Bab 7

1078 Kata
Alan terbangun dengan kaget. Aurora masih indah di langit, menari dengan gemulai. Pohon-pohon kecil masih tidur di sekitarnya, meringkuk seperti kucing, beberapa mendengkur lucu. Doni duduk di sampingnya, terjaga, menatap langit dengan tatapan sayu, matanya berkaca-kaca. Alan mengucek matanya."Don... Don, gue mimpi indah banget ini." Doni tersenyum."Bukan mimpi, Lan. Lo beneran di sini." Alan mengingat, lalu melihat sekeliling. "Oh iya..." Ia melihat jam tangan yang masih basah. "Jam tiga?! Don, kita harus pulang! Ayah pasti panik!" Doni mengangguk."Iya. Kita harus segera balik. Udah malem banget." Alan membangunkan pohon-pohon kecil dengan hati-hati, mengelus-eluk dahan mereka."Hei, bangun! Kita harus pulang! Makasih ya udah sembuhin gue!" Rani menguap lucu, menggeliat, daunnya bergoyang."Udah mau pulang? Cepet amat. Jangan lupa sama kami ya. Aku sedih." Zai menggeliat, daunnya bergetar."Kami akan buka jalan. Tapi ingat, Alan. Yang paling penting bukan tanganmu yang sembuh, tapi hatimu. Jangan pendam semuanya sendiri. Ceritakan pada ayahmu. Bicaralah." Alan tersenyum haru, matanya basah. "Makasih... makasih semuanya. Kalian baik banget. Gue nggak akan lupa." Zai tersenyum."Sekarang pejamkan mata. Dan ketika kau buka, kau sudah di jalan pulang. Jangan lupa kami." Pohon-pohon kecil melambaikan dahan, beberapa menangis. Perlahan, cahaya terang menyelimuti Alan dan Doni. Alan dan Doni bersamaan."Dadah! Makasih! Sampai jumpa!"Cahaya semakin terang, membutakan mata. Jalan Setapak - Jam 03.15 Alan dan Doni terbangun di jalan setapak yang sama, persis di pinggir hutan. Kabut sudah hilang. Pohon-pohon terlihat biasa saja, tak bergerak. Hujan sudah reda, meninggalkan bau tanah basah. Langit mulai cerah, bintang-bintang masih bertaburan. Alan terengah-engah, melihat sekeliling, memegang tubuhnya. "Don... kita beneran pulang! Ini hutan biasa!" Doni tersenyum, mengatur napas. "Iya, Lan. Beneran. Kita selamat." Mereka berlari keluar dari kawasan hutan, melewati jalan setapak yang kini terbuka. Sesampainya di pinggir jalan desa, mereka melihat lampu rumah masih menyala terang, menerangi kegelapan. Dan di depan rumah, sesosok duduk di kursi yaitu ayah mereka, dengan kepala tertunduk, tubuh basah kuyup, pakaian penuh lumpur. Alan berhenti, suaranya bergetar. "Yah..." Ayah mendengar suara itu. Ia mengangkat kepala perlahan. Wajahnya sembab, mata merah habis menangis, rambut basah kuyup, bibir kebiruan kedinginan. Ia mematung sejenak, tidak percaya, lalu berdiri dan berlari sekuat tenaga meski kakinya sempoyongan. Ayah memeluk Alan erat-erat, terisak, tak kuasa menahan tangis. "Nak! Alan! Astaga... kamu di mana aja?! Ayah cari ke mana-mana... ayah takut... ayah pikir..." Ia terisak. "Ayah pikir kalian kenapa-apa... ayah pikir kalian..." Alan kaget, lalu balas memeluk erat, air matanya mengalir. "Maaf, Yah... maaf... Alan pergi tanpa bilang... maaf... Alan nggak maksud..." Ayah melepas pelukan sebentar, memegang wajah Alan dengan kedua tangannya yang kasar dan dingin, menatap matanya. "Ayah cari ke hutan, ke mana-mana... ayah panggil kalian... ayah takut..." Ia terisak lagi. "Maafin ayah, Nak... ayah jahat sama kamu... ayah selalu marah-marah..." Alan menggeleng cepat. "Bukan salah ayah. Alan yang salah. Alan pergi tanpa bilang." Ayah mengusap air mata Alan dengan ibu jarinya. "Nggak apa-apa, yang penting kalian pulang selamat. Tangan kamu? Sakit? Masih sakit? Mana ayah lihat!" Alan menggerakkan tangan bebas, memutar-mutar, tersenyum lebar. "Udah sembuh, Yah. Sembuh total. Nggak sakit sama sekali. Lebih kuat." Ayah terkejut, memeriksa tangan Alan, meraba-raba. "Sembuh? Siapa yang obati? Ini... ini nggak mungkin. Tadi bengkak parah, biru. Ini keajaiban." Alan dan Doni saling pandang, tersenyum misterius. "Itu... cerita panjang, Yah. Panjang banget." Ayah menghela napas lega. "Cerita nanti. Sekarang masuk! Kalian basah kuyup, bisa sakit! Ayo!" Ruang Tamu - Jam 03.30 Mereka bertiga duduk di ruang tamu setelah berganti pakaian kering. Ayah menyuguhkan teh hangat dengan tangan masih gemetar, uap mengepul. Suasana hening, hanya suara jangkrik dan sesekali isak tangis tertahan. Ayah masih menggigil kedinginan. Ayah memegang cangkirnya erat-erat setelah lama diam. "Sekarang cerita. Kalian dari mana aja? Jangan ada yang disembunyiin. Ayah harus tahu." Alan menarik napas dalam, memegang tangan ayah. "Yah... Alan mau cerita sesuatu. Tapi ini... ini kedengeran gila. Tapi ini beneran kejadian. Sumpah." Ayah menatapnya serius. "Apapun itu, ayah siap denger. Ayah udah ngalamin ketakutan terbesar." Alan menunjuk ke samping. "Yah... Doni lihat juga kan? Doni dari tadi sama Alan." Ayah mengerutkan kening, bingung. "Alan... maksud kamu?" Alan mulai bingung. "Ya Doni! Doni kan dari tadi sama Alan! Nemenin Alan ke hutan, dia melihat semuanya proses penyembuhan Alan, Yah!" Ayah terdiam. Wajahnya berubah pucat, lebih pucat dari sebelumnya. Gelas di tangannya hampir jatuh, teh tumpah sedikit. Ayah suaranya bergetar. "Alan... kamu ngomong apa, Nak? Doni... yang mana?" Alan mulai bingung, menunjuk ke samping dengan jelas. "Ya Doni! Ini! Adik tiri Alan! Doni, kenapa diem? Bicara dong!" Alan menoleh ke samping. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bantal sofa yang sedikit penyok. Alan terbelalak, berdiri. "Do... Doni? Doni?! Ke mana lo?! Doni!" Alan berteriak, memanggil, mencari ke seluruh ruangan. Membuka pintu kamar Doni. Kosong. Hanya kamar rapi dengan debu di beberapa sudut, tempat tidur rapi, foto Doni di dinding. Foto Doni dengan senyum khasnya. Ayah air mata mulai mengalir, suaranya pecah. "Alan... Nak... Kamu lihat Doni?" Alan panik, bingung, hampir histeris. "Iya! Dari tadi! Dari lapangan, dari klinik, dari rumah, dari perjalanan! Dia ngomong sama Alan! Dia pegang Alan! Dia..." Ayah berdiri, memegang bahu Alan dengan lembut. "Alan... Doni sudah meninggal. Tiga tahun lalu. Kecelakaan waktu main bola. Kamu lupa? Alan, kamu nggak ingat?" Alan terdiam. Matanya membelalak. Tubuhnya gemetar hebat. Ingatan mulai kembali seperti pecahan kaca yang menyatu. Kenangan itu muncul kembali. Lapangan sepak bola. Doni berlari mengejar bola yang keluar lapangan. Suara klakson keras. Benturan. Tubuh Doni tergeletak di jalan. Alan berlari, berteriak, tapi terlambat. Doni tersenyum lemah di pangkuan Alan sebelum menghembuskan napas terakhir. "Ja... ga... Alan..." Darah di mana-mana. Alan menjerit histeris. Hari itu, hari paling gelap dalam hidupnya. Alan berbisik, tubuhnya gemetar hebat. "Tapi... tapi selama ini... Doni selalu ada... Semenjak SMP... Dia selalu... dia selalu di samping gue... di lapangan... di rumah... di sekolah... pas gue cedera... pas gue dikeroyok..." Ayah terisak, memeluk Alan. "Kamu nggak pernah cerita, Nak. Tapi ayah tahu kamu sering ngobrol sendiri, ketawa sendiri, kayak ada yang diajak ngobrol. Ayah pikir kamu masih berduka, masih berhalusinasi. Tapi malam ini... kamu ngajak Doni keluar?" Alan menangis tersedu-sedu. "Bukan ngobrol sendiri! Dia nyata! Dia pegang Alan! Dia ngomong! Dia bilang 'gue jagain lo'! Ayah, percaya sama Alan!" Ayah memeluknya lebih erat, ikut menangis. Keduanya menangis dalam pelukan. Keheningan malam hanya diisi suara tangis yang tertahan. Ayah berbisik lirih. "Ayah percaya, Nak. Ayah percaya. Doni anak baik. Dia pasti jagain kamu dari sana." Ayah menghela napas panjang, lalu berbisik lagi. "Sebenarnya ayah udah tahu. Hanya di depan Alan saja ayah berkata begitu." Alan terisak di bahu ayahnya, tak kuasa berkata apa-apa lagi. Di sudut ruangan, bayangan tipis Doni tersenyum. Sekejap, lalu menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN