Setelah tidak bersekolah selama seminggu, hari Seninnya dia datang ke sekolah seperti biasa. Saat sedang berjalan menuju kelas, Ann yang kebetulan melihat Bastian langsung berteriak memanggil.
“Hey Tian!” seru Ann sambil berlari menghampiri temannya.
“Kenapa?”
“Kamu sakit? Kenapa minggu kemarin tidak masuk?”
“Hm, saya agak kurang sehat.”
“Sekarang bagaimana?” tanya Ann lembut.
“Sudah jauh lebih baik.”
“Kenapa tidak memberitahu saya kalo kamu sakit?”
“Buat apa?” tanya Bastian tidak mengerti maksud Ann.
“Paling tidak saya bisa datang ke rumah untuk menengok kamu.”
“Oh, begitu,” sahut Bastian. “Tapi sekarang saya sudah sehat dan masuk sekolah lagi.”
“ya, memang terlihat kamu sudah sehat,” ujar Ann.
“Baiklah. Kalo gitu saya ke kelas dulu,” ujar Bastian.
Bastian melanjutkan langkah menuju kelas dan meninggalkan Ann yang masih berdiri dalam kebingungan melihat sikap Bastian yang terlihat berbeda dari biasanya, sedikit dingin.
“Ada apa sama Tian?” gumam Ann. “Ah, sudahlah.”
Ann mencoba melupakan sikap Bastian dan kembali melanjutkan langkah ke kelas. Sepanjang pelajaran, Ann sulit sekali untuk konsentrasi. Hatinya merasa sedikit terganggu dengan cara Bastian berbicara padanya.
Saat Ann masuk ke dalam ruang makan, dia melihat Bastian, Zack, dan juga Dave sudah terlebih dulu mengambil makanan dan duduk di tengah ruangan. Ann bergegas mengambil makanan dan menuju ke meja Bastian untuk bergabung dengan mereka.
“Dave, tempat ini masih kosong kan?”
“Silakan.” Zack mewakili.
“Terima kasih,” sahut Ann.
Ann duduk dan mulai makan. Kebetulan dia duduk berseberangan dengan Bastian sehingga dapat memandangi wajah pemuda itu dengan bebas. Sambil makan, Ann sesekali menatap Bastian diam-diam. Wajah Bastian terlihat sedikit lebih tirus dibanding terakhir Ann melihatnya, juga bibirnya terlihat sedikit pucat.
“Benarkah Tian sakit?” gumam Ann.
“Barusan kamu bilang apa?” tanya Zack yang duduk di samping Ann.
“Oh …, nggak ada. Maaf.”
“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu? ujar Dave.
“Nggak …, nggak ada.”
“Saya duluan,” ujar Bastian sambil berdiri dan membawa nampan kosong.
“Ke kelas?” tanya Zack.
“Hm, dari sana saya akan langsung ke lab. Setelah ini kita ada kelas praktikum kan?’
Bastian menaruh nampan di tempatnya dan berjalan meninggalkan ruang makan. Dia sengaja meninggalkan ruang makan lebih dulu karena merasa sedikit risih ditatap oleh Ann. Sejak tadi pagi, dia memang sengaja berusaha menjaga jarak dengan gadis itu, karena tidak ingin membuat Ann salah mengartikan perhatiannya selama ini. Dan Bastian jadi teringat percakapannya dengan Aliong dan Fei beberapa hari yang lalu.
“Tian, apa kamu punya pacar?” tanya Fei.
“Nggak ada, kenapa?”
“Nggak mungkin,” sahut Fei tidak percaya.
“Beneran kok, tanya aja sama Ko Aliong.”
“Emang bener Fei, Tian belum punya pacara, bahkan berpacaran pun belum pernah.”
“Nggak mungkin. Masa belum pernah pacaran? Padahal kamu itu ganteng lho.”
“Dia emang belum pernah pacaran, tapi ada satu gadis yang udah lama suka sama Tian.”
“Oh ya? Terus?”
“Tidak ditolak juga tidak ditanggapi sama Tian,” ujar Aliong.
“Nggak boleh gitu, Tian. Kamu harus tegas dan menentukan sikap. Jika kamu bersikap seperti ini, gadis itu akan terus salah paham, mengira kamu juga memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi kamu malu untuk mengungkapkannya.”
“Terus mesti gimana?”
“Jujurlah sama dia dan katakan yang sebenarnya.”
“Tapi kalo ternyata saya salah gimana?”
“Salah di mananya?” tanya Aliong. “Udah jelas-jelas terlihat kalo Ann itu suka sama elo! Elonya ada yang nggak peka!”
“Ngomong gampang Ko, ngelakuinnya yang susah! Tian mesti gimana coba?”
“Coba elo jaga jarak dulu sama dia, sambil perhatiin gimana reaksi Ann. Setelah itu baru lakukan langkah selanjutnya.”
***
“Tian, kamu langsung pulang?” tanya Dave.
“Iya, kenapa?”
“Saya sudah lama saya nggak main ke rumah kamu. Jadi kami memutuskan untuk ke sana hari ini bersama kamu.”
“Bagaimana? Bagus kan ide kami,” timpal Zack.
Bastian bingung untuk membalas perkataan Zack dan Dave. Jika hanya mereka berdua saja yang datang ke rumah, dia tentu tidak keberatan. Namun, masalahnya, Ann pun akan ikut. Bastian tidak ingin Meylan menjadi salah sangka dan berpikir yang tidak-tidak, serta tidak ingin Ann ke rumah.
“Tian!”
“Saya dijemput. Bagaimana kalo ke rumahnya besok? Saya duluan ya.”
Bastian berjalan dengan langkah lebar meninggalkan Zac, Dave, dan Ann menuju ke tempat Chen berdiri menunggunya. Bastian tidak melihat wajah kecewa Ann saat dia berjalan meninggalkan mereka.
“Kenapa ke sini Ko?” tanya Bastian setelah tiba di hadapan Chen.
“Elo lupa?” tanya Chen.
Bastian mencoba berpikir, akan tetapi tidak dapat menemukan jawabannya.
“Hari ini elo mesti ke dokter, lepas benang jahitan, sekalian kontrol!”
“Astaga!” seru Bastian sambil menepuk keningnya. “Tian beneran lupa Ko.”
“Ayo masuk,” ujar Chen.
“Ko Aliong mana?” tanya Bastian saat masuk ke dalam mobil.
“Di markas besar. Ada yang perlu dibahas sama Jack.”
Chen menyalakan mobil dan meninggalkan sekolah menuju ke tempat dokter yang menjadi kepercayaan Jack dan semua anggota Delapan Naga.
“Ayo turun,” ujar Chen setelah memarkir mobil.
Bastian turun dari mobil dan berjalan di belakang Chen masuk ke dalam apartemen dokter.
“Kenapa ke sini Ko? Katanya mau ke dokter?”
“Memang. Dia tinggal di sini.”
“Terus? Emang dia nggak kerja?”
“Dia itu kerjanya bukan di Rumah Sakit, tapi sama Jack.”
Chen memencet bel di depan sebuah unit dan menunggu sebentar hinggan pintu dibukakan.
“Masuk,” ujar dokter.
Dokter langsung memeriksa keadaan punggung Bastian, sekaligus melepaskan benang jahitannya.
“Ini udah sembuh, tapi tetap harus hati-hati. Jangan angkat yang terlalu berat dulu, atau berolahraga terlalu keras.”
“Siap dok.”
“Satu lagi,” ujar dokter.
“Ya?”
“Jaga diri lo baik-baik! Jangan sering bikin tanda di badan lo! Nyawa lo cuma satu! Inget itu!”
Bastian tersenyum malu mendengar sindiran halus yang keluar dari bibir dokter separuh baya di hadapannya itu.
***
Bastian menepati janjinya pada kedua temannya dengan membiarkan mereka datang ke rumahnya dua hari kemudian bersama dengan Ann. Bastian sudah memberitahu Meylan kalau kedua temannya akan datang, beserta seorang lagi, dan menjelaskan siapa Ann.
“Selamat sore Paman, Bibi,” sapa Dave dan Zack bersamaan saat masuk ke dalam restoran.
“Hm,” sahut Jimmy.
“Kalian ke mana saja? Kenapa baru sekarang datang lagi?” ujar Meylan.
“Selamat sore,” sapa Ann dari belakang Zack dan Dave.
Jimmy menoleh untuk melihat siapa lagi yang menyapanya, dan sedikit mengerutkan kening saat melihat seorang gadis berambut cokelat berdiri di dekat pintu masuk.
“Ko,” bisik Meylan mengingatkan suaminya.
“Sore,” sahut Jimmy datar.
“Selamat sore,” ujar Meylan ramah. “Siapa nama kamu?”
“Saya Ann, teman sekolah Bastian,” sahut Ann sopan.
“Ayo silakan duduk,” ujar Meylan. “Tian mana?”
“Oh, Tian mampir dulu ke mini market,” sahut Zack.
“Mini market?” ulang Meylan.
“Iya, Tian bilang temannya akan datang, jadi dia akan menunggu di sana sampai temannya datang.”
“Oh, baiklah,” ujar Meylan. “Kalian tunggu sebentar di sini.”
Meylan masuk ke dapur untuk membuatkan minuman serta menyiapkan makanan kecil untuk ketiga teman Bastian. Saat sedang menata makanan kecil, Meylan mendengar suara Bastian dari luar. Karena penasaran ingin melihat siapa lagi teman yang dibawa oleh Bastian.
Ketika berjalan mendekati meja yang ditempati oleh anak-anak, Meylan melihat sesosok gadis berambut panjang sepunggung duduk membelakangi dirinya. Meylan menghampiri meja, dan meletakkan gelas-gelas dan piring berisi makanan kecil.
“Ma, kenalin ini Fei,” ujar Bastian memperkenalkan.
“Selamat sore Bibi,” ujar Fei ramah.
Meylan terpaku melihat Fei. Gadis berparas cantik dengan mata sipit yang terlihat ceria dan senyum yang sangat manis. Meylan menatap Bastian meminta penjelasan.
“Mamanya Fei itu kerja sama Ko Aliong Ma,” ujar Bastian yang memahami arti tatapan Meylan. “Dia juga sering datang ke apartemen nganterin makanan buat Ko Aliong dan Ko Chen.”
“Oh …,” ujar Meylan mulai mengerti.
Meylan menghampiri Fei dan menarik gadis itu untuk berdiri. Ditatapnya Fei dari ujung rambut sampai kaki sambil tersenyum ramah.
“Sering-seringlah datang ke sini,” ujar Meylan.
“Terima kasih Bibi,” sahut Fei sambil tersenyum manis.
Fei sangat terkesan dengan keramahan Meylan. Dia sekarang mengerti mengapa Bastian sangat menyayangi wanita di hadapannya ini.
“Kenapa baru kamu bawa Fei ke sini?!” tegur Meylan sambil menatap Bastian.
“Fei kan kuliah Ma. Dan hari ini baru ada waktu untuk datang,” ujar Bastian.
Ann yang sejak tadi melihat bagaimana perlakuan Meylan pada Fei, merasa sedikit sedih juga kecewa. Pada dirinya, Meylan bersikap sangat formal, berbeda sekali dengan yang diterima Fei.
Dave, yang memang peka, bisa merasakan kesedihan Ann. Baik dirinya dan Zack, mengetahui jika gadis itu menaruh hati pada Bastian sejak lama. Dave jadi merasa tidak enak karena sudah mengabulkan permintaan Ann untuk bisa datang ke sini.
Diam-diam, Dave menatap Zack dengan pandangan bertanya. Zack mengangkat bahu sebagai jawaban.
“Tian, saya pamit pulang dulu,” ujar Ann. “Saya baru ingat harus menemani mama belanja.”
“Oke,” sahut Bastian. “Mari saya antar.”
“Nggak usah. Saya bisa pulang sendiri.”
“Jangan begitu! Kamu kan tidak mengenal daerah sini,” ujar Bastian sambil berdiri.
“Baiklah,” sahut Ann.
“Ma, Tian anter Ann dulu.”
Bastian berjalan di sisi Ann, mengantarkan gadis itu menuju halte bis. Mereka berjalan dalam diam. Bastian tahu jika Ann merasa kecewa, terlihat jelas di raut wajah gadis itu.
Saat kembali ke restoran, Bastian tidak melihat Fei, Dave, dan Zack di sana. Dia naik ke kamarnya, mereka pun tidak ada. Akhirnya, dia menuju ke dapur dan melihat mereka bertiga, juga Meylan sedang mengobrol dengan seru.
“Kamu udah balik?” sapa Fei.
“Hm. Kenapa kalian kumpul di sini?”
“Lebih asik di sini Tian, banyak makanan,” sahut Zack.
“Dasar!” ujar Bastian sambil menimpuk Zack dengan kacang polong yang barusan diambilnya.
“Kenapa tidak kasih tau kami kalo kamu punya temen yang sangat cantik?” goda Zack membalas perbuatan Bastian dengan meledek.
“Memang nggak mau,” sahut Bastian asal.
“Hei, bagaimana kalo Sabtu ini kita keluar berempat?” tanya Zack.
“Ke mana?” sahut Dave.
“Bagaimana kalau taman hiburan?” usul Zack.
“Boleh juga,” ujar Dave. “Tian, Fei, bagaimana? Kalian setuju?”
“Saya setuju,” sahut Fei. “Kamu gimana Tian?”
“Boleh juga.”