Kelakuan gila Arsenio memang tidak bisa dibiarkan. Semakin Kalila diam semakin pria itu menjadi-jadi. Kalila menatap Arsenio yang berdiri di depan kampusnya, betapa santainya Arsenio menanti, kedua tangannya dilipat di d*da, sementara punggungnya bersandar pada badan mobil. Kalila mendengkus. Gila saja jika dia mau pulang dengan pria aneh itu. Apa yang harus Kalila lakukan, sementara Arsenio pasti melihatnya keluar dari gedung kampus menuju parkiran. “Ayo dong Kalila … berpikir!” Kalila merasa resah, dia berjalan mondar-mandir. “Duluan, La.” Kanaya dan dua temannya melewati Kalila. “Tunggu.” Kalila mengikuti mereka menyeimbangkan langkahnya dengan Kanaya dan kedua temannya. Semoga saja Arsenio memang tidak melihatnya. Pria itu menyipitkan mata. Dia hafal betul postur tubuh Kalila

