Gimmick

1036 Kata
Hari ini adalah hari terakhir syuting film yang dimainkan oleh Fatan. Sang sutradara, crew, semua aktor dan akris pun berkumpul untuk mengadakan syukuran kecil, karena sudah selesai. Sisanya hanya menunggu sampai film tayang di bioskop. Fatan bernapas lega. Ia melirik Zea di sampingnya yang tampak bahagia. Ah, sudah ratusan adegan mesra dengan gadis itu, apakah Zea baper olehnya? "Baik, kepada Fatan. Apakah ada pesan yang ingin disampaikan?" Fatan berdeham pelan. "Saya cuma mau bilang terima kasih kepada Om Tio, Om Arman, Kak Sutri, dan semua crew. Semoga hasilnya sesuai yang kita harapkan." "Aamiin," sahut semuanya. "Zea mungkin mau menambahkan?" tanya Arman. "Hmm ya, terima kasih kepada semuanya. Aku cuma berharap semoga filmnya bisa tayanh secepatnya dan disukai banyak orang. Dan, semoga hubunganku dengan Fatan semakin baik ke depannya." "Aamiin," sahut crew yang menjadi shipper mereka paling kencang. Fatan hanya diam dengan ekspresi datarnya. Kenapa banyak sekali yang menjodoh-jodohkan mereka di sini? Sepertinya para crew sudah teracuni oleh gosip Zea. "Baik, untuk syukuran ini. Mari kita sama-sama berdoa." Usai berdoa. Semuanya pun bubar dan menikmati tumpeng yang sudah disediakan. Fatan hanya menyicipi sedikit, setelah itu ia duduk di pojokan, seperti biasa, jauh dari keramaian. Ternyata ... Zea mengikutinya. Ah, Fatan malas sekali meladeni gadis itu. "Hai, Fatan. Nih, untuk kamu," ucap Zea memberikan sepiring tumpeng kepadanya. "Thanks, tapi gue udah kenyang." "Ambil aja dulu." Zea lalu menyodorkan piring itu ke Fatan, yang terpaksa dipegang oleh cowok itu. Tiba-tiba Zea mengeluarkan HP-nya, lalu berselifie ria dengan Fatan yang sedang memegang tumpeng. Tak salah lagi. Pasti Zea ingin membuat gosip baru. Setelah selesai mengambil foto. Zea kembali menyimpan HP-nya. "Makasih, Fatan!" Fatan hanya diam. Ia pun meletakkan piring yang berisi tumpeng itu ke atas meja di sampingnya. "Lo mau buat gosip apa lagi?" "Nggak, kok, ih, kamu mah ... ini nanti aku post, hanya untuk perayaan syukuran syuting kita udah berakhir kok." Fatan menghela napas. Ia mengabaikan Zea. Tangannya pun mengeluarkan HP dari sakunya, lebih baik Fatan bermain game saja. Lagi pula sebenarnya ia ingin cepat-cepat pulang, tetapi Om Tio belum memperbolehkan semuanya pulang. "Fatan." Ternyata Zea masih di sana. Kenapa tidak pergi saja, sih? batin Fatan kesal. "Apa?" "Tipe cewek kamu, tuh, gimana, sih?" "Ga ada." "Ah, masa?" "Hm." "Terus, cewek yang kamu bilang kemaren tuh, gimana?" "Gue nggam mau bahas itu. Lo ganggu aja, gue nggak konsen ngegame." Pedas. Sudah biasa. Akan tetapi, Zea tak menyerah. "Masa kamu nggak baper sedikit pun sama aku, Fatan? Apa aku kurang cantik? Kurang imut? Aku kurang apalagi coba?" "Hm," gumam Fatan malas. Siapa pun tolong suruh Zea pergi, karena Fatan sudah muak. "Kamu beneran nggak tertarik sama aku, Fatan?" "Zea, kalau lo ...." Fatan terdiam, menatap Zea yang sudah berlinang air mata. Oh, no! Bukankah syuting sudah selesai? Kenapa Zea masih saja berakting. Mata Fatan tak sengaja menatap segerombolan wartawan yang hendak menghampiri mereka. Gawat! Saat wartawan itu datang. Buru-buru Fatan menarik Zea ke pelukannya. Ia mendekapnya pelan. "Wah. Fatan dan Zea. Kalian sedang apa?" "Apakah benar, syutingnya sudah berakhir?" "Kira-kira kapan filmnya akan tayang?" "Apa kesan dan pesan Fatan untuk film ini?" "Apa Fatan dan Zea berpacaran di dunia nyata?" Fatan menghela napas, saat diserbu banyak pertanyaan. Ia masih mendekap Zea. Posisinya Zea sekarang adalah membelakangi wartawan. Maka dari itu, Fatan tak ingin Zea membalikkan badannya menatap wartawan tersebut. "Semua lancar. Untuk tanggal kapan tayangnya ditunggu saja," jawab Fatan seadanya saja. "Lalu, ada apa dengan Zea?" "Kalian sedang berpelukan?" "Mbak Zea boleh menghadap ke kamera sebentar?" "Wah, apa kalian sedang menunjukan adegan di filmnya?" "Apa benar kalian memang sudah cinlok?" Argh! Semakin banyak timbul pertanyaan-pertanyaan yang membuat Fatan kualahan. Namun, untung saja Om Tio datang mengalihkan perhatian. "Semuanya. Saya akan jawab pertanyaan kalian." Wartawan itu pun beralih menggerubungi Om Tio. Inilah kesempatan Fatan untuk kabur. Ia menarik Zea untuk pergi dari situ. Setelah dirasa aman. Fatan melepaskan genggamannya. Zea menunduk. Bibirnya pun tertarik membentuk senyuman. "Kamu ngelakuin itu ...." "Jangan salah paham," sela Fatan langsung. "Gue cuma nggak mau, nanti orang berasumsi aneh, kalau ngeliat lo nangis depan gue." "Tapi dengan cara kamu meluk aku kaya tadi, bukannya membuat asumsi fans semakin bertambah, jika kita berpacaran?" "Gue terpaksa." "Walaupun gimmick, tapi aku bahagia banget. Makasih, Fatan," ucap Zea dengan mata berbinar-binar. "Biasakan akting pada tempatnya." "Aku nggak akting, kok, tadi aku beneran nangis." "Lo pikir gue siapa, nggak bisa bedain mana nangis beneran dan mana yang palsu," dengkus Fatan. "Akhirnya aku bisa lihat kamu gini, gapapa kamu marah, kesal sama aku, yang penting nggak dingin terus." Fatan menghela napas pelan. Zea memang seperti itu, mau bagaimana lagi? "Sebentar lagi, pasti gosip kita pacaran melebar." Fatan hanya diam. Tak peduli lagi dengan gosip. Biarlah gosip menjadi gosip, terpenting bukan itu kebenarannya. *** Ternyata benar. Gosip tadi pun sudah melebar di kalangan fans, tak terkecuali Azila yang juga sudah melihat gosip itu. "OH, NOOO!" teriak Azila menggemparkan rumah. Azela menutup telinganya, yang terasa berdengung. "AZEL! LO TAU, NGGAK?" teriak Azila histeris. "Nggak." "Ish! Entar dulu! Tau nggak. Kak Fatan pacaran sama si Zea lawan mainnya itu. AAAAA! Kak Fatan tega ngancurin hati gue!" Azila tanpa segan melemparkan HPnya begitu saja. Untung jatuhnya masih di sofa, bukan ke lantai. "Gosip?' "Iya gosip! Tapi gatau itu gosip bener atau nggak, yang pasti yang gue lihat Kak Fatan meluk si Zea itu di luar syuting!" pekik Azila tak terima. Alis Azela betaut mengernyit heran. Benarkah? Lalu, pernyataan Fatan tentang perasaannya waktu itu, apa? Apa Fatan hanya main-main. "Udah ada klarifikasi dari Kak Fatan lo itu belum?" "Belum, sih, tapi gosip ini doang udah bikin gue patan hati tau, nggak." "Gue sebenarnya bingung, lo sukanya sama Hannan atau Fatan, sih?" tanya Azela. "Ya, dua-duanyalah." "Eh, mana boleh. Pilih salah satu. Saran gue pilih Hannan aja. Fatan terlalu susah lo gapai." "Dih, Azel kok gitu ngomongnya? Sejak kapan seorang Azel bisa ngomong gitu? Bisa milihin cowok buat saudari kembarnya, ha? Biasanya Azel juga bodo amatan." Azela hanya bisa menghela napas pasrah. "Serba salah," dengkusnya pelan. "Nggak mau tau, gue harus chat Kak Fatan dan tanyain langsung!" "Eh, tapi kalau lo spam dan dia risih, bisa-bisanya dia blok lo, Zila." "Huaaa ... iya juga, sih! Terus gimana?" "Sabar, ya," ucap Azela yang membuat Azila mendengkus. "Gosip panas apa, sih, ini!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN