Mey berdiri di depan pintu dan mengetuknya dengan kasar, bahkan sangat brutal dan tak beradab. Saat sang pemilik rumah membukakan pintu. Dia langsung menghujamkan tamparan di pipi kanan Byan. “Itu hadiah buat lo dari Kalila!” ucapnya. Byan meringis sembari memegangi pipinya sendiri. Mey kemudian mendekat dan melayangkan tamparan kembali di pipi kiri pria itu. “Ini buat lo yang pengecut!” Byan masih tergemap dengan apa yang dia dapatkan, dia bukan tidak bisa berkelahi, hanya saja Mey bukan lawannya. Mungkin memang sedari tadi Mey menahan amarah dan baru bisa meluapkannya sekarang. Namun, otak Byan terlalu dangkal untuk mengerti apa maksud Mey menamparnya sampai dua kali. Mey masuk ke rumah Byan tanpa permisi. Pesan yang Mey sampaikan pada Angga ternyata benar-benar sampai pada Byan dan

