Byantara baru hari itu kembali menginjakkan kaki di kantor. Aura lelah masih tampak jelas di wajahnya, namun tekadnya justru terasa lebih kuat dari sebelumnya. Begitu melihat sang bos datang, Budi segera masuk ke ruangannya. “Pak Byan… bagaimana keadaan Nyonya?” tanyanya penuh kehati-hatian. Byantara menarik napas dalam sebelum menjawab. “Dia sudah sadar. Masih butuh waktu untuk pemulihan, tapi… setidaknya kondisinya stabil.” Nada suaranya terdengar tenang, namun Budi tahu betul betapa berat hari-hari yang dilewati atasannya itu. Setelah memastikan keadaan Meylin, Budi langsung masuk ke pokok pembicaraan. “Pak, saya juga mau lapor. Kontrak kerja sama kita dengan Dewi akan berakhir dalam waktu dekat.” Wajah Byantara seketika mengeras. Tanpa ragu sedikit pun, ia berkata tegas, “Sud

