Rayhan menggenggam telapak tangan Thalia erat sambil terus menciuminya. Tangisnya tidak berhenti sejak istrinya itu dilarikan ke rumah sakit. Ia tidak bisa berpikir lebih banyak lagi. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Thalia setelah istrinya itu sadar. Rayhan sangat menyesal telah mengabaikan satu hal demi hal lain yang belum tentu lebih berharga. Dan mungkin, tidak berharga sama sekali bagi Thalia. Rayhan terus menyeka air matanya yang terus keluar bahkan sampai jatuh ke lengan Thalia yang sedang ia genggam. “Maaf.” Entah sudah berapa kali, ratus bahkan ribuan kali kata itu Rayhan gumamkan. Tetapi, mungkin kata itu tidak akan pernah cukup untuk mengembalikan semuanya. Apa yang terjadi pada istrinya itu entah akan termaafkan atau tidak. “Ray,” Vania yang baru masuk ke ruang

