Pov arfan
Aku injak pedal gas mobilku. melaju dengan cepat membelah kemacetan, menuju ke arah kantor istriku. Amarah, benci, kesal, sedih, berkumpul menjadi satu. Menyelimuti jiwa yang dipenuhi oleh kekecewaan. beberapa kali aku tekan klakson, ketika ada mobil yang menghalangi. Sesampainya di kantor istriku, aku buru-buru menghubungi Erni lewat telepon.
"Ya, ada apa? kok pagi-pagi sudah telepon." tanya istriku, seperti biasa terdengar ramah.
"Turun! kita pulang." jawabku tegas.
"Kamu kesambet apa, sayang? Kok pagi-pagi begini sudah ngajak pulang saja?"
"Buruaaaaaaan turun!" seruku dengan merubah intonasi suara.
"Kamu kenapa sih? aneh banget!" ujar Erni terdengar Ketus.
"Turuuuuun! atau aku yang naik ke atas!"
"Aneh banget sih! tunggu sebentar lagi aku turun."
Tak selang beberapa lama Erni menghampiri mobilku, seperti biasa dia tersenyum ramah, ketika bertemu denganku, tak terlihat sedikitpun kecurigaan di wajahnya.
"Tolong jelaskan! sebenarnya ini ada apa, dan kenapa wajahmu masam seperti itu?" tanya istriku setelah masuk ke mobil. Dia menatap heran ke arahku, memperhatikan gerak-geriku yang nampak berubah.
Tak ada jawaban yang aku berikan, namun dengan cepat aku memasangkan seat belt ke tubuhnya. Sehingga membuat Erni semakin merasa bingung, dengan apa yang kuperbuat. Setelah seat belt itu terpasang, Aku menginjak pedal gas untuk membawa pergi istriku. Aku tidak mau masalah Rumah tanggaku jadi konsumsi orang banyak. Karena Menurutku masalah rumah tangga, harus dibicarakan di rumah. Biar bisa dibahas dengan kepala dingin, tanpa ada gangguan dari pihak luar.
"Pelan-pelan dong, bawa mobilnya! kamu sudah gil4 ya?". gerutu Erni sambil menatap tajam ke arahku
Aku yang sudah termakan emosi, hanya menekuk wajah kesal, Tak memperdulikan ocehan istriku. Aku terus memperhatikan arah jalan yang sedikit agak Lenggang, karena jam siang seperti ini, biasanya orang-orang sudah masuk kantor. Jadi aku tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke rumah.
"Ayo, turun!" Aku membukakan pintu mobil, mengajak istriku agar segera turun.
Erni yang dari tadi aku cuekin, dia hanya mendengus kesal. tak mau menuruti perkataanku.
"Ayooooo!" paksaku untuk yang kedua kalinya.
"Aku tidak mau turun. sebelum kamu menjelaskan ini Ada apa sebenarnya?" ujar Erni yang sejak dari tadi menekuk mukanya. dengan tanpa dosa, dia malah menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. dia acuh, seolah tak menghormatiku sebagai suaminya. Yang sudah sangat jengkel dengan kelakuannya.
Mendapat penolakannya seperti itu. dengan kasar aku menarik tangannya, agar Erni segera turun dari mobil. Emosi yang sudah di ubun-ubun, membuatku berbuat sedikit berlaku agak kasar. Padahal selama aku menikah, aku belum pernah melakukan paksaan seperti ini. Aku yakin, Baru kali ini aku memperlakukan istriku seperti sekarang.
"Kamu kenapa sih! Marah-marah nggak jelas?" tanya Erni sambil mengibaskan tangan yang kupegang.
"Turuuuuuuun! atau aku seret!" mata merahku membulat ke arahnya.
"Biasa aja kali, jangan pakai bentak-bentak segala. oke! aku turun." jawab Erni membalas tatapan mataku, tak terlihat sedikitpun ketakutan di wajahnya. mungkin karena selama ini aku tidak pernah tegas terhadapnya. aku selalu memanjakan istriku dengan semua yang ku punya, sehingga ketika ada masalah seserius ini, dia masih menganggap bercanda.
Setelah Erni turun, aku membanting pintu mobilku. Dengan kasar aku menuntun Erni menuju ke arah rumah. Lepas ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, aku pun mendudukkan Erni di tepi ranjang. lalu kudekatkan kursi meja riasnya, agar aku bisa berbicara berhadapan dengan istriku, aku ingin tahu ekspresi apa yang akan dia keluarkan. Setelah dia tega membohongiku.
"Kamu kenapa sih? Tolong jelaskan, ini Ada apa sebenarnya. Aku belum pernah melihat kamu seaneh sekarang. Jangan buang waktuku, aku masih banyak pekerjaan di kantor. bahkan tadi saja, ketika aku turun, aku belum sempat meminta izin." ujar Erni sambil menatap Sendu ke arahku, memminta jawaban atas semua yang aku lakukan terhadapnya. Dia mulai sadar bahwa aku benar-benar marah terhadapnya.
Kuraih Ponselku yang disimpan di dalam celana, lalu memberikannyA kepada Erni, menunjukkan foto yang kuambil semalam.
"Maksudnya apa sih, Aku tidak mengerti?" tanya Erni yang engggan menerima ponselku.
"Lihat dulu, apa yang ada didalam foto itu!" seruku yang masih meninggikan intonasi suara. Rasanya tidak rela ketika aku berbicara lemah lembut, terhadap wanita pembohong seperti dia.
Melihat Ekspresiku yang begitu tegas, dengan Terpaksa Erni mengambil handphone itu. lalu ia memperhatikan gambar yang kutunjukkan, terlihat raut wajahnya yang berubah seketika. Raut wajah yang terlihat ketakutan, Mungkin dia tidak akan menyangka, aku akan mengetahui satu rahasia besar yang dia lakukan.
"Apa ini?" tanya Erni pura-pura tidak tahu. sambil mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arahku.
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu. itu apa, kok. kamu tega, membohongiku selama ini. Kamu menolak kehadiran bayi, di tengah-tengah kita dengan suntik KB?" ujarku tak kalah tatapan dengannya.
"Kamu jangan mengada-ngada! Mana mungkin aku berbuat seperti itu. Lagian Kamu dapat foto ini dari mana? apa jangan-jangan Kamu sendiri yang buat, untuk memperkeruh suasana rumah tangga kita. Apa jangan-jangan kamu setuju dengan saran ibu untuk menikah lagi." elak Erni balik menuduhku ke mana-mana.
"Buat bagaimana? sudah jelas di situ tertera namamu. sebagai pasien yang sudah melakukan suntik KB." Aku berbicara sesuai dengan fakta.
"Kamu maunya apa sih! Dari tadi kelakuanmu aneh begitu. sekarang kamu tega menuduh istrimu seperti ini?" bentak Erni yang tak kalah sangar.
Mendapat sanggahan dan penolakan darinya. dengan cepat aku raih tasnya. Awalnya dia menolak dengan keras, namun setelah aku menarik kasar tas itu. akhirnya dengan terpaksa dia melepaskannya, karena tenagaku sangat jauh Kalau dibandingkan dengan Erni yang hanya seorang perempuan. dengan cepat aku tumpahkan semua isi tas milik istriku. mencari Kertas, yang tadi malam aku simpan kembali ke dalam tasnya.
Aku sangat beruntung sekali, karena Kebetulan Erni belum membuang kertas itu. sehingga dengan mudah aku menemukan kertas pemberitahuan, bahwa dia sudah melakukan suntik KB, mungkin dia tidak sadar, aku sudah mengetahui kebohongannya, Tadi malam.
"Ini apa?" Tanyaku sambil melebarkan kertas yang terlipat, agar Erni tidak bisa membantah kembali tuduhanku. "Jawaaaaab! ini apa?" teriakku sambil mendekatkan mulut ke wajahnya. Agar dia bisa mendengar apa yang aku tanya.
"Lah! kok kamu tahu. ada kertas ini di dalam tasku? apa jangan-jangan benar kamu yang memasukkannya, kamu yang membuat skenario, agar terlihat akulah yang bersalah?" tanya Erni penuh selidik.
"Sudahlah, Erniiiiiii! kamu jangan banyak mengelak. Aku bukan orang bodoh yang mudah kamu bohongi. Sebelum aku mengajakmu pulang, aku sudah mengecek terlebih dahulu ke rumah sakit. Kenapa kamu tega berbuat seperti ini? Apa salahku hingga kau tega melakukan hal seperti itu." jawabku, yang tidak mau ada bantahan lagi darinya.
Seketika Erni terdiam, pandangannya mulai tertunduk lesu. terlihat butiran bening mulai mengalir di pipinya. melihat dia seperti itu, hatiku sedikit tersayat. karena baru pertama kali aku melihat istriku bersedih seperti ini.
"Tolong kamu jelaskan, kenapa kamu berbuat tega seperti ini." Tanyaku dengan memelankan intonasi suara, agar istriku tidak merasa tertekan. tak terasa butiran lembut keluar dari mataku, membasahi pipi. mau tidak percaya tapi ini beneran terjadi.
Erni tetap tidak menjawab, dia semakin mengeraskan suara tangisnya. membuatku menjadi kalang kabut, tidak mengerti dengan apa yang harus kuperbuat, untuk menenangkannya. Padahal Seharusnya Akulah Yang marah, bukan dia.
Perlahan aku angkat tubuhku, lalu duduk di sampingnya.
mendekatkan kepala istriku ke d**a, kemudian mengusap lembut rambut panjangnya. rasanya tidak tega ketika melihat Istriku yang selama ini tidak pernah melakukan kesalahan, menangis seperti sekarang.
"Sudah jangan menangis, Aku tidak marah kok! aku cuma ingin tahu, kenapa kamu sampai harus melakukan suntik KB?" tenangku sambil terus mengelus rambutnya, walau sebenarnya rasa perih di d**a masih menyelimuti jiwaku. Aku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, seolah aku adalah lelaki yang paling kuat.
"Aaaakuuuuuuuuu! aku!" jawab Erni dengan terisak, dia tidak kuat melanjutkan perkataannya.
"Kamu kenapa?" Dengan sabar aku pun menunggu, bahkan mengambilkan air minum untuknya. supaya dia merasa lebih tenang. merasa dilindungi dengan sikapku, yang dengan lembut memperlakukannya. sehingga dia mau berkata jujur, dengan apa yang Erni perbuat. Dan mungkin saja apa yang Erni lakukan bukan murni kesalahannya, bisa jadi ini adalah kesalahanku juga.
"Maafin, aku sayang! maafkan aku!" ujar Erni yang masih terisak, dia menatap ke arahku dengan begitu sendu. Membuat hatiku semakin teriris, ketika melihat orang yang sangat kucintai, merasa sedih seperti itu. walaupun dia melakukan kesalahan yang begitu besar. rasa cinta dan kasih sayang yang tulus dan begitu besar, mengalahkan segalanya.
"Aku juga minta maaf! telah membuatmu menangis seperti ini!" jawabku sambil kembali memeluk tubuhnya, mengusap lembut punggung Erni, agar dia semakin merasa tenang.
Setelah kembali tenang Aku melepaskan pelukanku, lalu menatap ke arahnya. memperhatikan apakah dia sudah benar-benar tenang.