“Ma, tumben ke sini?” tanya Grandika sambil masuk ke dalam apartemennya saat jam makan siang. Ia buru-buru pulang ke rumah saat mamanya tiba-tiba menelepon dan mengatakan kalau sudah berada di dalam apartemen pribadinya.
“Kamu nggak pernah pulang ke rumah. Apa Mama nggak boleh ke sini?” sahut Tantri tanpa menoleh ke arah puteranya itu.
Grandika mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Yuri yang tidak terlihat di rumah itu. “Boleh, Ma. Boleh.” Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kamu cari apa?” tanya Tantri sambil menatap wajah Grandika.
“Eh!? Nggak ada. Mama udah makan siang atau belum? Aku traktir makan, yuk!” ajak Grandika sambil menghampiri Tantri yang duduk di sofa rumahnya.
“Kalau kamu mau makan sama Mama, pulanglah! Papamu juga sudah kangen sama kamu,” pinta Tantri.
Grandika langsung mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. “Oke. Oke. Aku akan pulang ke rumah malam ini. Gimana keadaan Papa?” tanya Grandika.
“Masih sama seperti kemarin. Dia makin sakit karena masih harus membantu kakak kamu mengurus perusahaan. Huft! Kapan Mama dan Papa kamu bisa hidup tenang? Sayangnya, pewaris perusahaan kami tidak peduli dengan masa depan perusahaan yang sudah kami bangun,” tutur Tantri.
“Ma, jangan ungkit ini lagi! Aku nggak mampu mengurus perusahaan. Kak Fira sangat berkompeten mengurusnya. Kalau aku ikutan ngurus perusahaan, dia akan tersinggung,” tutur Grandika sambil memijat-mijat lengan Tantri.
“Kamu tetap pilih jadi anggota polisi?” tanya Tantri.
Grandika mengangguk yakin.
“Apa kamu bisa jadi contoh buat masyarakat?”
“Bisa, Ma. Aku sudah belajar banyak dan punya banyak prestasi. Mama harusnya bangga sama aku!” jawab Grandika sambil memainkan alisnya. Perasaannya mulai gelisah saat ia tidak mendengar kehidupan Yuri di dalam rumah itu.
“Kamu nyari seseorang?” tanya Tantri.
“Eh!? Enggak, Ma.”
“Di kepolisian sudah ada pelajaran berbohong?” tanya Tantri.
Grandika menggeleng.
KLEK!
Yuri melangkah masuk ke dalam apartemen tersebut sambil menenteng kantong belanja berisi buah-buahan. Ia langsung menatap Grandika yang sudah duduk di sofa bersama ibunya.
“Selamat siang, Tuan! Sudah pulang? Saya sudah siapin makan siang untuk Tuan,” sapa Yuri sambil mengangguk sopan.
“He-em.” Grandika mengangguk dan membiarkan Yuri pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
“Siapa dia?” tanya Tantri sambil menunjuk Yuri yang sedang berada di dapur. Ruangan tanpa sekat itu bisa membuatnya melihat gerakan Yuri dengan bebas.
“Pemban—” Grandika menghentikan ucapannya saat mamanya mengangkat kedua alis menatapnya.
“Sejak kapan kamu pakai pembantu manusia? Robot-robot kamu udah nggak berfungsi lagi?” tanya Tantri.
Yuri menarik napas dalam-dalam sambil mendengarkan wanita setengah baya itu mengomeli anaknya. Sejak beberapa jam lalu, ia juga merasa canggung ketika menggunakan dapur rumah itu untuk memasak. Sebab, wanita paruh baya itu terus duduk di sofa tanpa mengatakan apa pun. Ia juga tidak punya keberanian untuk mengajak wanita itu berbincang banyak hal.
Prok ... prok ... prok ...!
“Bripka Grandika Wira Atmaja, sudah pandai membohongi ibu sendiri, hah!?”
“Ma, dengerin Dika dulu!”
“Kamu yang ngotot mau jadi polisi. Sudah kami turuti semuanya! Kalau mau jadi polisi, jadilah polisi yang baik! Setiap malam kamu masih keliaran di jalanan buat mengendalikan penyimpangan sosial di masyarakat. Tapi kamu sendiri malah kayak gini. Nggak bisa jadi contoh untuk masyarakat. Kamu nyimpan perempuan di rumah kamu, hah!?” cerocos Tantri sambil menatap wajah Grandika.
“Baru sekali, Ma.”
“Sekali yang ketahuan. Berapa kali yang enggak?” tanya Tantri. “Kamu nidurin anak orang tanpa kamu nikahi? Polisi macam apa kamu ini?”
“Ma, aku belum ngapa-ngapain dia.”
“Belum? Artinya mau? Kalau Mama nggak ke sini, mau sampai kapan kamu pelihara perempuan di rumah kamu ini? Punya pacar, nggak pernah dikenalin ke keluarga. Malah kayak gini. Apa susahnya bawa dia ke orang tua kamu, Grandika?”
“Ma, dia bukan pacarku. Cuma numpang tinggal di sini buat sementara. Aku tinggal di asrama,” tutur Grandika.
“Alasan aja! Mama itu udah tahu kamu dari orok. Sejak kapan kamu biarin orang asing tinggal di rumah ini? Bahkan, di apartemen ini cuma ada satu kamar. Kamu pikir, karena sudah jadi polisi ... kamu bisa begoin mama sendiri, hah!?”
Yuri menggigit bibir sambil menatap makanan di atas meja yang sudah ia susun rapi. Wanita itu masih terus mengomeli Grandika karena dirinya. “Tante ... saya memang bukan pacarnya Grandika.”
“Jadi, kamu siapa? Pembantu? Tante nggak percaya! Kalau bukan pacar, kamu wanita bayaran?” tanya Tantri.
“Ck. Bukan, Ma. Mama ini jangan asal nuduh!” pinta Grandika. “Oke. Aku jujur. Dia pacarku!”
“Nah ... gitu, dong! Kalau jujur ‘kan enak. Mama nggak perlu ngomel-ngomel panjang lebar kayak gini. Kenapa nggak dikenalin ke Mama dan keluarga?”
“Masih ada wawancara lanjutan lagi?” tanya Grandika sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Mama harus tanyakan dengan jelas hubungan kalian ini. Apalagi, kamu sudah bawa perempuan ini tinggal di sini. Kamu bisa bikin mama malu di depan keluarga Dierja. Anak Mama yang sudah jadi polisi, punya banyak prestasi dan dibanggakan masyarakat ini ternyata punya perilaku menyimpang. Mama akan segera urus pernikahan kalian.”
“HAH!?” Grandika dan Yurika melongo bersamaan.
“Kenapa?” tanya Tantri sambil menatap wajah Yuri dan Grandika bergantian.
“Ma, bukannya mama baru aja maki-maki dia? Kenapa aku harus nikahin dia?” tanya Grandika.
“Dia cantik dan rajin. Mama perhatikan dari tadi, dia bisa mengurus kamu dengan baik. Lagian, Mama bisa malu sama keluarga kalau punya anak polisi, tapi tukang kumpul kebo,” tutur Tantri sambil menatap Yuri yang berdiri di sisi meja makan.
“Ma, kami nggak ada hubungan apa-apa. Aku nggak suka sama dia. Aku nggak bisa nikahin dia.”
“Apa!? Nggak suka tapi kamu tiduri? Anak kurang ajar! Nggak bertanggung jawab! Siapa yang ngajari kamu kayak gini? Mama nggak pernah didik kamu jadi laki-laki biadab!” seru Tantri sambil memukuli Grandika menggunakan bantal sofa.
Grandika terus berkelit dari pukulan mamanya. “Iya, Ma. Aku tanggung jawab. Tapi nggak sekarang. Dia masih anak-anak, belum bisa bikin anak!”
“Udah kamu tiduri, masih aja berdalih, hah!? Kalau dia masih anak di bawah umur, Mama akan tuntut kamu ke Komnas Perlindungan Anak dan Perempuan supaya kamu dipenjara dan dikeluarkan dari kepolisian!” sahut Tantri, ia masih memukuli Grandika menggunakan bantal.
“Jangan, Ma! Jangan! Mama sengaja mau hancurin karir anak sendiri?” seru Grandika.
“Kamu sendiri yang menghancurkan karir kamu. Anak di bawah umur kamu cabuli, hah!? Kamu pikir, mama akan diam aja kalau kamu sudah melecehkan perempuan? Mama kamu ini perempuan, kakak kamu juga perempuan! Jadi laki-laki, semaunya sendiri! Mama bakal lapor ke atasan kamu supaya kamu dipecat!” sahut Tantri dengan nada lebih tinggi.
“Jangan, Ma! Dia bukan anak di bawah umur. Sudah sembilan belas tahun. Mama nggak perlu repot-repot lapor ke atasanku!” pinta Grandika.
“Sembilan belas tahun sudah boleh menikah?” tanya Tantri sambil tersenyum.
Grandika mengangguk. “Tapi dia masih kuliah. Biarkan dia selesaikan kuliahnya dulu. Baru menikah.”
“Banyak yang kuliah setelah menikah.” Tantri mengalihkan pandangannya ke arah Yuri. “Siapa namamu?”
“Yurika, Tante ...” jawab Yuri lirih.
“Nama lengkapnya siapa?”
“Yurika aja.”
“Kuliahnya di mana? Jurusan apa?” tanya Tantri.
“Management Bisnis di Universitas Semarang, Tante.”
“Cocok! Cocok! Ini yang Mama cari. Menantu yang seperti ini!” seru Tantri dengan wajah sumringah.
“Ma, apaan sih!? Mama jangan hancurin rencanaku!” pinta Grandika berbisik.
“Yurika, apa status pernikahan bisa mengganggu kuliah kamu?” tanya Tantri sambil menatap wajah Yuri. Ia tak peduli dengan permintaan puteranya.
Yuri menggigit bibir sambil berpikir, kemudian ia menggeleng perlahan.
“Jadi, kamu nggak keberatan jadi menantu saya ‘kan?”
Yuri meringis menanggapi pertanyaan Tantri. “Saya masih terlalu muda, Tante. Takut kalau nggak bisa jadi istri yang baik.”
“Nah ... iya, Ma. Dia masih terlalu muda. Jadi istri polisi itu nggak gampang. Berat, Ma. Dia nggak akan kuat. Biarkan dia jadi pacarku aja dulu. Kalau nggak cocok, kami bisa berpisah dengan mudah. Gimana?”
“Kamu lagi nego sama Mama?” tanya Tantri sambil menatap tajam ke arah Grandika.
Grandika mengangguk.
“Yuri, apa kamu sebagai wanita ... nggak merasa dirugikan sama apa yang sudah diperbuat sama anak saya? Saya ini belain kamu sebagai wanita,” tanya Tantri.
Yuri menggeleng. Ia justru ingin berterima kasih karena Grandika telah membantunya mendapatkan biaya pengobatan untuk ibunya. Apa pun yang diinginkan Grandika, ia akan melakukannya sebagai balas budi. Termasuk ... menolak pernikahan. Mungkin, hubungan mereka hanya sebatas teman ranjang. Tidak lebih dari itu. Yuri sendiri tak berani berharap banyak.
Grandika tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Dia aja nggak mau aku nikahi, Ma. Kenapa Mama maksa aku nikahi dia? Kami baru aja pacaran. Nggak bisa langsung nikah.”
“Mama nggak setuju! Kalau kamu nggak mau bertanggung jawab dan cepat-cepat menikahi perempuan ini ... Mama akan lapor ke atasan kamu. Setidaknya, Mama bisa bikin kenaikan pangkat kamu tertunda. Syukur-syukur, bisa bikin kamu keluar dari kepolisian,” tutur Tantri.
“Ma, aku akan lakuin apa pun untuk Mama. Asal jangan mengusik pengabdianku untuk negara!” pinta Grandika.
“Kamu sudah mengabdi sama negara sampai tidak mengabdi sama orang tua kamu sendiri. Di kepolisian, diajarkan untuk durhaka sama orang tua?”
Grandika menggeleng. “Harus tetap taat sama orang tua!”
“Bagus! Kalau gitu, kalian harus menikah!” tegas Tantri sambil menyambar tas tangannya dan melangkah pergi.
“Tante, makan siang di sini dulu! Aku masak banyak,” pinta Yuri.
“Ma, tolong dengerin aku dulu!” pinta Grandika sambil mengejar langkah mamanya itu.
“Jangan panggil Tante! Panggil aku Mama Tantri!” pinta Tantri sambil menatap wajah Yuri.
Yuri mengangguk sambil tersenyum manis.
“Bagus! Mama suka anak yang penurut seperti kamu. Mama udah kenyang lihat sandiwara kalian ini. Mama tunggu di rumah malam ini!” pinta Tantri sambil melangkah keluar dari rumah apartemen milik Grandika.
Grandika menghela napas. Ia menoleh ke arah Yuri dan berjalan menghampiri wanita itu. “Kenapa kamu nggak nolak permintaan mamaku? Aku nggak mungkin nikahin kamu!”
“Aku sudah berusaha menolak. Tapi ... mama kamu maksa. Kamu aja kesulitan menghadapi dia, gimana dengan aku?” tanya Yuri.
“Haduh ...! Kamu cari cara, kek! Kamu tahu nggak ...?”
“Enggak,” sahut Yuri sambil menggeleng.
“Aku belum kelar ngomong!”
Yuri mengangguk.
“Kamu tahu ... jadi istri polisi itu nggak mudah. Kamu bakal jadi bhayangkari yang juga punya banyak tuntutan. Kamu nggak cocok jadi istri polisi!”
“Cocoknya jadi apa? Bukannya kamu udah beli aku?” tanya Yuri lirih.
“Jadi mainan doang!” sahut Grandika ketus.
Yuri menatap kesal ke arah Grandika. “Aku udah berusaha bersikap baik ke kamu. Kamu masih aja ketus kayak gini! Aku juga nggak mau jadi istri polisi kayak kamu! Mending jadi istri pengusaha yang banyak duit! Polisi itu nggak ada yang romantis! Galak, kasar, jutek, semaunya sendiri, nyebelin!” serunya sambil memukul meja makan yang ada di hadapannya. Kemudian, ia melangkah pergi.
“Heh, mau ke mana?” seru Grandika sambil menatap punggung Yuri yang sudah hampir keluar dari pintu rumahnya.
“Mau pulang!” sahut Yuri kesal.
“Kamu boleh pulang kalau kamu bisa ngembaliin uang yang aku pakai buat nyelamatkan kamu dari pria-p****************g itu! Kalau kamu nggak bisa balikin uangnya, jangan berharap bisa pergi dari aku!” tegas Grandika.
Yuri berbalik, ia menatap wajah Grandika sambil mengepalkan tangan erat-erat. Rasanya, ia ingin sekali menghancurkan wajah pria tampan berhati monster itu.
“Temani aku makan siang! Lima belas menit lagi, aku harus kembali dinas,” perintah Grandika.
Yuri menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Meski ia sangat kesal dengan Grandika, tapi ia juga berusaha untuk menahan emosinya dan melayani Grandika sebaik mungkin sebelum pria itu kembali bekerja.