“Jangan-jangan lo pergi sama dia fiooo?”
Aku terdiam sejenak mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan agar Lisa tidak salah paham.
“sorry Lis gu-“
“yaaaaaaaaaaaw gilaaih lo beneran jalan sama cowok itu ya? Hahaha uda gue duga lo pasti jadi ngedate kan” teriak Lisa kegirangan kali ini dia sudah berputar putar tidak tentu arah. Tapi malah membuat ku tenang ternyata dia tidak berfikir kalau aku pergi bersama kekasih nya malam itu.
Ikut tertawa canggung, aku membalas pelukan Lisa dan mencoba mengiyakan semua pemikiran di kepala kecilnya itu, sambil meminta maaf didalam hati ku. Ini hanya sementara aku tidak akan tega membohongi teman baik ku ini terus terusan kan. Aku harus menyiapkan semua dengan baik dan menjadikan kejutan ini sesuatu yang menyenangkan untuk Lisa dan dia bisa memaafkan aku nantinya.
Selesai mandi dan merapikan kamar aku bergegas menuju Toko roti ku, hari ini aku membukanya lebih pagi karena harus riset kue kue enak yang akan ku buat untuk acara kejutan itu. Lisa tentu saja sedang sibuk mempersiapkan banyak hal untuk pernikahannya.
Tadi pagi dia sempat berpamitan untuk pulang kampung karena ada beberapa berkas yang harus dia urus di kampung nya, tentu saja hal itu membuat aku sedikit tenang, karena semua kejutan itu bisa aku lakukan tanpa perlu bersembunyi.
Tringg
Pesan dari Damar. Dia menjelaskan bahwa akan mengantar Lisa ke kampung, semua urusan disini dia serahkan pada ku.
Aku menghela nafas, mereka asik asik pacaran dan disini aku harus memikirkan semua nya tema, makanan, dan banyak lagi.
2 hari kemudian.
Kringg
“Selamat datan~g” ucap ku riang menyambut tamu, tetapi yang kulihat adalah Damar, pria itu membawakan bungkusan bunga tulip indah. Aku menatap karyawan ku yang sudah terkikik melihat ku. Aku hanya menyuruh mereka melanjutkan pekerjaan mereka.
“ mas Damar? Cepet banget pulang nya mas?” Tanya ku cepat sambil mengajak nya ke dalam ruangan ku.
“Ya ini hal baguskan kita bisa mengerjakan proyek ini tanpa perlu sembunyi, jadi aku berharap semua nya cepat di lakukan Fio” jawab Damar sambil memberikan bungkusan bunga itu pada ku. Aku menerima nya dengan tatapan bingung. Apa maksudnya ini, apakah tidak masalah aku menerima bunga dari kekasih teman ku.
Sebelum aku bertanya Damar sudah terlebih dahulu menjelaskan, dia ingin kue nya di buat membentuk bunga tulip ini karena ada sesuatu yang berarti di balik bunga ini untuk hubungan mereka.
Lagi lagi aku salah paham. Kami duduk dan membahas beberapa konsep serta tema untuk kejutan itu.
“Rasanya jari kamu mirip dengan Lisa, saat nanti aku butuh apakah kamu mau menemani aku pergi mencari cincin?”
Aku menerima permintaan itu, toh tidak ada salahnya kan aku hanya menemani dia bukan jalan bersama nya.
Ku tutup toko lebih cepat kali ini, karena membahas banyak hal membuat ku lelah, aku ingin menghabiskan sisa waktu hari ini di salon ke sayangan ku.
“Yang ini bagus mas” jemari lentik ku mengarah ke Damar, cincin berlian ini cukup sederhana, tetapi sangat cocok dengan kepribadian Lisa yang juga sederhana. Rasanya mereka akan jadi sesuatu yang indah jika di pakai di jemarinya.
Damar menyentuh tangan ku mencoba melihat cincin yang kini ada di jari manis ku. Sentuhan hangat itu membuat ku ter gugah, rasanya ada sesuatu yang aneh. Aku menepisnya dan berusaha menjadi profesional. Bagaimana pun disini aku hanya memberikan bantuan saja bukan yang lainnya.
“Benar ini cantik sekali jika di jari Lisa, tetapi di jemari mu kenapa terlihat biasa saja?” Tanya nya sembari menatap wajah ku.
“Tentu, karena aku berbeda dengan Lisa” ujar ku percaya diri. Jangan tanyakan kenarsisan ku, aku benar benar sangat merasa mencintai diriku sendiri, jadi tidak ada yang perlu meragukan hal itu. Damar tertegun sesaat kemudian menyadari jawaban ku yang sangat nyeleneh. Dia tertawa kecil kemudian mengangguk setuju.
“Benar kamu benar Fio, kamu dan Lisa sangat berbeda, kapan-kapan aku akan bertanya kepada Lisa bagaimana kalian bisa berteman dekat” ujarnya, setelah itu fokusnya kembali kepada banya perhiasan yang ada di depan mata.
Aku berdehem, jantung ku seperti berdegup kencang saat melihat tawa itu, tidak aku tidak punya perasaan apapun.
Selesai membeli cincin, aku dan Damar memutuskan untuk makan siang yng sudah terlambat, kami memutuskan makan di sebuah resto yang terlihat memiliki menu terbaru.
“Steak!” Kami hampir bersamaan mengatakannya, saat merngetahui itu aku tertawa kecil, kamu seolah menemukan harta karun karena begitu senang nya.
“Kamu suka steak Fio?”
Mengangguk penuh semangat tangan ku mengepal di bawah dagu.
“Mas steak itu adalah makanan paling enak yang pernah aku makan, diantara banyaknya cara memasak daging aku memilih steak untuk cara masak yang enak” aku tentu senang sekali memikirkan bisa bercerita bagaimana aku mencintai steak. Karena Lisa lebih menyukai ramen atau udon selera kami benar-benar berbeda jauh.
“Lisa gak suka steak mas, katanya bikin enek, duh padahal aku lebih enek nemenin dia makan mie miean terus bosen kan mas!” Kali ini aku sedikit menarik Lisa di obrolan kami, tidak bukan karena aku menginginkan nya, hanya agar kami sama-sama ingat, bahwa kami bukan sepasang kekasih.
“Iya, Lisa selalu makan mie, heran dia selalu bisa ya gak bosen.” Damar menjawab sambil memotong daging nya, dia terlihat cekatan. Kali ini gantian aku yang memotong, tapi entah karena grogi atau apa, sepertinya aku kesulitan memotong daging ini.
Damar melihat ku kesulitan, mengambil piring ku dan menukar dengan miliknya.
“Eh mas gak papa aku bisa kok” ucap ku tak enak.
“Aku cuman bantuin kamu aja Fio, lagian ini bukan sesuatu yang istimewa kan” sahut Damar yang setelahnya langsung fokus dengan makanan nya membiarkan aku dengan kegelisahan hatiku.
Siang itu adalah awal permulaaan segalanya berbeda bagi Fiona, wanita yang sudah lama tidak berhubungan dengan lelaki yang bisa memperlakukan nya dengan manis.
Malam semakin larut, Fiona tidak kunjung beranjak dari sofa nya, keramaian yang ada tidak serta merta membuatnya terusik sudah 1 minggu ini dia sibuk dengan jati diri nya sendiri.
“Fioo ayoo donggg gerak ihh lo ngapain kesini cuman buat bengong gajelasss!” Suara musik yang mengalun menelan semua suara teman-teman Fiona. Sementara Orang yang di tanyai seakan tidak perduli dia hanya ingin membuang pikiran kusut nya.
“huaaaaaaaaaa!” Teriakan Fiona membuat semua orang menoleh, Anggrek yng melihat itu segera menghampiri teman nya. Menepuk nepuk pipi Fiona dan berusaha mengecek minumannya, yang sialnya gadis itu hanya minum setengah gelas.
“Oiii lo mabok? Fioooo aneh ih bisanya juga 1 botol sendiri, kenapa lo lagi ada problem?” Tanya Anggrek sambil menyulut api.
Pertanyaan beruntung yang tidak bisa di cerna Fiona dia melihat ke arah lampu yang berkelip menusuk matanya, sampai seseorang yang berdiri menghalangi pandangannya.
Fiona menatap wajah itu, di sorot lampu yang temaram, dia menangkap wajah seseorang yang dia pikirkan sejak 1 minggu ini.
“Kamu baik baik aja Fio?” Suara merdu itu menelusup telinga Fiona, yang tanpa sadar membawa tubuhnya jatuh tepat di pelukan lelaki itu.
Tubuh hangat Fiona terasa di Tubuh Damar, lelaki itu bergegas meminta izin membawa Fiona keluar dari tempat ini, tidak baik jika dibiarkan entah apa yng akan terjadi kepada gadis cantik ini, tubuhnya tidak terbalut kain yang cukup, sehingga menampakan sebagian besar kulit putihnya. Damar menatap kedepan tidak berani melihat kearah tubuh yang sedang di gendong nya.
Setelah memasukan Fiona kedalam mobil Damar mencari nomor telfon kekasih nya, dia ingin meminta Lisa untuk memastikan Fiona aman di apartemen.
“Halo sayang?” Suara mungil Lisa terdengar.
“Lisa kamu dimana? Aku ketemu Fio di club kayak nya dia sakit jadi aku ingin mengantar dia pulang”
“Aaa sayang aku juga lagi ga di apart,saudara aku pada kumpul di rumah nenek, dan aku baru aja berangkat ini baru mau mengabari kamu” jawaban di ujung telfon membuat Damar bingung, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Fio saat sendirian.
“Aku telfon bibi nya Fio ya sayang, oh iya kamu antar aja masuk apart nanti aku kirimin password nya okey sayang”
Jawaban itu menjadi penutup telfon mereka, Damar masuk ke dalam mobil, menatap gadis yang sedang tertidur di kursi penumpang. Matanya melirik kaki Fio yang terbuka, kemudian dia mengambil kemeja yang biasa dia simpan dan bergegas menutup tubuh Fiona.
Sesaat mata mereka saling menatap, Fiona terlihat menggumam kan sesuatu, membuat Damar mendekat kan wajah nya untuk medengarkan apa yang dia gumamkan.
“Mhhm” cup.