Ketemu Lagi

981 Kata
Satu minggu sudah sejak kejadian misi membantu Reyhan itu. Sekarang, dengan bahagia Reyhan mengatakan jika orang tuanya sudah damai dan keluar dari masalah. Reyhan pun mentraktir Agil dan Azela sebagai rasa syukurnya. "Terus ... terus, gimana? Apa yang terjadi dengan Om Grani?" tanya Azela. "Ditonjok sama Ayah gue." Reyhan tertawa puas. "Lo tau nggak alasannya apa?" "Ya mana gue gau. Emang apa?" tanya Azela. "Om Grani iri sama bokap gue. Sebenarnya dia dulu pernah suka juga sama nyokap gue, tapi tertolak. Terus, belum lagi keluarga besar gue selalu banding-bandingin bokap sama Om Grani, ya ... makanya dia buat hidup bokap gue gak tenang. Balas dendam kali, ya. Belum lagi, dia ditinggalkan istrinya gitu aja." "Oh," komentar Azela singkat, membuat Reyhan mendengkus. Sudah susah menjelaskan panjang lebar, malah mendapatkan respons singkat seperti itu saja. "Gue turut senang, deh, akhirnya keluarga lo rukun," ucap Agil. "Berkat kalian. Thank you, Guys! Gue berhutang budi sama kalian." "Yo. Sama-sama," ucap Azela menyeruput minumannya. "Sering-sering traktir gini aja," ucap Agil, disetujui oleh Azela. "Eh, iya, gue lupa. Orang tua gue juga ngundang kalian nanti malam ke Kafe Katerin buat makan malam." "Wah, makan gratis lagi, dong!" ucap Agil girang. "Oke, gue pasti datang," ucap Azela memberikan jempolnya. "Thank you, Guys!" Reyhan benar-benar bahagia memiliki sahabat seperti Azela dan Agil yang selalu ada untuknya. "Eh, btw, teman baru si Azila itu namanya siapa?" tanya Reyhan menaik-turunkan alisnya. "Napa? Naksir lo?" "Dia cantik, sih." "Ahelah, buaya amat," ucap Azela menyumpal mulut Reyhan dengan donat. "Serius. Namanya siapa?" "Devi. Kalau lo naksir, deketin aja. Dia cewek baik-baik, kok. Keknya juga cocok sama lo. Eh, lebih cocokkan sama Agil, sih, karena sama-sama polos," ucap Azela membuat jantung Agil berdetak kencang. "Haha, gimana, Gil? Gue pepet, sabi kali, ya?" "Y--ya, Rey. Deketin aja," ucap Agil terkesan gugup. Azela melirik Agil singkat. Tidak bisa dibohongi, jika Agil juga suka dengan Devi. Namun, jika Reyhan juga menyukai orang yang sama. Ia harus apa? "Zel, bagi nomor hpnya dong." "Ahelah lo, mulai, deh." "Ayolah." Sepertinya Reyhan gerak duluan. Agil hanya menghela napas pelan. Ia tak akan sanggup berlawanan dengan Reyhan jika masalah cewek. *** Malam pun berganti cepat. Seperti yang dikatakan Reyhan. Orang tuanya mengundang Agil dan Azela untuk makan malam bersama di Kafe Katerin. Azela berpenampilan santai saja seperti biasa. Memakai kaos oblong, dilampisi jaket kulit dan celana jeans. Rambut yang selalu terkucir satu. "Zil, gue pergi dulu, ya." "Eh, Azel mau ke mana?" "Keluar sebentar," ucap Azela yang sudah menghilang dari balik pintu. "Ya udah, deh, gue telepon Devi aja," ucap Azila. Azela lalu berjalan ke rumah Reyhan. Agil sudah sampai duluan. Mereka memang pergi bersama mobil orang tua Reyhan langsung ke kafe itu. "Sudah siap semuanya?" tanya Feri yang mengendarai mobil. "Sudah," jawab ketiga sahabat yang duduk di belakang itu. "Yuk, meluncur!" *** Setelah sampai sana. Seperti ekspetasi mereka, pasti kafe itu ramai, apalagi saat malam ini. Suasananya lebih asyik, karena Kafe itu berada di pinggiran jalan kota. "Ayo, dimakan anak-anak," ucap Vava bersemangat. "Makasih, Tante," ucap Azela dan Agil serentak. "Ah, harusnya Tante tau yang bilang makasih ke kalian, karena udah bantuin keluarga Tante." "Hehe, jangan sungkan, Tan," ucap Agil. "Zel, lo masih aja kucir rambut," ucap Reyhan yang duduk di sebelah Azela. "Kenapa, masalah?" "Sekali-kali, buka, dong kucir rambut lo." "Nggak mau, ah. Entar malah mirip Azila." "Tapi lo lebih cantik tau, Zel, kalau dandan daripada Azila," timpal Agil. "Dih, apaan, sih, kalian muji-muji gue?" Mereka pun terkekeh. Vava dan Feri pun tersenyum menatap Reyhan asyik bersama sahabatnya itu. "Abisin dulu makannya, baru main, ya," ucap Feri. "Siap, Om!" jawab Agil paling keras. Setelah selesai menghabiskan makanan. Mereka pun mengobrol singkat. Azela memilih memainkan HP-nya, sedangkan Reyhan dan Agil sibuk membicarakan Devi. Lebih tepatnya Reyhan menceritakan aksinya mendekati Devi pada Agil. "Terus pas gue telepon dia langsung matiin HP-nya. Lucu banget. Haha ...." Reyhan tampak bahagia menceritakan tingkah Devi. Agil pun ikut bahagia mendengarkannya, walaupun ia sudah kehilangan harapan untuk mendekati Devi. Sudah pasti Devi lebih memilih Reyhan daripadanya, 'kan? Mata Reyhan lalu beralih mengode Agil untuk menjaili Azela. Agil pun mengangguk setuju. "Dilepas dong, Zel!" ucap Reyhan menarik ikat rambut Azela cepat membuat rambut panjang Azela langsung tergerai. "Ih, apaan, sih!" kaget Azela. Reyhan lalu melempar ikat rambut Azela ke arah Agil. Lalu, Agil pun menyimpan di dalam sakunya. "Dih, kalian kek anak kecil, deh!" kesal Azela. "Sekali-kali, Zel. Lo tuh cewek, coba berpenampilan kayak cewek, dong," ucap Reyhan. "Wah, Azela, rambut kamu panjang juga, ya," komentar Vava. Pipi Azela bersemu merah. Ia sangat malu, Azela pun hendak menggulung rambutnya. "Jangan digulung, Sayang. Udah, biarin aja. Permintaan Tante, ya, gerai aja rambutnya." "O--oke, Tante." Vava malah mendukung kejailan anaknya. Terpaksa Azela hanya bisa pasrah. "Eum, gue ke toilet dulu," ucap Azela. "Awas lo nyari karet gelang, ya," ucap Agil. "Nggak, orang beneran kebelet." "Ya udah sono! Perlu ditemenin?" goda Reyhan. "Ogah." Azela pun bangkit, ia juga berpamitan sebentar pada Vava dan Feri. Setelah itu, Azela melangkah menuju toilet. Ia segera melihat dirinya di cermin. "Ih, gara-gara Reyhan dan Agil, nih!" Azela merapikan rambutnya yang berantakan. Ia membentuk tatanan rambutnya yang mirip dengan Azila. Ternyata mereka memang kembar seiras, jika sudah begini, ia sangat mirip dengan Azila. Hanya saja Azela tak memakai make up. "Malah beneran kayak Azila, woylah!" Azela terkekeh pelan. "Gapapalah, jadi Azila lebih baik dari seorang Azela berpenampilan kayak gini. So, anggap aja gue Azila sekarang. Haha ...." Azela pun keluar dari toilet itu, saat baru keluar ia tak sengaja menabrak seseorang. Azela mengaduh pelan. "Ma-maaf, gue nggak sengaja." Azela mendengkus pelan. Bersiap memaki orang yang telah menabraknya, Akan tetapi .... "Loh, Azila?" Mata Azela melebar. Jangan bilang jika yang menabraknya sekarang adalah .... Fatan? "Azila, akhirnya kita ketemu lagi," ucap cowok itu, membuat Azela masih menegang. "Fa--Kak Fatan?" ucap Azela. "Iya, Azila. Ini aku Fatan." Kenapa mereka bertemu lagi? Pada saat Azela berposisi menjadi Azila? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN