Tawaran Fino sungguh mengusik ketenangan batin. Karena jujur saja, diakui atau tidak. Lama kelamaan aku memang mulai menaruh rasa pada lajang itu. Ada gelenyar aneh yang indah bila berdekatan dengannya. Namun, aku sadar dengan kondisiku sekarang. Dia seorang pemuda lajang yang tidak hanya berwajah tampan, tetapi juga hidupnya telah mapan. Akan dengan mudah bila hendak menggaet pasangan. Namun, justru kenapa dia malah memilih aku? Seorang janda beranak dua yang usianya terpaut lebih tuanya darinya. Berkali-kali Fino menegaskan kalau dia bersungguh-sungguh dengan cintanya. Dia tidak memedulikan keadaan statusku. Dirinya juga berjanji akan memperlakukan Davin dan Abella layaknya anak kandung sendiri. Namun, bagaimana dengan keluarganya? Akankah mereka mau menerima? Setiap hari Fino kian

