Tiga hari kemudian Aku tengah mematutkan diri di cermin. Siang ini aku akan pergi periksa kandungan. Usia kandunganku sudah memasuki minggu ketiga puluh lima. Detik-detik menanti kelahiran. Aku sudah harus cek kandungan seminggu sekali. Beruntung Fino selalu bersedia menemaninya untuk check up. Sesibuk apapun dirinya tidak pernah absen. Ketika aku baru saja memoles bibirnya dengan lipstik terdengar derit pintu kamar. Aku menoleh. Seraut wajah kusut datang. Fino suami tercinta melangkah masuk dengan gontai. Pria itu melempar begitu saja tubuhnya ke ranjang dengan tengkurap. Wajah Fino terbenam pada bantal bersarung warna putih tersebut. Mau tak mau aku harus menghampiri Fino. "Ayang Mbep, ada apa ini?" tanyaku lembut. Perlahan aku memegang pundak suami tercinta. "Dateng-dateng kok muka

