Thalia masih bersikap cuek pada Rayhan sampai makan siang selesai dan ia membantu ibunya merapikan bekas makan siangnya. “Sayang,” panggil Rayhan pelan saat Thalia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, lagi-lagi Thalia menulikan pendengarannya saat Rayhan memanggil. Ia tak bergeming sama sekali. Dengan gerakan cepat, Rayhan menarik lengan Thalia yang hendak membuka pintu kamar hingga Thalia menabrak dadanya kemudian Rayhan memeluk erat istrinya. “Ck, lepas. Lia ngantuk!” “Kamu kenapa tadi ngomong kayak gitu sama Ayah Ibu?” tanya Rayhan. “Ngomong apa?” “Bilang pengen punya suami kayak Ayah.” “Oh.” Thalia diam sejenak. “Namanya juga harapan kan gak ada salahnya?” “Tapi kamu punya Mas sekarang, Li. Kamu gak boleh mengharapkan laki-laki lain.” Thalia hanya mengembuskan napa

