UNTUK SEBUAH PENGAKUAN

5047 Kata
Joni seperti memiliki dua kepribadian dalam dirinya! Namun Dokter mengatakan bukan! Joni juga dipastikan oleh Dokter tidak memiliki penyakit mental apapun atau kelainan seksual, Ia normal! Lantas, apa yg menjadikan Joni menjadi Bunga? Perjodohan Joni yang kini berusia 33 Tahun akhirnya akan menikah juga dengan wanita kesekian yang dijodohkan padanya. Jika kebanyakan yang dijodohkan padanya semuanya menolak karna kepribadian yang dimiliki Joni, kali ini berbeda. Joni diterima dan "sepertinya" apa adanya. Kepolosan si Wanita, dan kondisi Keluarga yang serba susah sepertinya menutup mata si Wanita dan keluarganya untuk mencari tahu penyebab si Joni kenapa masih melajang di usia kepala tiga ini. Joni Pria tampan dan mapan, terlahir semata wayang, anak dari Keluarga terpandang dan kaya. Bapak si Joni, H. Marsudin adalah Pemilik Ruko terbanyak di sepanjang Jl. S di Kabupaten SS. Ia juga memiliki Perkebunan Kelapa Sawit yang sangat luas, kebun aneka sayur dan buah membentang berhektar hektar luasnya. Siti Hasanah, nama Wanita itu. Parasnya cantik, dan bersahaja. Setelah tamat SLTA Ia menjadi Buruh Harian Lepas di Perkebunan Buah H. Marsudin. Usianya kini memasuki 20 Tahun. Ia bukanlah wanita cerdas, Wanita biasa biasa saja sebagaimana wanita tamat SLTA biasa di Kampung. *** Bunga adalah Nama Panggung dari seorang Biduan yang sedang melenggak-lenggok di atas Panggung. Suaranya yang khas, dandanan yang menor dan penampilan yang nyentrik menjadi hiburan khas bagi setiap Warga yang mengadakan Pesta Hajatan dengan musik Organ Tunggal. Kali ini dia menyanyikan sebuah tembang dangdut "geboy mujair" yang diremix suka-suka oleh Kang Keyboard-nya. Bunga semakin liar, Ia membokongi penonton sambil belenggak- lenggok menungging, dadanya yang montok penuh sumpalan busa Ia hentak hentakkan, Ia pun berteriak melengking manja, meminta antusias penonton untuk bersorak riuh mengikuti syair yang Ia nyanyikan. Suasana kian meriah, Bunga turun dari Pentas kemudian menarik tangan Laki-laki paruh baya dan menuntunnya ke atas Panggung. Tak hanya satu Laki-laki, Ia menarik empat Laki-laki berbeda usia, sepertinya warga yang menonton bahkan mungkin Istri atau Orang Tua dari para Lelaki yang ditarik oleh Bunga tampak tak satupun yang berkeberatan. Semuanya hanyut bergembira, menonton Hiburan Rakyat berupa Organ Tunggal itu. Merasa kurang seru, Bunga-pun tak segan berteriak melengking meminta saweran dari para Lelaki yang Ia ajak ke Panggung tadi, seperti terhipnotis para Lelaki yang sudah tenggelam dalam suasana, merogoh saku mereka dan melambai-lambaikan pecahan lima ribuan atau dua ribuan sambil bergoyang. *** Joni anak semata wayang pasangan Bu Hj. Sutinah dan H. Marsudin, memang sejak remaja sampai dewasa sepertinya tak pernah lelah membuat Orang Tua dan Sanak Famili istighfar kecewa dan kaget berjamaah setiap melihat tingkahnya. Joni memang Pria cerdas. Ia mampu meyakinkan Bapaknya kalau skill Manajemen dan jiwa Bisnisnya mampuni!. Semua usaha yang dimiliki Bapaknya mampu Ia tangani sendiri. Bapaknya hanya memantau dan sesekali mengecek pekerjaan anaknya, dan tak pernah mengecewakan. Para Karyawan senang dengan kepemimpinan Joni, tapi sepertinya urusan asmara Joni tak pernah beruntung. Jarang sekali wanita berkenan dengan Joni. Padahal selain cerdas, Joni juga termasuk Pria tampan, badannya bagus, tinggi dan putih bersih. Tiada cacat di badannya. Adalah sesekali Joni dijodoh- jodohkan, dengan si Fulanah atau Fulanih. Mungkin awalnya para Wanita tertarik dengan harapan kesejahteraan hidup yang menjanjikan dari Joni. Tapi setelah melalui masa pacaran sekitar sebulanan, para Wanita akan mundur perlahan, atau bahkan memutuskan sepihak hubungan mereka. Adakalanya ada yang bertahan sampai pertunangan, dan takkan berlanjut ke pernikahan, karna motif si Wanita sudah ketahuan sejak awal. Yaitu ingin menguasai harta Joni, memanfaatkannya atau sekedar pelarian karna hamil di luar nikah oleh Lelaki lain. Kali ini, sepertinya berbeda. Wanita lugu itu Siti Hasanah, sepertinya tak tahu dan tak boleh tahu tentang Joni. Ia hanya menerima saja lamaran itu karna memang kesusahan hidup di keluarganya harus Ia usaikan secepatnya dengan menikahi Joni. Motifnya jelas, menginginkan kehidupan yang lebih baik, dan Orang Tua Joni tak masalah dengan itu, mereka tahu kalau Siti Hasanah bukan Perempuan matrealistis, yang mengerti harta ini dan harta itu. Keinginan mereka untuk segera menikahkan anaknya agar tidak jadi "buah bibir" Masyarakat akan segera terwujud. Mereka memang apatis untuk mempunyai Cucu, yang penting saat ini anaknya menikahi Wanita. Itu saja! tak muluk-muluk harapan Orang Tua Joni. *** Dipingit Joni memarkirkan mobil Jeepnya, Ia kemudian turun dan melangkah cepat memasuki Ruko yang bercat merah muda. Di dalam Ruko tersebut ada beberapa teman-temannya menyapanya manja, melambaikan tangan, adapula yang tak menghiraukan kedatangan Joni, sibuk mencatok rambut seseorang yang ingin dismoothing rambutnya. Kessal tidak disapa, Joni-pun menghampiri Orang yang mencatok rambut tersebut dan membisikkan di telinganya, "hey... Sibuk banget kayaknya!" Dan sipencatok itupun membalas "setoranah baby...!" (Setoran baby!) Dengan nada manjanya. Tiara, nama sipencatok rambut itu. Joni pun duduk di sofa dan membuka HP nya, kemudian menatap sebuah foto seorang gadis yang baru dikirim Bapaknya via WA. Ia pun tersenyum tipis. Tiba-tiba Tiara merebut HP Joni, seketika Ia berteriak melengking hingga seluruh orang yang ada di ruangan tersebut menoleh pada mereka berdua. "AAAAA...!! Alemong Bung, cakrabirawa jugriaaah!!, emang deseu gateweng yey sapose?" (Alamak Bung, cakep juga, memangnya Dia gak tau siapa Kamu?). Joni hanya tersenyum, ia bangkit dan hendak beranjak pergi. Penampilannya yang necis, celana keper dan kemeja putih press body sebenarnya sangat terlihat kontras sekali Ia berada di sana. Ia kelihatan terlalu manly berada di tengah-tengah para Waria yang berprofesi sebagai Tukang Salon di Salon Kecantikan Bunga Berseri. *** Sore itu Siti baru pulang dari Perkebunan. Memasuki sebuah rumah yang seperti gubuk. Dindingnya dari anyaman bambu, atap rumbia, lantai semen. Rumah itu cukup luas, bersih dan tertata. Ia mengucapkan salam, dan salam itu disahut bersamaan oleh orang-orang yang duduk di kursi tamu. Terlihat olehnya Pak Burhan, Mandor di Perkebunan dan seorang Laki-aki berseragam Security. Siti menghampiri tamu tersebut, bertanya kepada Ibu Bapaknya apa gerangan yang terjadi? Adakah yang salah?. Pak Burhan pun menjawab "Siti, saya diperintahkan oleh Pak Haji (panggilan warga tuk H. Marsudin) agar mulai besok dan seterusnya kamu ndak perlu ngeburuh lagi." Siti-pun menjawab " Tapi pernikahan kan tiga bulan lagi Pak, sementara itu biarlah saya bekerja saja dulu, Bapak saya lagi sakit, Ibuk dan saya juga musti kejar setoran, hutang di Rentenir masih belum lunas". Pak Burhan menghela nafas, Ia kemudian melirik Security di sebelahnya, Si Security mengerti Ia-pun membuka sebuah tas dan mengambil sebuah Amplop yang lumayan tebal. Pak Burhan meletakkan Amlop itu di meja "Saya dititipin sama Pak Haji, kasi ke keluarga Siti untuk menutupi kebutuhan sehari hari sebelum hari H. Saya rasa ini cukup untuk melunasi hutang keluargamu sama si Rentenir itu". Siti menatap Amplop itu "apa ini ndak berlebihan Pak?" Pak Burhan meyakinkan " Saya rasa pak Haji sudah memikirkannya, beliau cuma mau kamu ndak usah ngeburuh lagi, ga usah bertemu warga sekitar dulu, atau terlibat obrolan dengan warga, anggaplah kamu sedang dipingit Siti!". Bapak dan Ibu Siti menerima Amplop itu sumringah, mata mereka berbinar senang. Sepulangnya Pak Mandor mereka berdiskusi, berbisik-bisik seolah kebahagiaan mereka jangan sampai didengar Tetangga, meskipun jarak rumah mereka dan rumah Tetangga cukup berjauhan karna kebiasaan Warga setempat memiliki rumah dengan halaman yang luas mengelilingi rumah. Bapak Siti berbisik "uangnya banyak sekali Siti! Ini bahkan cukup untuk Bapak beli tanah dan menggarapnya sekalian". Siti menimpali " Uang ini kita gunakan aja dulu tuk melunasi hutang pak, terus biaya perobatan Bapak". Ibu Siti mengiyakan "mungkin Pak Haji malu sama Bapak yang sakit-sakitan, jadi Beliau kasi lebih tuk obatnya Bapak! Gimana sih?". Merekapun akhirnya sepaham. Sebenarnya, Siti sampai saat ini belum pernah melihat Calon Suaminya secara langsung. Ia hanya diberikan foto, di foto itu ada sosok dengan wajah yang tampan, tubuh yang sempurna dan terlihat berwibawa. Ia gadis polos yang sempat memikirkan kenapa Ia yang dipilih menjadi menantu keluarga kaya itu, dengan Lelaki yang sempurna seperti itu. Namun, kenaifan Keluarga dan dirinya menjadikannya berfikir kalau itulah jodoh, Tuhan telah mengatur segalanya. Temannya sesama Buruh di Perkebunan, semenjak tersiar kabar bahwa Ia dilamar oleh Putra Pemilik Perkebunan mendadak menjauhinya. Mereka sering berbisik-bisik lalu menertawakan sesuatu. Jika Siti bertanya, mereka akan menjawab seadanya, tapi bukan Siti namanya kalau tidak dengan kepolosannya. Ia mempercayai jawaban teman temannya, mereka bilang Siti semakin cantik dan bersinar, pantas saja Sang Putra Mahkota naksir dengannya. Kadang, Ia mendapati Teman-temannya tertawa terbahak-bahak sambil melirik Siti. Dan saat itu juga Pak Burhan, Mandor Perkebunan mendekati mereka, menghardik dan mengatakan " Kalian ingat kan apa yang saya sampaikan semalam! Siapa yang ketahuan melanggar akan saya pecat!". Dan Siti masih dengan kepolosannya, berfikir apa yang disampaikan Pak Mandor adalah sebuah peraturan tidak boleh ngobrol sambil bekerja apalagi mereka sampai terbahak-bahak. Pernah sekali, temannya Wati membisiki Siti "hey Siti, kamu ga kepikiran pergi ke Salon gitu? Kamu harus cantik saat menikah nanti. Ga malu kamu berhadapan dengan suamimu nanti dan Keluarga suamimu?". Siti menjawab " Aku ndak paham sama salon-salonan, aku cuma luluran rutin aja di rumah, sama minum jamu yang dibikin sama Ibuk, kata Ibuk rutin minum jamu itu bikin badan harum dan suami senang sama aku" Jawaban Siti ini membuat Wati seperti menahan tawanya, Ia terlihat menahan kuat bibirnya agar tidak tertawa. "Pergilah nanti jelang hari H ke Salon Bunga Berseri, ituloh Salon terkenal di Kabupaten, percantik diri gih ke sana". Siti terdiam, Ia teringat kalau Pak Burhan pernah mengatakan padanya untuk tidak usah kemana-mana dulu. Ia pun menggeleng-geleng pada Wati. Tau sarannya ditolak oleh Siti, Watipun bertanya "Kamu mau aku kasih tau caranya biar bisa melihat calon suamimu secara langsung?". Siti langsung menatap Wati, mengangguk penuh harap. Rasa penasarannya sepertinya sangat kontras terlihat. "Kamu diam-diam pergi saja ke kebun sebelah selatan, Tempat Penyortiran Buah yang akan didistribusikan. Nanti kamu akan lihat Dia disana". Siti mengangguk, kebetulan Dia juga bosan di rumah saja, Perkebunan sebelah selatan adalah belakang rumahnya, Ia biasa menuruni jalan berbukit di sana menuju sungai. Kalau ketahuan Ia bisa beralasan mencari Keong Sungai untuk dijadikan lauk. Ah, kali ini Siti cukup pintar... *** Kadek Devi Wati bukanlah teman akrab Siti. Siti bahkan tidak punya teman, sehari-hari selama Ia hidup, Ia habiskan membantu Orangtuanya. Bapak Siti seorang Buruh di perkebunan Pak Haji, sekarang menderita Diabetes dan Asam Lambung yang cukup serius. Sehingga Bapak Siti tidak bekerja lagi. Saban hari hanya di Rumah, sesekali pergi memancing di Sungai belakang sekedar untuk lauk makan hari ini. Ibuk Siti juga seorang Buruh di perkebunan Pak Haji. Hanya saja, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ibunya harus menyuruh Siti berjualan kue saat sepulang Sekolah di Perkebunan. Gajinya habis untuk biaya obat Suaminya. Belum lagi jika mendadak Bapak kolaps dan harus dibawa ke Rumah Sakit. Tuntutan kebutuhan hidup membuat mereka terpaksa berhutang ke Rentenir. Dan bunga-bunga hutang itu kian melilit. Pekerjaan apapun akan dilakukan Siti, mulai dari membantu cuci piring Rumah Makan, menjualkan Ikan tangkapan Bapaknya di hari Minggu dan menjadi Buruh setamat Sekolah. Wajah Siti sangatlah manis, kulitnya putih, tingginya 165cm, cukup tinggi untuk rata2 gadis-gadis Desa sekitarnya. Rambutnya lurus dan sehat meski tak pernah tersentuh peralatan salon rambut, Ia selalu menutupi rambutnya dengan selendang. Di kedua pipinya ada lesung pipi tidak terlalu dalam, sangat manis jika bibir tipisnya tersenyum. Giginya kecil-kecil rapi dan ada gingsul di sebelah kanannya. Di kamarnya banyak sekali poster Artis Kadek Devi. Dia sangat memfavoritkan artis ini. Hal ini dimulai saat Ia masih Sekolah, pernah mampir di sebuah Kios untuk membeli obat Magh. Kebetulan TV Pemilik Kios sedang menyala, ada acara FTV salah satu Stasiun Televisi yang menampilkan Kadek Devi di sana. Siti jarang sekali menonton TV, sehingga Ia tidak mengenal siapa Kadek Devi ini. Hanya saja, saat itu Orang-orang di Kios yang menonton melihat ke arah Siti. Sambil menggoda, "Ternyata Sandra (nama Kadek Devi di acara TV tersebut) ada di sini cuy! Minta tanda tangan dong nooonaaaa!!" Kata mereka menggoda sampai Siti berlari dengan wajah merona. Sejak saat itu, Ia mulai mencari tahu siapa Kadek Devi. Diam-diam Ia mengakui, wajahnya ada kemiripan dengan artis itu. Ia menyempatkan diri ke Terminal, membeli beberapa Poster Kadek Devi. Meski disana pun, Ia digoda oleh Abang-abang Penjual Poster. Hal itu malah membuatnya semakin terbang dan semakin rajin membeli Poster. Hingga di kamarnya, banyak sekali Poster Kadek Devi. Ia sering mematut diri di depan cermin buram lemarinya. Aah, Ia seperti melihat Kadek Devi di sana. Siti bukanlah gadis seperti kebanyakan, Ia banyak diam, sedikit mendengar apalagi mengamati. Ia tak pernah punya Gawai (HP), di kepalanya seperti banyak ruang hampa yg tak pernah diisi. Hal ini sering membuat Siti dibully si Gadis Bodoh oleh Teman-teman Sekolahnya. Ia naif dan hanya percaya apa yang dikatakan Orang Tuanya. Nilai plus untuk Siti adalah Ia sangat ramah dan hangat, tutur sapanya sopan, dan hormat pada Orangtua. Masa Sekolah Ia habiskan membantu Ibu Kantin melayani Siswa dan mencuci piring, di Kelas Ia hanya diam, entah apa yang Ia fikirkan. Nilainya tak pernah lebih dari angka tujuh, Ia senang sekali dengan Mata Pelajaran Kesenian, terlebih pelajaran Pengembangan Diri berupa Seni Tari Tradisional. Siti gadis yang manis, itu tak bisa dipungkiri meski penampilannya biasa saja, wajahnya hanya dilapisi bedak tabur bayi. Pendiam dan sibuk di kantin tidak berarti membuatnya lepas dari godaan para Siswa. Hanya saja, karna Ibu Kantin adalah Wanita Galak dan Judes. Tak ada yg berani menggoda Siti terang-terangan di saat bekerja. Pulang Sekolah Ia juga sering diganggu oleh para Siswa, para Siswi yang mengetahui salah satu diantara Siswa yang menggoda Siti ada Kekasihnya, merencanakan niat jahat pada Siti. Siti disekap di Gudang, mereka memperlakukan Siti layaknya Maling Ayam yang ketahuan. Siti diterjang, ditampar, dipijak perutnya, dilepas jilbabnya dan dijambak rambutnya. Tinju dan cakar dari jari-jari lentik para Siswi mendarat di wajahnya. Siti hanya menangis, meringis, meminta ampun. Kemudian, ruang kosong di kepalanya tiba tiba terisi dengan sebuah ide baru. Ide itu menyuruhnya kejang-kejang, muntah-muntah, mata terbelalak dengan bola matanya melotot ke atas menyisakan bagian putih mata saja yang terlihat, Ia seperti seorang yang penyakit Ayannya kambuh. Para Siswi heran dan menghentikan serangan mereka. Mendadak mereka ngeri, dan takut. Serentak mereka lari meninggalkan Gudang. Sepulang Sekolah, Siti menangis sepanjang jalan. Warga menanyakan keadaan Siti. Ia menceritakan semuanya, pak Burhan yang ada di sana ikut geram. Esoknya Ia mengajak Siti menemui Kepala Sekolah dan menceritakan semua beserta bukti tubuh Siti yang babak belur. Para Siswi yang menghajar Siti diberi peringatan, dan Orangtua Siswi tersebut memberikan biaya perobatan lebih dari cukup untuk Siti sebagai syarat berdamai karna Pak Burhan mengancam akan melaporkan hal ini ke Pihak yang Berwajib jika masalah itu disepelekan. Pak Burhan juga ikut mengantar Siti ke Kelas dan mengumumkan kepada para Siswa dan Siswi kalau Siti adalah anak angkatnya. Tidak ada yg boleh mengganggu Siti kalau tidak mau berurusan dengan Pak Burhan. Sejak saat itu, Siti awalnya aman-aman saja. Kehidupan Sekolah berjalan seperti biasanya. Hanya saja para Siswa tidak berani lagi menggodanya, bukan karna mereka takut pada Pak Burhan. Bagaimanapun mereka tahu Pak Burhan tidak sungguh-sungguh mengangkat Siti sebagai anak angkatnya. Pak Burhan memiliki anak sepuluh orang, dan tiga diantaranya bersekolah di sana. Mereka takut dengan Isu bahwa Siti mengidap penyakit Ayan yang bila terkena liurnya akan tertular. Meski hal ini sudah dijelaskan adalah pura-pura pada saat Walikelas menceritakan kronologisnya di depan para Siswa di Kelas, rumor itu tetap dipercaya sampai kelulusan tiba. Rumor ini juga berdampak pada pekerjaan Siti di Kantin. Ibu kantin yang terkenal Judes dan Galak tapi baik hati pada Siti, memberhentikan Siti karena tak ada siswa yang mau makan di Kantin kalau Siti yang melayani. *** Percuma Nekat Hari Sabtu pagi, Siti berencana menuruni Bukit di bawah halaman belakang rumahnya, Ia bertekad ingin ke Perkebunan sebelah Selatan. Kata Wati, Joni calon suaminya biasanya akan melakukan pengecekan sortiran buah, Ia betul-betul penasaran seperti apa sosok Joni ini. Yang Ia bayangkan jika benar seperti di foto apakah Ia akan sanggup berhadapan dengan Joni di Pelaminan nanti? Ia menuruni undakan tanah menuju sungai, sampai di sungai Ia mengangkat roknya sampai selutut dan kemudian menyeberangi sungai yang kedalamannya tak pernah melebihi pinggang orang dewasa. Di seberang sungai ada tebing landai setinggi empat Meteran yang harus Ia panjat untuk bisa melihat kegiatan di perkebunan Selatan, yah! Kebun itu ada di atas Tebing landai tersebut. Ia memanjat, hampir sampai ke permukaan. Di permukaan tanah bukit tumbuh rumput ilalang setinggi lutut. Sayup-sayup tak seberapa jauh Ia mendengar suara Pria bercakap-cakap. Sekitar tiga atau empat orang. Kepala Siti menyembul ke permukaan sisi bukit yang Ia panjat. Di jarak lima Meter dari tempat Siti berada, ada deretan pohon Apel yang rimbun, di balik pohon-pohon Apel itu, beberapa Orang Buruh berlalu-lalang dengan Gerobak Dorongnya, mengantar hasil panen buah Apel ke Tempat Penyortiran. Di antara lalu-lalang para Buruh tersebut, ada tiga orang berpakaian rapi, mereka sedang bercakap-cakap, seorang sedang memegang sesuatu seperti papan ujian dengan kertas yang dijepit, sesorangnya lagi memegang Tas. Dan, deg... Jantung Siti mendadak berhenti, kemudian berdetak memburu, Ia melihat sosok Pria di antara Pria bertiga itu, sosok yang Ia lihat di foto. Ia berkacamata hitam, menggunakan topi, kaos hitam yang ketat dimasukkan ke dalam celana jeansnya. Sepatu bootsnya menambah aura berkarisma Pria tersebut. Perlahan, alunan musik intro Babang Tamvan Andika Kangen Band Pujaan Hati mengalun merdu di sekitar tempat Siti mengintip, angin sepoy-sepoy semakin membuat Siti terbawa suasana, Ia begitu menikmati pemandangan sesosok pria yang tak jauh darinya itu. "Sangat tampan!" Gumamnya. Pria itu memiliki hidung yang mancung, mata tajam, rahang yang tegas dan kulit yang putih. "Mirip Vino G Bastian" Bisiknya sekali lagi. Alunan lirik Pujaan Hati milik Kangen Band masih mengalun lembut di telinga Siti, mengiringi hayalannya membayangkan kalau Dia sedang duduk di dampingi Pria yang Ia lihat sambil membelai rambutnya... Pria itu kemudian perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Siti, kemudian mengarahkan bibirnya ke atas mata Siti, ya! Dia hendak mengecup kening Siti. Siti menutup matanya dan mengarahkan tangannya ke pinggang Laki-laki tersebut, tanpa sadar Siti melepaskan pegangannya di sisi bukit tempat tangannya memegang rumput ilalang yang menahan badannya "GUSSRAAAKKK!!!!" Tubuh yg memanjat tebing itu kehilangan pegangan dan jatuh tanpa perlawanan ke permukaan bawah tebing... *** Sayup sayup terdengar suara burung, ketika Siti membuka matanya Ia kembali menutup matanya dan perlahan membukanya sambil mengernyitkan keningnya. Sinar matahari siang hari sangat terik. Ada rasa perih dan ngilu di bagian siku dan tulang hastanya, kakinya sakit sepertinya terkilir. Ya, mungkin Ia baru saja pingsan. Matanya mengitari sekeliling, Ia berada di pinggir sungai. Perlahan Ia melangkah kesakitan, Ia berniat menyeberang sungai. Lecet di tubuhnya sangat terasa perih terkena air. Tapi Ia harus mencucinya, karna takut infeksi. Di tengah-tengah sungai, Ia mendengar suara mobil pengangkutan di atas bukit, Dia tertegun di tengah sungai, mematung. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis, alunan musik intro Pujaan Hati dari Kangen Band kembali mengalun lembut, ya..! Ia teringat Calon suaminya tadi pagi yg baru ia lihat. "Sangat Tampan" Bisiknya sambil tersenyum, dan Ia melanjutkan langkahnya menuju rumahnya di atas bukit. *** Di sebuah ruangan, terdapat satu orang Pria berpakaian rapi, kemeja dan celana keper mengesankan kalau Pria ini adalah orang yang memiliki Pekerjaan Kantoran. sementara tiga orang lagi adalah sosok yg berpakaian Wanita. Tiga sosok yang berpakaian Wanita ini adalah Waria. Mereka seperti sedang bercengkrama santai, akrab dan tak canggung sama sekali. Kepulan asap menyelimuti ruangan, minuman beralkohol dan kulit kacang berserak di atas meja. Mereka teler. Joni ada di antara empat orang ini. Ya, dia yg berpakaian Kantoran tersebut. Kali ini dia benar benar teler. Teman Warianya meraba-raba tubuhnya, tak Ia hiraukan. Ia mengumpat terus-menerus, mengutuk seseorang. "Bung, yei selesong nantes nikes yes..? Tinta takotek yei?" (Bung, kamu selasa nanti nikah ya? Ga takut ?) Tiara temannya bertanya. Joni hanya menghela nafas sambil melepaskan satu-satu tangan para Waria yang meraba-raba tubuhnya. Ia beranjak keluar. Tiara bertanya lagi "yei tinta kasino sama tu pereu? Sekayangan deseu pereu bagaskara!" (Kamu ga kasihan sama perempuan itu? Kayaknya dia perempuan baik). Joni sudah keluar dari ruangan itu. Mobil Jeepnya menderu menembus malam, Ia tidak pulang, tapi berbalik arah menuju rumah Pak Burhan. Di halaman rumah Pak Burhan Ia berhenti. Ia melirik Jam Tangannya, pukul satu dini hari. Niatnya ingin mengetuk rumah Pak Burhan dan minta izin menginap Ia urungkan. Bukan karna ini dini hari, tapi Ia teringat bahwa pak Burhan punya anak sepuluh orang. Bakal ramai, dan mereka bakal mempertanyakan penampilannya. Yah, sekilas Joni memang memakai pakaian Pria, tapi Ia menggunakan Bra dengan sumpalan busa, Ia juga mengenakan celak mata, eyeshadow, lipstik dan blush on. Kuku jarinya juga merah mengkilap. Sempoyongan, Ia menutup semua kaca jendela mobilnya, Iapun tertidur. "Tok! Tok! Tok!" Ketukan demi ketukan di kaca jendela mobil membangunkan Joni. Sejenak Ia tertegun, kenapa Ia di sini? Satu menit kemudian Ia baru sadar semalam Ia teler. "Tok! Tok! Tok!" Jendela kembali diketuk, tampak ada seseorang di luar sedang mendekatkan wajahnya ke jendela. "Ah, Pak Burhan!" Joni terkesiap, Ia baru sadar ada di halaman rumahnya Pak Burhan, semakin kaget ketika menyadari penampilannya. Ia pun membuka perlahan kaca jendela, terlihat Pak Burhan kaget "astaga!" Kemudian Pak Burhan berlari ke rumah, dan kembali dengan selembar handuk di tangannya. "Tutupi dengan ini Tuan! Saya temani ke kamar mandi! Anak anak saya sudah ke Sekolah semua. Istri saya ke pasar". Sampai ke kamar mandi Joni mendadak mual, Ia muntah. Pak Burhan yang melihatnya hanya bisa menggeleng gelengkan kepala. Pak Burhan pergi ke dapur, memasak telur dengan taburan daun bawang dan seledri, kemudian disiram dengan kaldu Ayam. Setelah mendidih ia masukkan beberapa potong daging Ayam. Sebenarnya pak Burhan tidak bisa masak-memasak, hanya saja Ia pernah mendengar Sop panas bagus untuk memulihkan pusing dan mual. Setelah mendidih, Sop tersebut Ia sajikan di meja makan, Ia persilahkan Joni mencicipinya. Awalnya Joni tak berselera, namun saat Pak Burhan bilang sop ini bagus untuk memulihkan keadaannya sekarang, Ia pun menghabiskan sop tersebut, lagipula Ia juga lapar... "Tuan Joni, anda baik baik saja?" Tanya Pak Burhan. Joni menghela nafas "ya, terimakasih sarapannya Pak Burhan, saya merasa enakan sekarang". Pak Burhan menggeser kursinya mendekat pada Joni " Tuan Joni, maaf jika saya lancang. Anda kan sebentar lagi menikah, apa anda tidak bisa menahan hasrat anda untuk tidak seperti semalam dalam waktu sebulan ini saja?" Pak Burhan menatap Joni khawatir kemudian Ia melanjutkan "maaf Tuan Joni, maaf atas kelancangan saya" Joni menyela "ga papa Pak, saya paham, seluruh Desa ini sepertinya sudah mengenal siapa saya, mereka tau kebiasaan saya, tak ada yg saya tutup tutupin, termasuk kebiasaan saya semalam". Pak Burhan berkata lirih " Tapi keluarga Calon Istri anda sama sekali tidak mengenal anda Tuan, mereka orang orang yg polos dan naif, miskin dan jarang bersosialisasi. Calon Istri anda Perempuan yang baik, sama seperti Ayah Ibunya, polos dan naif" Joni terkesiap " Jadi, selama ini Dia seperti membeli kucing dalam karung?". Tak kalah heran, pak Burhan pun bertanya "jadi, Anda tidak tahu kalau Dia tidak tahu kebiasaan Anda Tuan? Kk..kami malah berusaha keras menekan para Karyawan dan Pekerja agar tidak membocorkan kepribadian Anda padanya, meminta Warga untuk tutup mulut dan menyuruhnya untuk tidak perlu terlalu ingin tahu tentang Calon Suaminya!". Joni sepertinya emosi " Kenapa Pak? Kenapa Ia tidak boleh tahu bagaimana Calon Suaminya? Apa Bapak saya yang meminta ini?" Pak Burhan menyadari kondisi kesalahpahaman ini, ia segera meminta maaf "maaf Tuan, maafkan kami. Pak Haji sangat menginginkan Anda segera menikah, beliau sudah tua Tuan, beliau mengharapkan anda menjadi layaknya seorang Laki-laki dewasa yang menikah dan berketurunan. Maaf jika Saya lancang, Anda adalah Pria normal, Anda bisa berketurunan. Menampik semua bisik-bisik masyarakat yang membuat Orangtua Anda malu, Tuan harus menikah. Dan Anda tahu sendiri, setiap Wanita di Pelosok Kabupaten sepertinya sudah mendengar rumor tentang Anda, dan itu selalu membuat pernikahan Anda selalu gagal, maka karna itulah Pak Haji memilih gadis itu untuk menjadi istri Tuan". Joni tiba tiba berdiri, emosional, mendekati Pak Burhan "yaaah! Aku akan menikah, kemudian tak sampai sebulan Ia akan meminta pada orangtuaku untuk bercerai dengaku! HAHAHHAHAHA" Joni tertawa melangkah mundur menjauhi Pak Burhan. Pak Burhan menghampiri Joni "bagaimana kalo sekarang kita melihat gadis itu?, anda akan paham nanti bahwa Ia tidak akan pernah menceraikan Anda Tuan, tapi sebelum itu Anda sebaiknya mengganti pakaian Anda dulu". *** Sepanjang perjalanan menuju rumah Siti, Joni sibuk mengikis kuku merah mengkilapnya. Sambil menyetir Pak Burhan melirik kuku-kuku lentik milik Joni " Saya geli melihatnya Tuan.." Tiba tiba Joni berhenti mengikis kukunya, ia menatap tajam Pak Burhan, menyadari kata-katanya salah Pak Burhan meminta maaf, namun malah dibalas senyuman oleh Joni sambil melanjutkan mengikis kukunya "aku menikmatinya pak, betul betul menikmatinya... Kenikmatan yang tak ada yg mengerti kecuali aku bersama mereka". Pak Burhan hanya menggeleng geleng tak mengerti. Sesekali Ia melirik wajah tampan Joni. Parasnya yang rupawan, tampan! Rahang dan lehernya yang tegas, dan bahu yang bidang. Ia sama sekali tak bisa mempercayai kenyataan bahwa Laki-laki tampan di sebelahnya memiliki kelainan mental. Entahlah, mungkin bukan sebuah kelainan mental, hanya hoby yang tak biasa. Hoby yang menjadi ketergantungan, yang menenangkan di saat Ia depresi, semacam candu. Ia percaya, bahwa Joni adalah Laki- laki normal dengan Hoby yang tak biasa, ya.. sebuah hoby yang tak biasa, bukan kelainan mental. Mobil itu terus melaju, sebelum ke rumah Siti, mereka singgah sebentar ke perkebunan Apel sebelah selatan, mengecek dan mengawasi proses peyortiran buah. Sekitar dua Jam di sana, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Siti. Mobil berhenti di sebuah halaman rumah yang luas. Di tengah halaman itu terdapat rumah dari ayaman bambu beratapkan rumbia. Suasana asri, banyak pohon perdu dan bunga-bunga di sekitarnya. Rumah itu berwarna alami, tidak di cat. Saat dimasuki di dalam hanya ada kursi tamu dari kayu, sebuah almari kaca yg isinya hanya buku-buku pelajaran dan gelas-gelas kaca antik. Tidak ada perangkat elektronik kecuali tape recorder usang dan lampu pijar. Dari dalam di balik kain gorden yg menutupi pintu terdengar suara batuk batuk, menyahut salam dan bertanya cari siapa?. Pak Burhan menyahut "ini saya Mandor Burhan Pak, saya datang bersama Tuan Joni clCalon Menantu Anda". Mendengar hal itu, Bapak Siti tergopoh-gopoh turun dari Dipannya, ia menyambut tamunya dan menyalami mereka, mempersilahkan duduk dan memanggil Istrinya yang sepertinya baru saja menunaikan shalat Dhuha. Saat Istrinya datang, Bapak Siti menanyakan Siti kemana?. Ibunya Sitipun baru menyadari, sudah dua jam anaknya tak kembali "tadi dia izin mau ke sungai belakang, nyari keong sungai tuk di gulai siang ini" Kata ibunya. Selang berapa detik, ada rengekan kecil dari dapur, meringis kesakitan. Ibu Siti berlari ke dapur, ia terkejut mendapati keadaan putri semata wayangnya yg berlumpur dan lecet lecet. Sekelebat fikiran buruk membayang seketika. "Siti!! Kamu kenapa nak?" Kata ibu Siti menahan teriakannya. Ia khawatir ketahuan sama Pak Burhan dan Joni melihat keadaan Siti. Belum lagi kalau Pak Burhan nanti mengomel menuduh mereka tak bisa menjaga Calon Istri Tuannya. "Siti terguling guling buk ke bawah sampai ke sungai..." Lirih Siti. Ibunya melepaskan nafas lega, bersyukur ternyata Siti hanya terjatuh saja. Ia kemudian memeriksa wajah Siti, berharap tak ada yg lecet, Ia pun kembali bersyukur wajah anaknya tak tergores sedikitpun. Memeriksa kaki dan tangannya, ternyata banyak sekali yg lecet dan lebam, bahkan kakinya terkilir. Ia segera menyuruh Siti mandi, menahan sementara sakit-sakitnya dan bergegas dandan karna pak Burhan menunggunya di ruang tamu. Lima belas menitan Siti mandi dan dandan, bukan karna banyaknya proses make up yg Ia lakukan, hanya saja setiap bergerak Ia merengek pada Ibunya, kakinya sakit. Tapi Ibunya tetap memaksanya, mendandaninya sebaik mungkin, meski hanya gincu merah muda dan bedak tabur bayi, itu sudah cukup membuat Siti kelihatan berseri. Siti mendunduk saat dibawa oleh Ibunya ke ruang tamu. Dan merekapun duduk. Siti menyadari kalau Pak Burhan tidak sendirian, ada seorang lagi di samping Pak Burhan. Ia berfikir itu adalah Securuty seperti kemarin. Tp saat Siti melirik sepatu orang yg disamping pak Burhan yang tepat duduk di depannya, Ia seperti mengenal sepatu Boots itu, celana jeans dan baju kaos hitam. Ia seperti familiar. Perlahan Siti memberanikan diri mengangkat wajah, meluruskan pandangannya tepat ke depan. Jantungnya seakan berhenti, kemudian berdetak memburu. Ia melihat Vino G Bastian juga menatapnya tajam. Seketika Ia ingin segera menghilang, berharap ada tongkat sulap yg merubahnya jadi kodok, merpati atau bekicot sekalipun. Ia meremas paha Ibunya, menatap Ibunya, namun Ibunya malah menyuruh Siti menyapa Joni.. "Ayoo nak, sapa calon Suamimu". Joni berdiri, mengulurkan tangannya " Hai, aku Joni. Senang bisa bertatap muka langsung denganmu Siti". Siti melongo, Ia masih duduk mendongak tak percaya. Semua sendinya seperti kehilangan pelumas, kaku dan tidak bisa digerakkan. Baru saja, Ia pingsan karna jatuh dari bukit, tubuhnya penuh lecet dan sekarang Ia harus menahan sakit kakinya yg terkilir, itu semua karna Ia begitu penasaran dengan Joni. Ia memanjat bukit, mengintip dari celah ilalang demi melihat Joni. Dan ternyata, sekarang dengan mudahnya Joni datang ke rumahnya dan Ia ada di depannya. Tangan Joni masih mengulur menunggu disambut, sementara Siti masih bergelayut dengan fikirannya sendiri. Beberapa detik suasana canggung dan senyap. Melihat itu Pak Burhan memecahkan suasana meraih tubuh Joni memintanya kembali duduk.. "Tuan Joni, Siti gadis solehah. Ia akan malu bersentuhan tangan dengan yg bukan muhrim". Kata pak Burhan disambut iya iya dari orang tua Siti. *** Sepulangnya Pak Burhan dan Joni, Ibu Siti mengomel panjang lebar. Ia ambil minyak burung bubut sambil mengolesi ke bagian yang sakit tubuh anaknya, Ia menyalahkan Siti yang kaku dan tak ada bicara. Beruntung Joni dan Pak Burhan memakluminya. Siti masih diam mematung, sakit-sakit di badannya tak Ia hiraukan lagi. Bahkan saat Ibunya memutar kakinya yang terkilir, Ia hanya berteriak kesakitan tapi rautnya seperti orang berpikir. Siti kembali teringat dimana Joni selalu menatapnya. Beberapa kali Siti curi-curi pandang, Joni masih saja menatapnya. Itu membuat wajahnya panas dan memerah. Menyadari wajah Siti memerah, dan salah tingkah, Joni kemudian tertawa namun tetap tak melepas tatapannya dari Siti. Tertawanya Joni mencairkan suasana. Yang tadinya kaku dan canggung jadi malah membuat ketiga Orangtua itu menggoda mereka. "Plak!" Sebuah tepukan di jidat membuyarkan pikiran Siti. Ibunya yang sedari tadi memijat dan mengolesi tubuhnya dengan minyak bubut bertanya "kamu kenapa sih Sitiiiii?? Dari tadi dieeeeeeeem aja?!" Seketika Siti latah mengeluarkan suara dan berkata "Vino! Vino!" Ibunya sontak terheran-heran? Tak pelak Ia membentak dan menggoncang tubuh anaknya "siapa Vino?! Jangan bilang kamu baru habis bermain dengan si Vino di semak-semak tadi? Alesan aja jatuh di sungai!!! Siapa Vino?!" Siti tersadar dari kebengongannya, Ia tergagap menjelaskan Vino itu artis. Ibunya tetap tidak percaya. Tidak ada cara lain selain mengaku kalau Ia melihat aktris Vino di wajah Joni tadi. Sangat mirip katanya pada ibunya. Ibunya tetap tak percaya, melanjutkan omelan panjangnya, gerutuan dan mengutuki sikap Siti tadi. Lantas Siti beranjak dan pergi ke kamar, semenit kemudian Ia membawa sebuah majalah dengan cover Kadek Devi. Ia membalik-balik majalah itu dan menunjukkan pada ibunya foto seorang model Laki-laki. Ibunya malah semakin melototkan matanya ke majalah, "haaaah?! Tuan Joni itu model?" Siti ikutan panik, dan menjelaskan pada Ibunya, "bukan Buk, ini model sekaligus artis Vino G bastian, bukan Tuan Joni "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN