kali ini pak Supri tergiur. "Maap neng pak Supri tidak ngerokok." pupus sudah harapan Kinta. ia kira pak satpam sekolahnya ini pecandu rokok ternyata tidak. Kinta berjongkok didepan gerbang seperti anak ayam yang sedang mencari induknya, otaknya tak berhenti berfikir bagaimana caranya supaya ia bisa masuk. Kalo Kinta memilih pulang yang ada malah kena omelan Mamanya. Tin...Tin.... Suara klakson motor Sport mengema ditelinga Kinta. Ia yang semula berjongkok kini berdiri menatap siapa mengendara motor tersebut. Pengendara itu pun melepaskan helm Full face nya, dan mendongkak menatap kearah Kinta. "Buka gerbangnya." Ujarnya pada pak Supri "Gak bisa den. Peraturan nya kalo telat sudah tidak bisa masuk." Raga berdecak. iya, mengendara motor tersebut adalah Raga Sukma Bratasena. Raga bukan seperti Kinta yang baru pertama kali telat, sudah kesekian kalinya Raga telat masuk sekolah. Dan berakhir lewat jalur samping. Raga memakai helmnya kembali, lalu menjalankan mesin motornya kembali, Kinta melihatnya sontak mencegah."Lo mau kemana." tanya Kinta. Apakah Raga memilih pulang?. "Mau ikut?." Ajak Raga membuat Kinta terkejut. "ke-mana." "Udah ikut aja. Mau apa enggak?." Kinta mengangguk samar. Daripada ia bingung mau kemana lebih baik ikut Raga saja. Sekalian modus wkwk. "ingat Kinta dia sudah punya cewek." rutuknya dalam hati. Karena motor Raga sangat tinggi sedangkan badan Kinta teramat pendek membuatnya susah untuk naik. Mau berpegangan bahu Raga nanti takutnya terkesan tidak elit. Namun raga sangat peka dengan Kinta yang kesusahan untuk menaiki motornya, sontak bersuara. "Pegang bahu gue." "Boleh?." "Iya pegang aja." "em-makasih." Motor sport raga pun melaju meninggalkan area sekolah. Untuk pertama kalinya Kinta bisa merasakan seperti orang-orang yang diboncengkan oleh orang disukai. Meskipun demikian Kinta sadar bahwa tak seharusnya ia bedekatan dengan Raga yang notabenya sudah memiliki kekasih. Harum parfum maskulin Raga tercium oleh hidung Kinta. Kinta dibuat terlena oleh parfum Raga, ingin rasanya Kinta memeluk laki-laki ini, menyandarkan kepalanya dipunggung kokoh laki-laki yang sudah ia cintai selama 2tahun. Namun itu semua tak akan mungkin. tak lama kemudian Raga menghentikan motornya dibelakang sekolah SMA HYZERTUS, untuk apa Raga membawanya kesini. Ia kira Raga akan mengajaknya membolos. "Lo mau masukan?." "Iya, tapikan sudah dikunci gerbangnya." "Sini ikut gue lewat jalur samping." Ujar Raga mengandeng tangan Kinta. "Naik punggung gue." Ucap Raga. Kinta yang masih belum mengerti pun menatap polos kearah Raga. Raga berdecak dengan ketidakpahaman Kinta. ia pun melangkah mengiring Kinta lalu berjongkok didepan dinding yang menjulang tinggi itu. "Naik." titahnya. "Gue pakek rok. "cicit Kinta pelan yang masih bisa didengar. "Gue gak akan ngintip." ujar Raga. "Nanti baju Lo kotor gimana." "Gapapa, udah buruan naik." kata Raga. Kinta pun akhirnya naik ke punggung Raga dengan perlahan. Sedikit demi sedikit Raga pun mulai berdiri. Dengan tangan selalu menahan tubuh Kinta agar gadis itu tidak terjatuh. "Ga gue takut turun nya." ujar Kinta saat sudah diatas. "Tunggu. Gue mau naik dulu." Dengan mudahnya Raga meloncat dengan tinggi. Kinta sampai dibuat terpanah saat melihatnya. "Astaghfirullah, ganteng banget pacar orang." batin Kinta. "Turun gue tangkep dari bawah." teriak Raga. Ternyata cowok itu sudah ada dibawah, ia sampai tak sadar akan itu. "Pegang yang erat ya.. gue gamau jatoh. " "Iya bawel. " Kinta dengan yakin pun meloncat. Dan hap.... Tangan kekar Raga berada dipunggung Kinta. Raga menepati janjinya, Kinta tidak terjatuh ia berada di gendongan Raga. "Ehem.. " Deham Raga. Sontak Kinta pun turun. "Ini tas Lo." ucap Raga. "makasih." "Gue duluan." Kinta menatap punggung Raga yang mulai menjauh dari jangkauan nya. Hati Kinta ternyata masih sama saat berdekatan dengan Raga. Rasa yang sudah 2tahun ternyata masih sama sampai sekarang. **** "Gue kira Lo gak masuk." ujar Diki saat melihat Raga masuk ke kelas. Raga meletakkan tas ransel nya dengan kasar, lalu duduk. "Telat gue." ucapnya. "Gadang game lagi Lo." tebak Diki. Kebiasaan Raga jika begadang sudah pasti untuk main game. Tidak mungkin untuk hal lain. Mengenal Raga sejak dari SMP membuat nya cukup tau soal kebiasaan cowok itu. "Gak bosen Lo." "Gak." Diki terkekeh. "Kurangin gak baik buat kesehatan." ucap Stefan dari belakang Raga. Posisi duduk mereka. Raga dengan Diki, Stefan dengan Vano dibelakang nya. Sedangkan Bayu dengan Leon. "Tuh denger kata Stef." "Iya gue coba. " decak Raga. "Ntar pulang sekolah kita nongkrong kuy.. dicafe sebelah SMA Derlangga yang baru buka." ajak Bayu. "Gue sih ayo aja." ucap Vano. "Gue juga." sahut Diki. "Lo Stef?. Ayo dong bisa belajar Mulu Lo. " ucap Bayu membujuk. "Iya." Bayu bersorak senang. Kini tinggal Raga semoga saja dia bisa. "Lo Ga, bisakan?." Cafe disebelah SMA Derlangga, itu artinya sekalian ia bisa bertemu dengan kekasihnya. Sudah satu Minggu tak berjumpa, berulang kali Raga chat dan telfon tak ada satu pun yang dibalas oleh Oliv. Mungkin gadis itu akhir-akhir ini sedang sibuk. "Ga. bengong aja Lo. Gue tanya juga." "Iya gue bisa." "Jangan sampe sorean tapi gue ada urusan." ucap Vano. Karena tadi siang Nyokapnya memberi tau bahwa nanti sore ada acara penting dikantor Papa nya. "Yaelah belum juga kesana udah ngomong gitu aja. iya gak lama tenang aja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN