Devi bersiap menceritakan apa masalahnya selama ini yang membuatnya diam dan tak ingin berbicara dengan orang lain. Namun, mereka berdua sepakat untuk mencuci muka dahulu, lalu mengeringkan wajah.
Sebelum itu, Devi menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia menatap Azila, sepertinya sudah saatnya ia menceritakan hal ini, mengingat untuk membalas kebaikan Azila yang sudah membantunya bangkit sedikit demi sedikit.
"Lo tau, kan, mama gue seorang guru?"
"Iya. Bu Dina, kan?"
"Nah, iya. Papaku juga seorang guru, Zila."
"Wah, kedua orang tua kamu berprofesi jadi guru, ya?"
"Iya."
Azila terkagum. Menurutnya pasti menyenangkan jika orang tua kita adalah guru, karena bisa belajar di rumah bersama orang tua.
"Tapi sebab itulah gue dan Kakak gue merasa tidak dapat kasih sayang sebagai orang tua." Devi tersenyum miris. Ia mengelus kalung yang melingkar di dadanya itu pelan.
Azila hanya diam, tak merespons. Ia akan mendengarkan cerita Devi dahulu.
"Papa dan Mama berperan menjadi guru di sekolah, begitupun di rumah. Gue dan Kak Ina diperlakukan sebagai murid juga, bukan sebagai anak mereka." Devi kembali menyunggingkan senyum mirisnya.
Ingatannya pun kembali pada kejadian enam bulan yang lalu saat ia melihat kakaknya mati-matian belajar untuk ujian besok.
"Kak, jangan dipaksain. Kakak istirahat aja," ucap Devi mengkhawatirkan Ina, karena terus saja tak berhenti belajar dari kemarin, bahkan Ina tak tidur semalam.
"Kakak juga belum makan, kan? Nanti Kakak sakit," ucap Devi.
"Gapapa, Dev. Kakak masih kuat, kok. Kamu tau sendiri, kan, ancamannya untuk Kakak?"
"Tapi Mama sama Papa udah gila, Kak. Masa nantangin Kakak untuk dapat juara satu tingkat nasional! Itu terlalu berlebihan, Kak."
"Gak pa-pa, Dev. Kamu tenang aja. Kakak pasti bisa."
"Ya, masa ancamannya kalau Kakak nggak bisa, Kakak bakal diusir dari rumah? Apa nggak terlalu berlebihan, tuh, Kak. Pokoknya aku bakal bilang sama Mama dan Papa."
Devi hendak pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Ina. Devi terkejut menatap mata Ina yang sudah bak mata panda.
"Kamu tau sendiri Kakak cuma anak pungut."
"Nggak! Kakak bukan anak pungut! Kakak adalah Kakakku."
Ina tersenyum kecil. "Ini sebagai balas budi Kakak, Dev. Jadi, Kakak nggak akan nyerah."
"Aku tau Kakak pintar, tapi terlalu ambis untuk mendapatkan kesempurnaan itu juga bukan komepetisi yang baik, Kak."
Ina kembali tersenyum. "Kakak hanya butuh membuktikan aja, kan, kalau Kakak bisa? Mama dan Papa pasti bangga."
"Tapi, Kak ...."
"Mending kamu tidur, gih, udah malam."
Sebenarnya itulah ucapan yang tepat untuk Devi berikan pada Ina. Namun, Devi menyerah. Ina jika sudah bertekad tak akan pantang menyerah. Ina memiliki tekad yang kuat.
Selama ini nilainya pun di atas rata-rata. Mendapatkan nilai dengan rata-rata terendah 95 sudah cukup membuktikan jika Ina adalah anak yang pintar.
Orang tua Devi memang sudah kelewatan. Akan tetapi, mau melawan pun Devi tak sanggup.
Saatnya waktu itu pun tiba. Di mana pengumuman hasil ujian nasional. Keluarga Devi pun duduk menyaksikan hasil yang mereka tunggu-tunggu.
Tangan Ina mendingin, Devi pun menggenggam erat tangan kakaknya itu.
"Tau, kan, Ina apa akibatnya jika kamu nggak berhasil?" ancam Dina yang selalu menghantui Ina selama ini.
"Ya. Kami nggak main-main, ya. Awas kalau kamu buat malu kami," sahut Ajir pula.
Ina hanya bisa mengangguk. Badannya sangat menegang, jantungnya berdebar kencang. Devi semakin menguatkan Ina.
Hasilnya pun keluar. Semua mata tertuju pada laptop. Ternyata ....
"Ina ... kamu ...."
Ina tak berani menatap layar. Ia menutup mata dengan kedua tangannya. Devi yang sudah melihat hasilnya langsung memekik girang. Ia pun memeluk Ina erat.
"Kak Ina berhasil!" teriak Devi kencang. Ina terkejut bukan main. Ia pun perlahan membuka mata. Ternyata benar ... nama Hinata Aurin berada pada urutan paling atas.
"Mama sama Papa bangga sama kamu," ucap kedua orang tuanya. Terbit senyum manis di wajah keduanya.
Akhirnya ... akhirnya Ina bisa melihat senyum tulus orang tuanya.
"Sebagai hadiahnya besok kita jalan-jalan," ucap Ajir.
"Yey!" teriak Devi.
Harusnya esok adalah hari yang paling membahagiakan, malah menjadi sebaliknya.
Hari itu adalah hari paling menyakitkan bagi Devi, yang mana hari itu saat ia ke kamar Ina untuk membangunkan kakaknya itu, guna bersiap-siap. Namun, yang didapatinya adalah, Ina sudah tertidur selamanya.
Azila mengusap pundak Devi pelan, membuat gadis itu tersentak.
"Ternyata perjuangannya berakhir di titik akhir merupakan perjuangan terakhir dalam hidupnya, Zila," ucap Devi sudah terisak.
"Terus, orang tua lo nyesel nggak?"
"Nyesel ga nyesel gue nggak peduli, yang pasti gue benci sama mereka karena nggak pernah mikirin Kak Ina selama ini. Yang dipikirin hanyalah gelar, dan pujian orang."
"Jadi, itu alasan lo nggak mau buka suara?"
"Hm. Gue masih ga bisa nerima Kak Ina pergi gitu aja, setelah dia mencapai apa yang diinginkan orang tua gue."
Azila jadi ikut sedih mendengarkannya. Air matanya pun ikut turun.
"Mulai saat ini, lo harus bangkit. Lo harus tetap semangat dan jadi kebanggan Kakak lo di atas sana. Kakak lo pasti ingin adeknya sukses."
"Gue gak sepintar Kak Ina dan ga sebodoh Kak Ina juga yang mau diperalat orang tua gue."
"Justru lo harus nunjukin kalau lo lebih sukses daripada orang tua lo, agar lo ga diperalat kayak Kak Ina."
Devi mencoba menganalisis maksud ucapan Azila. Ia pun paham maksudnya.
"Mulai sekarang, kita adalah sahabat. Lo jangan sungkan berbagi cerita sama gue."
"Makasih banyak Azila."
"Santuy, ah!"
Devi tersenyum. Akhirnya ia bertemu dengan orang-orang yang benar mau berteman dengannya.
***
Reyhan akhirnya siuman. Namun, tetap saja ia tak mau berbicara dahulu dengan kedua sahabatnya itu, terutama Azela.
Sudahlah menamparnya, memukulnya sampai pingsan pula.
"Napa, mau dendam lo ama gue?" tanya Azela santainya, sembari memakan camilan yang diambilnya di dapur.
Azela lalu bangkit. "Mumpung lo udah bangun. Gue pulang dulu."
Reyhan hanya bergumam pelan, tanpa melirik ke arah Azela.
Mata Azela beralih menatap Agil yang malah tertidur di sofa.
"Woi, Gil! Lo pulang, nggak?"
"Mmm," gumamnya masih dengan mata terpejam.
"Ya udahlah, kalau lo mau nginep sini," ucap Azela. Toh, sudah biasa juga Agil tidur di sini.
"Gue pulang!" ucap Azela pamit sekali lagi pada Reyhan yang tetap diam tak menjawab.
Setelah Azela keluar dari kamarnya. Reyhan mengembuskan napas pelan.
"Azela ngeri banget, njir," ucapnya mengelus pipinya yang sudah memerah dan sedikit membengkak.
"But, thanks Azela." Reyhan tersenyum kecil. Buat apa ia dendam pada orang yang telah menolongnya.
Reyhan harusnya berhutang budi pada Azela.
***