Saat bel istirahat berbunyi, Bastian keluar dari kelas untuk mencari Dave yang baru bersekolah kembali setelah tiga hari absen. Bastian berjalan menuju kelas Dave yang berada di lorong tengah. Tiba di depan kelas, Bastian tidak menemukan Dave di sana.
“Zack, liat Dave?” tanya Bastian pada salah seorang temannya.
“Sepertinya ke belakang gedung sekolah. Tadi dia jalan sama Rocky dan kawan-kawannya.”
“Rocky?!” tanya Bastian sambil mengerutkan kening.
“Hm, dan terlihat Dave seperti terpaksa mengikuti mereka.”
“Oke. Kalo gitu saya ke belakang dulu,” ujar Bastian.
“Saya ikut,” ujar Zack.
“Jangan!” cegah Bastian.
“Kenapa?”
“Bisa bahaya buat kamu,” ujar Bastian yang tidak ingin melihat temannya terluka.
“Gapapa. Dave teman aku juga.”
Bastian terdiam sejenak untuk berpikir. Dia mengembuskan napas sebelum menjawab perkataan Zack.
“Baiklah. Tapi tetap diam dan jangan menyulut pertengkaran, oke?!”
“Oke.”
Bastian berjalan bersama Zack menuju ke belakang gedung sekolah yang selalu sepi, dan kerap dijadikan tempat untuk merudung atau meminta uang oleh mereka yang merasa dirinya hebat.
Saat hampir tiba, dari kejauhan Bastian melihat Rocky sedang menarik kerah Dave dan akan memukul wajah temannya. Bastian mempercepat langkah kakinya untuk menolong Dave.
“Lepasin dia!” ujar Bastian dengan nada datar dan tenang.
“Wah …, ada jagoan dateng ke sini!” ujar Rocky dengan nada mengejek.
Rocky melepaskan tangannya dari Dave dan berjalan menghampiri Bastian diikuti keempat temannya. Setelah berdiri di hadapan Bastian, Rocky berkacak pinggang dengan gaya jumawa.
“Elo mau ngapain ke sini?! Mau coba-coba jadi pahlawan?!” ledek Rocky.
“Jangan ganggu teman saya,” ujar Bastian tenang.
“Emang elo mau apa?! Mau lawan gue?! Emang elo mampu?!”
Rocky maju dan menarik kerah baju Bastian dengan keras.
“Jangan campurin urusan gua kalo elo nggak mau babak belur!” ancam Rocky.
Bastian hanya diam dan terus menatap setiap gerak-gerik Rocky dan bersiaga tanpa kentara.
“Gua peringatin sekali lagi, jangan ikut campur! Paham?!” ujar Rocky sambil melepaskan cengkraman di kerah baju Bastian dan langsung melayangkan tangan kanannya untuk menonjok wajah Bastian.
Dengan santai, Bastian mengelak ke samping dan menendang lutut Rocky hingga anak itu terjatuh. Rocky bangkit berdiri dengan emosi memenuhi dadanya. Dia langsung menerjang Bastian dengan membabi buta karena merasa dipermalukan oleh Bastian.
“Kurang ajar!” seru Rocky ketika pukulannya kembali meleset.
Rocky kembali menyerang, dan kali ini Bastian memberikan perlawanan dengan menangkap tangan Rocky dan memelintirnya ke belakang dan mendekatkan dirinya pada Rocky sambil berbisik di telinganya.
“Kalo kamu nggak mau lebih malu, lebih baik berhenti, karena saya bisa melakukan lebih dari ini!”
“Lepasin tangan gua!” bentak Rocky yang merasa kesakitan.
“Nggak akan sampai kamu berjanji nggak akan ganggu Dave dan juga Zack,” ujar Bastian dengan nada dingin.
Bastian menambah sedikit tekanan pada tangan Rocky hingga membuat pemuda itu makin kesakitan.
“Iya,” ujar Rocky menyerah.
“Coba ulangi lebih keras karena saya nggak dengar,” sahut Bastian.
“Iya, gua nyerah,” ujar Rocky.
“Zack,” ujar Bastian.
“Siap.”
Zack bergegas menghampiri Dave dan membimbingnya menjauhi Bastian dan Rocky. Setelah memastikan Dave dan Zack sudah dalam jarak aman, dia melepaskan tangan Rocky dan membiarkannya kembali kepada Frank, Nate, Mike, dan Andrew. Saat Rocky berjalan, dia memberi kode pada teman-temannya untuk menyerang Bastian.
Keempat teman Rocky serentak berlari ke arah Bastian dan menyerangnya. Bastian yang memang sudah menduga hal tersebut langsung mengambil posisi dan memasang kuda-kuda.
Andrew menyerang terlebih dahulu dan mengarahkan tinjunya ke mata Bastian. Karena sudah siap, dengan mudah Bastian mengelak serta menjulurkan kakinya pada Andrew. Karena tidak menyangka Bastian akan melakukan hal itu, Andrew langsung jatuh terjerembab ke bawah dengan suara keras.
“ARGH!” pekik Andrew.
Melihat temannya jatuh, Nate yang berada di belakang langsung meringkus Bastian. Melihat hal itu, Frank dan Mike maju bersamaan hendak mengeroyok Bastian. Sebelum kedua orang itu datang, Bastian menginjak kaki Nate dengan keras sambil menyodok rusuknya. Setelah lepas, Bastian bergeser ke samping, mengambil tangan Frank dan membantingnya ke bawah.
Setelah Frank jatuh, Bastian bergerak cepat ke arah Mike dan menendang perut Mike dengan sepertiga kekuatannya, karena biar bagaimanapun, Bastian tidak ingin Rocky dan keempat kawannya terluka. Mike langsung jatuh ketika kaki Bastian mengenai perutnya.
Setelah mereka semua jatuh, Bastian menghampiri Rocky dan berkata dengan tenang.
“Ternyata kamu tidak bisa menepati janji, tapi nggak masalah,” ujar Bastian. “Tapi jika sekali lagi saya tau kamu masih mengganggu Dave, atau Zack, maka saya nggak akan diam!”
Setelah itu Bastian berbalik dan menghampiri Zack dan Dave yang menatap dengan pandangan terheran-heran dengan apa yang diperbuat oleh Bastian. Memang pernah terdengar selentingan jika sebenarnya Bastian pandai bela diri, akan tetapi mereka tidak pernah menanggapinya karena selama ini Bastian selalu terlihat biasa saja.
“Kamu gapapa?” tanya Bastian pada Dave.
“Iya, saya gapapa.”
“Nggak ada yang terluka ?” tanya Bastian sambil mengamati Dave dari ujung kepala hingga kaki.
“Nggak ada, hanya tangan saya masih terasa sedikit sakit,” sought Dave sambil memperlihatkan pergelangan tangan kanannya yang sedikit memar.
“Coba saya liat,” ujar Bastian sambil mengambil tangan Dave dan memeriksanya. “Nanti pasti makin sakit.”
“Nggak masalah. Saya kan selalu menggunakan tangan kiri,” ujar Dave tenang.
“Ayo kita kembali ke kelas,” ujar Bastian. “Oh ya, nanti pulang sekolah, ikut dengan saya, biar saya obati tangan kamu.”
“Baik,” sahut Dave.
“Saya juga mau ikut, boleh kan?” tanya Zack yang sejak tadi hanya diam.
“Silakan.”
“Ngomong-ngomong, kamu sudah lama belajar bela diri? Di mana?” tanya Zack penasaran.
“Rahasia,” sahut Bastian.
“Hey, saya serius,” ujar Zack.
Dave memegang tangan Zack dan menyuruhnya diam melalui tatapan matanya. Sedikit banyak, Dave mengenal Bastian yang tidak suka jika ada orang yang mencampuri urusan pribadinya.
Zack menuruti permintaan Dave. Mereka berjalan bersisian hingga tiba di kelas. Setelah memastikan Dave aman, Bastian menuju ke kelasnya sendiri.
Saat bel pulang berbunyi, Bastian berjalan menuju kelas Dave untuk menjemputnya. Saat berjalan, ada beberapa anak tampak berbisik-bisik saat dia melewati mereka. Namun, Bastian memilih diam dan tidak mempedulikan semuanya.
“Pulang sekarang?” tanya Dave begitu Bastian tiba.
“Oke. Zack mana? Dia jadi ikut?”
“Masih di ruang Biologi, sebentar lagi pasti sampe,” sahut Dave. “Oh, itu dia.”
“Hai, sudah lama nunggu? Maaf, tadi saya ada perlu dengan Mr. John.”
“Nggak masalah,” sahut Bastian tenang.
Bastian berjalan mendahului kedua temannya menuju pintu keluar gedung sekolah. Sepanjang jalan, banyak anak yang memperhatikan dirinya baik secara terang-terangan, ataupun sembunyi-sembunyi.
“Mereka kenapa sih?” tanya Dave.
“Kalian nggak tau?” sahut Zack.
“Memang ada apa?” tanya Dave lagi.
“Itu semua karena dia sudah mengalahkan Rocky dan teman-temannya,”
“Dari mana mereka tau?” sela Bastian.
“Ternyata tadi ada beberapa anak yang nggak sengaja liat waktu kamu ngelawan Rocky. Dan berita langsung menyebar dengan sangat cepat,” ujar Zack dengan mimik wajah jenaka.
“Ah …, begitu ternyata,” gumam Bastian yang merasa tidak enak hati.
“Memang kenapa?” tanya Zack.
“Saya hanya nggak suka jadi bahan pembicaraan,” sahut Bastian singkat.
“Kamu sangat aneh,” bisik Zack. “Harusnya kamu bangga, karena dapat mengalahkan Rocky.”
“Berkelahi bukanlah sesuatu hal yang dapat dibanggakan Zack.”
“Kenapa? Coba jelaskan?”
“Saya belajar bela diri bukan untuk dipamerkan. Saya belajar supaya dapat melindungi orang-orang yang saya sayangi, dan untuk membela yang lemah.”
“Berarti kamu sayang sama Dave?” tanya Zack.
“Dia teman saya, dan saya nggak mau liat orang lain menindas dia.”
“Kalo saya yang mendapat perlakuan jahat, apa kamu akan menolong saya?”
“Ya, karena kamu juga adalah teman saya,” sahut Bastian mantap.
Mereka terus berjalan meninggalkan sekolah dan tidak mempedulikan tatapan yang ditujukan pada Bastian hingga tiba di restoran Jimmy.
“Kamu tinggal di sini?” tanya Zack.
“Hm. Mari masuk.”
Bastian menggeser pintu dan melangkah ke dalam. Ada Jimmy, Meylan, Aliong, dan juga Chen di sana sedang duduk mengelilingi meja sambil menikmati kudapan serta teh hangat.
“Selamat sore,” sapa Bastian sambil menundukkan badannya.
“Sore juga,” balas Meylan.
“Baru pulang lo?’ tanya Aliong sambil memperhatikan kedua teman Bastian yang berdiri sedikit di belakang.
“Iya Ko. Oh iya, kenalin ini Zack,” ujar Bastian sambil menoleh ke belakang ke arah Zack.
“Selamat sore semua, apa kabar? Saya Zack, teman sekolah Bastian.”
“Sore juga,” sahut Meylan tersenyum senang.
“Ada perlu apa ke sini?” tanya Aliong.
“Ma, masih punya salep untuk luka memar?” tanya Bastian.
“Ada. Untuk siapa? Kamu terluka?” tanya Meylan langsung khawatir.
“Bukan Tian Ma, tapi Dave, tangannya sedikit memar.”
“Mama ambilin, kalian duduk dulu.”
Meylan langsung berdiri dan naik ke atas untuk mengambil salep, sedangkan Bastian membawa kedua temannya ke salah satu meja dan duduk di sana menunggu Meylan datang.
“Kalian tunggu di sini, saya mau ambil minum.”
Bastian meninggalkan Zack dan Dave menuju ke dapur untuk membuatkan minum. Melihat Bastian pergi, perlahan Aliong bangkit dan mengikuti ke dapur. Ada yang ingin dia tanyakan pada Bastian.
“Kenapa sama temen lo?” tanya Aliong begitu tiba di dapur.
“Tadi ada sedikit insiden Ko,” sahut Bastian sambil mengambil botol air dingin dari dalam lemari es.
“Lagi?”
“Iya.”
“Terus?”
“Tian tolongin.”
“Menang?”
“Iya.”
“Bagus! Itu baru namanya adik gua,” sahut Aliong bangga. “Tapi elo nggak luka kan?”
“Nggak lah. Mau liat?” tantang Bastian sambil meringis.
Aliong menyentil pelan kening Bastian sambil terkekeh geli.
“Nggak usah! Gua percaya sama elo,” sahut Aliong. “Tapi gua mau denger ceritanya.”
“Baiklah,” sahut Bastian. “Tapi nanti ya setelah mereka pulang, lagian takut papa masuk ke dapur.”
“Oke.”
Bastian keluar terlebih dahulu sambil membawa baki berisi botol air dingin dan dua buah gelas menuju ke meja yang ditempati oleh Zack dan Dave.
“Minum dulu.”
“Makasih,” sahut Zack dan Dave.
“Mana yang luka?” tanya Meylan yang baru saja turun sambil membawa kotak obat.
“Pergelangan tangan kanan Ma,” ujar Bastian.
Meylan duduk di dekat Dave, mengambil tangan kanan dan memeriksa sebentar. Kemudian, perlahan Meylan memijat pergelangan tangan Dave.
“AW!” desis Dave sambil meringis kesakitan.
“Kenapa bisa begini?” tanya Meylan yang tidak berhenti memijat.
Bastian mendekatkan diri pada Meylan dan berbisik di telinga ibunya.
“Nanti Tian ceritain.”
“Oke.”
Selesai memijat, Meylan mengoleskan salep di sekeliling tangan Dave dan memasang perban dengan hati-hati.
“Jangan gunakan tangan kanan dulu, supaya tidak makin sakit,” ujar Meylan.
“Iya.”
“Kalau makin nyeri, kamu bisa minum obat pereda nyeri,” ujar Meylan lagi sebelum beranjak.
“Iya. Makasih Aunty.”
“Sama-sama.”
Meylan berjalan ke meja kasir dan meletakkan kotak obat di kolong meja, kemudian berjalan ke dapur untuk mengambilkan kudapan. Setelah itu, dia membawa dan meletakkan di meja yang ditempati oleh ketiga remaja yang sedang mengobrol.
“Silakan dinikmati.”
“Makasih Ma,” ujar Bastian.
“Terima kasih Aunty,” sahut Zack dan Dave.
“Bas, saya boleh tanya?” ujar Zack setelah Meylan pergi.
“Tanya apa?”
“Pria yang pakai baju hitam, itu siapa?”
“Dia kakak angkat saya, kenapa?”
“Wajahnya dingin banget dan terlihat menakutkan,” bisik Zack.
“Dia baik kok.”
“Jangan-jangan kamu belajar sama dia ya?” tebak Zack.
“Hm, begitulah.”
“Pantas kamu jago. Saya yakin dia sangat hebat. Bagaimana jika saya ikut belajar?”
“Kamu tanya sendiri aja sama dia.”