Thalia masih belum bertanya apapun pada Rayhan sejak sore itu. Ia memilih bungkam daripada banyak bicara seperti biasanya. Ia memberikan waktu pada suaminya untuk bicara dan menjelaskan sendiri. Tapi apa? Bukan penjelasan yang ia dapatkan, melainkan perubahan sikap suaminya yang drastis. Thalia yang merasakan berat di kepalanya, mencoba bangun dan mencari keberadaan Rayhan yang ia kira tengah mandi. Dengan langkah berat sambil sesekali memijat tengkuknya, Thalia melongokkan kepalanya ke kamar mandi, namun hasilnya nihil. Kamar mandi itu kosong. Ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas untuk melihat jam. 05:45. Masih terlalu pagi untuk orang normal berangkat bekerja. Tetapi, saat itu Rayhan sudah pergi dari rumahnya. Tanpa berpamitan. Thalia lagi-lagi memijat tengkuknya. Kali ini, pe

