Pertemuan

1136 Kata
Kaki mungil gadis kecil itu berlari-lari di sekitaran taman. Gelak tawa cekikikannya terdengar menggemaskan. Gadis berumur tujuh tahun itu bernama Azela Fathia. "Jangan lari-lari, Non. Nanti jatuh," ucap Baby Sitter yang menjaga Azela. Namun, ia masih asyik berlari mengitari taman. Taman tidak terlalu ramai, karena hari masih pagi. Hanya ada beberapa pengunjung yang duduk-duduk bersantai. Masih di tempat yang sama, tampak anak kecil laki-laki yang sedang menggowes sepeda. Ia adalah Fatan Alvano. Fatan masih belajar menaiki sepeda. Maka dari itu, ia memilih taman ini untuk tempat belajarnya, karena lapangannya cukup luas untuk berkeliling. Namun, tiba-tiba rantai sepeda Fatan putus membuat ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh ke samping. "Aduh," ringis Fatan pelan. Ia merasakan lututnya perih karena tergores. Sebuah tangan terulur di depan Fatan membuat laki-laki itu menatap kepada sang pemilik tangan. Tampak gadis kecil cantik dengan bando di kepalanya. Tanpa pikir panjang Fatan segera menerima uluran tangan gadis kecil itu. "Terima kasih," ucap Fatan. Azela mengangguk, lalu langsung pergi dari sana. Ya, memang gadis yang sudah menolong Fatan adalah Azela. "Eh, iya. Nama kamu siapa?" tanya Fatan yang sudah terlambat, karena gadis itu sudah pergi. "Fatan! Fatan ... kamu gak pa-pa, Sayang?" tanya Audi—tante Fatan khawatir. "Fatan gak pa-pa, Tante." "Ya udah. Kita pulang sekarang, yuk!" Sejak saat itu, Fatan tak pernah melupakan gadis kecil yang sudah menolongnya. Walaupun cuma uluran tangan, tetapi tidak akan dilupakan oleh Fatan. *** Satu minggu kemudian. Berharap bisa bertemu lagi dengan gadis kecil itu, ternyata harapan Fatan pupus, karena sudah satu minggu ia datang ke taman untuk mencarinya, tetapi tidak ada tanda-tanda gadis itu menampakkan batang hidungnya. "Fatan, kamu ikut Tante, yuk!" ajak Audi menarik tangan Fatan. "Ke mana, Tan?" "Ke Mall. Nanti sekalian kita nonton, deh," tawar Audi. "Hm ... oke, Tan." Fatan sebenarnya tidak terlalu menyukai keramaian. Ia memilih duduk saja menunggu Audi yang sedang memilih baju. "Aduh." Suara itu langsung mengalihkan perhatian Fatan. Ia menoleh ke asal suara, tampak gadis kecil yang terjatuh. Buru-buru Fatan bangkit untuk membantunya. Namun, gadis itu sudah ditolong oleh pria dewasa—mungkin ayahnya. Selang beberapa detik, mata Fatan melebar saat mengetahui gadis kecil itu adalah gadis yang sudah menolongnya waktu itu. Fatan segera mendekati gadis itu, tetapi Fatan kembali kehilangan jejak, karena gadis itu sudah pergi. "Argh, telat lagi," ucap Fatan kesal. Namun, kaki Fatan terasa sedang menginjak sesuatu. Ia langsung menatap ke bawah. Ada mainan kunci yang langsung diambil oleh Fatan. "Apa jangan-jangan ini punya dia?" tanya Fatan. Ia harus mengejar gadis itu dan mengembalikan mainan kuncinya. "Fatan, kamu mau ke mana?" Suara Audi menghentikan langkah Fatan. Ya, sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat. *** "Pa, kayaknya ada yang ketinggalan," ucap Azela menarik tangan Daniel. "Ketinggalan di mana, Sayang?" "Di Mall, Pa. Ayo, balik lagi. Kayaknya mainan kunci diary Azel jatuh deh, Pa." "Tapi kita udah lumayan jauh, Sayang. Ini udah mau sampe rumah. Gimana kalau Papa beliin mainan kunci yang baru aja." "Tapi-- itu ...." "Nanti Papa beliin beserta diary baru untuk kamu." Azela akhirnya menghela napas saja. Lagi pula, jika ia kembali ke Mall belum tentu bisa mendapatkan mainan kunci itu. *** Tak terasa enam bulan berlalu dengan cepat. Fatan menatap mainan kunci berbentuk kristal di tangannya. Fatan masih dibuat penasaran dengan nama gadis yang sudah ia temukan dua kali itu. Entah kenapa Fatan selalu saja terlambat menanyakan namanya. "Fatan. Udah siap?" tanya Audi sambil menarik kopernya. "Udah, Tan." "Ya udah, ayo! Nanti kita ketinggalan pesawat, loh," ucap Audi menarik Fatan. Mereka akan pergi berlibur ke luar negeri. Audi ingin mengajak Fatan jalan-jalan, sebagai hadiah karena bocah kecil tampan itu baru saja memenangkan lomba nyanyi tingkat provinsi. Fatan menyimpan mainan kunci itu di dalam tasnya. Ia lalu duduk di samping Audi sembari menunggu. "Tali sepatu kamu lepas." Sebuah suara berasal dari samping Fatan. Seorang gadis kecil berbulu mata lentik itu tersenyum saat Fatan menoleh ke arahnya. Senyum manis yang diperlihatkan padanya membuat Fatan terpesona. Gadis itu sangat cantik dan menggemaskan. Fatan segera mengerjapkan matanya, lalu mengalihkan pandangannya. Ia segera mengikat tali sepatunya yang lepas. Beberapa detik kemudian Fatan tersadar jika gadis yang berbicara dengannya tadi adalah gadis yang ia temui enam bulan yang lalu. Fatan kembali menoleh ke samping. Namun, gadis itu tidak ada lagi di sebelahnya. "Argh! Telat lagi," ucap Fatan memukul dahinya kesal. Harapan Fatan hanya satu. Semoga ia bertemu dengan gadis itu lagi. Ia bertekad, jika dipertemukan kembali, maka Fatan tidak akan melepaskan gadis itu pergi lagi sebelum mereka berkenalan. *** Berbicara mengenai waktu mungkin tidak akan habisnya, karena waktu terus berjalan dengan cepat. Tak terasa tujun tahun sudah berlalu sejak saat itu. Sejak Fatan bertemu dengan gadis yang ia nobatkan sebagai gadis impiannya. Selama tujuh tahun itu ia tak pernah bertemu lagi dengan gadis impiannya. Kini, Fatan sudah berumur sembilan belas tahun. Ia pun sudah menjadi seorang mahasiswa di salah satu kampus di Jakarta. "Woi, ngelamun aja lo. Hati-hati kesambet," ucap Deni—sahabat Fatan. "Apaan, sih." Deni menarik kursi di hadapan Fatan, lalu duduk di sana. Mereka sedang berada di kantin. "Lo datang ke acara reuni, kan?" tanya Deni menyodorkan sebuah undangan pada Fatan. "Nggak tertarik." "Ayolah, Bro. Lo dapat undangan khusus, kan? Adik-adik kelas pasti banyak yang nge-fans sama lo." "Lihat nanti aja," ucap Fatan. Pria itu lalu pergi meninggalkan Deni. Ia harus menjemput Audi di bandara. Tantenya itu kembali ke Jakarta setelah lima bulan berada di Bali menyelesaikan pekerjaannya. *** Sebelum ke bandara, Fatan pergi ke toko bunga terlebih dahulu. Ia ingin memberikan bunga itu pada Audi sebagai sambutannya. Saat tangan Fatan menyentuh satu buket bunga mawar, sebuah tangan lain juga menyentuh bunga itu. Fatan menoleh melihat sang pemilik tangan. Mata Fatan langsung bertatapan dengan mata gadis itu. Jantung Fatan berdebar kencang saat melihat muka gadis itu yang tidak asing. "Ka--kamu?" Belum sempat Fatan menyelesaikan ucapannya, gadis itu langsung menyela. "OMG, Kak Fatan? Aaaa, akhirnya aku ketemu kak Fatan juga!" Gadis itu segera memeluk Fatan yang membuat pria itu terkejut. "Apa kabar, Kak?" tanya gadis itu setelah melepaskan pelukannya. "Baik." Fatan menggaruk tengkuhnya pelan. Apakah benar gadis ini adalah gadis impiannya yang selama ini ia cari? "Nama kamu siapa?" tanya Fatan. Ia tak mau hilang kesempatan lagi. Gadis itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Fatan. "Perkenalkan, namaku Azila." Gadis itu tersenyum. Fatan menatap senyum itu. Benar. Senyum itu adalah senyum yang ia lihat tujuh tahun yang lalu. Fatan sangat yakin jika Azila adalah gadis impiannya. "Zila, udah? Lama banget, sih," ucap seorang gadis yang baru datang langsung menarik tangan Azila. Gadis itu memakai topi dan masker yang menutupi wajahnya, sehingga Fatan tidak bisa melihat wajah gadis itu. "Dadaa, Kak Fatan!" teriak Azila melambaikan tangannya setelah berjalan menjauhi Fatan. "Azila. Ternyata nama gadis impianku Azila," ucap Fatan tersenyum puas. Akhirnya, setelah sekian lama. Ia kembali bertemu dengan gadis itu. Andai saja Fatan tahu, jika gadis yang memakai topi itu adalah Azela—gadis yang sebenarnya ia cari. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN